Gi-Guh Lawan Kotak Kosong, Menang Atau Zong?

BRM Kusumo Putro Insisiator Gerakan Rakyat Untuk Daerah Kota Surakarta (GARUDA), saat temu wartawan di Solo, Minggu (19/7/2020) warning fenomena kotak kosong di Pilwakot Solo.

JATENGONLINE, SOLO – Rekomendasi pasangan bakal calon Walikota dan Wakil Walikota Solo dari PDI Perjuangan jatuh pada Gibran dan Teguh (Gi-Guh). Secara itung-itungan diatas kertas dipastikan akan memenangkan kontestansi pilkada Solo, 9 Desember mendatang.

Bermodalkan jumlah kursi yang mendominasi di parlemen yakni 30 kursi ditambah dukungan dari partai lain, semakin membuat pasangan PDIP ini berada diatas angin. Praktis tiada lawan. Wacana kotak kosong sebagai lawan tanding pun menjadi ramai diperbincangkan beberapa kalangan.

Kalau benar kotak kosong sebagai lawan tanding pasangan calon tersebut. Maka usai sudah yang namanya demokrasi, yang dibangun selama ini. Lalu seperti apa kondisi terkini politik di Solo, JO bertemu BRM. Kusumo Putro, SH, MH inisiator dari relawan Garuda (Gerakan Rakyat Untuk Daerah Kota Surakarta), usai jumpa pers dengan awak media. Minggu (19/7/2020).

“Lawan kotak kosong bukan solusi, jangan sampai kotak kosong ini menjadi simbol perjuangan dan sarana unutuk menjadi tujuan mencari kebenaran dan keadilan,” kata Kusumo, mengawali pembicaraan.

Karena akan mencederai demokrasi, lanjutnya, ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi melihat perkembangan politik yang ada. Namun semua kemungkinan tersebut hanya akan bermuara kepada kondisi demokrasi yang pincang.

“Bahkan bisa menjadi preseden buruk bagi iklim demokrasi di kota Surakarta,” terangnya

Adanya indikasi pasangan Gi-Guh bakalan melawan kotak kosong, berkembang di masyarakat, relawan Garuda pun menerima informasi-informasi semacam itu di lapangan. Para komunitas relawan pun menghendaki agar dirinya menyampaikan itu ke publik.

Sementara pasangan Bagyo Wahyono – FX Supardjo (Bajo) kandidat kedua yang memiliki potensi untuk maju dalam Pilwalkot Solo 2020 tak banyak memiliki peluang untuk lolos verifikasi. Karena syarat dukungannya kurang dan harus dilengkapi sampai pekan terakhir Juli.

Hanya Partai PKS (Partai Keadilan Sejahtera), yang sampai saat ini belum merapat atau menyatakan sikap dukungan kepada pasangan Gi-Guh. Meskipun faktanya, PKS-lah yang pertama kali dulu mencantumkan nama Gibran sebagai bakal calon walikota Surakarta. Yang dulu sempat ramai diduetkan dengan Abdul Ghofar dalam bursa penjaringan internal partainya.

Namun melihat kultur perbedaan ideologis antara PKS dan PDI Perjuangan, memang sangat janggal jika sekarang PKS dengan iklas merapat ke kubu pasangan Gi-Guh kembali. Karena pasangan Gi-Guh diusung oleh PDIP, yang garis perjuangannya sangat kental dengan ruh Nasionalisme. Sementara PKS sangat kental dengan ruh agama.

Pasangan Gi-Guh, setelah mendapat rekomendasi resmi dari DPP PDIP, kini sudah resmi didukung oleh 5 partai di DPRD Surakarta dengan total 40 kursi. Yaitu Partai PDIP, PAN, Golkar, Gerindra, serta PSI.

Sementara PKS yang belum menyatakan dukungan hanya memiliki 5 kursi. Meskipun sulit untuk mengusung calon sendiri. Namun PKS dapat memainkan perannya untuk kemenangan kotak kosong dengan bermain elegan dan cantik. Peraturan mensyaratkan setidaknya butuh total 9 kursi, untuk bisa mencalonkan jagonya sendiri.

Untuk melobi dan berkoalisi dengan partai lain, hampir tidak ada lagi waktu, dan partai lain cari posisi aman, dengan merapat ke kubu Gi-Guh.

Menurut Kusumo, ada dua pilihan bagi PKS, yakni merapat ke kubu GI-GUH. Atau merapatkan barisan ikut mendukung kubu independen. Atau pilihan alternatif, adalah vakum. Dan pilihan terakhir tersebut tentu merupakan pilihan sangat buruk bagi sebuah partai. Dimana partai merupakan representasi dari wakil rakyat yang mendukungnya.

Sementara jika menengok pasangan calon dari kubu independent (Non Partai) juga masih jauh dari bayangan. Saat ini, pasangan calon dari independen masih berjuang keras. Bahkan terseok-seok untuk bisa mendapat verifikasi atau pengesahan dari KPU. Maklum syarat verifikasi, harus mengantongi serta menyerahkan bukti dukungan. Bukti itu sekitar 7-10 % dari jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang ada di Kota Surakarta. DPT di Surakarta untuk Pilkada 2020 saat ini sekitar 450 ribu suara.

Dari pantauan di lapangan, masih banyak daftar dukungan yang digalang dari kubu independen diduga tidak valid. Masih banyak warga yang merasa datanya (nama dan identitas KTP-nya), tiba-tiba masuk dalam daftar dukungan pihak independen tersebut. faktanya mereka mengaku, tidak pernah mendapat konfirmasi dulu dari tim atau pihak independen yang dimaksud.

“Jadi melihat perkembangan yang terjadi, sepertinya masih jauh kemungkinan pihak independen mendapat verifikasi. Atau bisa mencalonkan pasangan wali dan wawali sendiri,” paparnya.

Atau jika menduga-duga, mungkin saja akan ada settingan politik. Bisa saja kubu independen akan dibantu oleh kubu partai yang mapan, sehingga bisa segera mendapat verifikasi. Dengan demikian, demokrasi tetap bisa berjalan sempurna, karena tak ada kotak kosong. Meskipun semarak demokrasi, gregetnya menjadi berkurang, alias tidak bergairah lagi. Karena pasangan independen yang dibantu tentu akan meneken deal-deal politik yang harus diterima. Dan proses demokrasi tentu hanya dinilai sebagai demokrasi semu oleh rakyat.

Jika kubu independen tetap konsisten (mandiri), butuh perjuangan berat untuk bisa terverifikasi KPU. Sehingga prediksi yang mungkin, tentu akan terjadi kondisi dimana pasangan Gi-Guh akan melawan kotak kosong. Sesuai dengan UU KPU Tahun 2016 tentang Pilkada, pasangan tunggal wajib bertanding dengan kotak kosong dalam perhelatan pilkada. Hal itu dianggap sebagai simbol demokrasi yang tidak mati. Meskipun jika benar terjadi, tentu akan mengorbankan cost yang notabene milik rakyat secara sia-sia.

Karena dengan posisi melawan kotak kosong, sesuai peta kekuatan pasangan Gi-Guh, tentu akan meraih kemenangan. Namun bisa juga akan menjadi bumerang, jika ternyata justru kotak kosong yang menang. Hal tersebut jelas menjadi sebuah contoh demokrasi yang buruk. Dan tentu saja menghabiskan biaya lebih besar. Alias pemborosan, karena perhelatan pilkada akan diulang-ulang.

“Prediksi kotak kosong mungkin saja akan menang, mungkin benar-benar bisa terjadi, mengingat kultur politik warga Surakarta yang sangat unik,” jelasnya.

Warga Surakarta atau Solo dikenal sebagai warga yang berkarakter unik, cerdas, militan, sekaligus tidak gampang diatur oleh penguasa. Itulah mengapa banyak pihak sering menyebut bahwa Solo sebagai baromater politik Nasional bersaing dengan Jakarta.

Satu hal lagi, saat ini tentu ada tembok besar yang menghalangi antara kubu pendukung Purnomo dan Gibran. Karena tidak mungkin secara serta merta, para pendukung Purnomo ikut-ikutan merapat ke kubu Gibran setelah turunnya surat rekomendasi dari DPP PDIP. Mereka tentu akan sulit jika akan merapat ke kubu Gibran yang selama ini sudah dikenal sangat elitis. Bahkan nyaris semua roda penggerak kubu Gibran diisi oleh orang-orang baru, yang notabene selama ini kurang dikenal dalam organisasi atau tubuh DPC PDIP Solo.

Faktanya lagi, mayoritas orang politik atau aktif dalam sikap politik, justru mereka yang masuk dalam golongan non partai. Atau dengan kata lain, merekalah penentu suara politik dalam setiap perhelatan demokrasi. Sementara orang yang berpartai, atau secara resmi mempunyai Kartu Anggota Partai, justru sangat sedikit jumlahnya.

Jadi bisa saja, relawan atau simpatisan yang masuk kategori orang-orang non partai mempunyai sikap politik yang lain dari struktur resmi partai. Karena struktur resmi partai biasanya sangat ngugemi dengan doktrin tegak lurus ikut perintah pimpinan, atau keputusan organisasi.

Masyarakat Solo benar-benar sangat majemuk. Baik dalam orientasi ideologi, agama, ataupun selera politik masing-masing individu. Bisa saja, dalam hitungan detik, tiap individu berbalik haluan dalam sikap dan dukungan politiknya masing-masing.

“Meskipun Solo adalah kandangnya Banteng (PDIP). Namun nyatanya, kekuatan lain pernah mengguncang kota Solo dengan kemenangan kubu Susilo Bambang Yudoyono ( SBY/Demokrat), dalam perhelatan Pemilu beberapa tahun silam,” kata Kusumo.

Secara umum, atau di atas kertas, dengan melawan kotak kosong, pasangan Gi-Guh jelas akan meraih kemenangan dengan mudah. Karena masyarakat pemilih, tidak mendapati alternatif pilihan lain. Namun jika memang ternyata akan menang, sudah menjadi kelumrahan. Akan halnya jika kalah melawan kotak. Justru menjadi bumerang, dan menjadi hal yang sangat memalukan.

Sehingga saat ini memang belum saatnya, pasangan Gi-Guh bisa bernafas lega, selama menunggu detik-detik pilkada bulan Desember 2020 mendatang. Selama belum ada pasangan tandingan, ancaman melawan kotak kosong terus mengintai. Ibarat pepatah Jawa, menang ora kajen, kalah ngisin-isini. Atau menang tidak ksatria, namun jika kalah justru memalukan.

“Jika hanya melawan kotak kosong, mendingan langsung disah-kan saja pelantikannya. Jadi tidak usah menggelar pilkada yang menghabiskan dana rakyat yang begitu besar. Apalagi di masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Uang rakyat jauh lebih berguna diperuntukkan untuk penanggulangan terkait pandemi,” terang tokoh pemuda di Solo ini.

Jumlah pemilih aktif di Kota Solo ini diangka 400.000 orang lebih, dan tidak semuanya masuk ke kepartaian atau kader partai. Sehingga apablia Giguh dilawan kotak kosong ada dua kemungkinan, menang atau kalah.

Relawan Garuda dan Relawan 52 Elemen Belum Bersikap
Sikap relawan Garuda, beserta 52 elemen lain yang tetap setia mendukung Purnomo sebagai calon walikota Solo, saat ini masih netral. Jadi belum mengeluarkan pernyataan sikap apapun terkait perkembangan politik pilkada yang ada. Hal ini karena, relawan Garuda memang tidak mempunyai struktur organisasi seperti kepengurusan ketua atau anggota. Sehingga masih menunggu sikap dari semua kepala suku-kepala suku yang tersebar di lima kecamatan se-wilayah Surakarta.

Jangan remehkan Ahmad Purnomo, dia politisi senior PDIP Solo yang punya basis akar rumput. Kekecewaan Purnomo bisa jadi kekecewaan pendukungnya. Relawan Garuda merupakan sekumpulan warga yang dengan sadar mempunyai pandangan, atau sikap politik yang sama. Yaitu ingin mewujudkan pemimpin kota Solo yang benar-benar merakyat dan tepat.

Dan Purnomo adalah salah satu sosok yang diidolakannya. Setidaknya merupakan sosok yang dianggap paling layak untuk memimpin kota Solo dalam beberapa tahun ke depan. Sehingga saat ini, belum bisa dengan serta merta bisa mengeluarkan sikap politik begitu saja.

“Relawan Garuda, beserta relawan 52 elemen lain, masih menunggu perkembangan,” tegas Kusumo. Perlawanan konstitusional para perindu keadilan semoga dapat mencegah tampilnya pemimpin asal-asalan. Sejumlah partai pemilik suara di legislatif agar berani memunculkan figur untuk melawan hegemoni PDI Perjuangan, jika tidak menghendaki sistem demokrasi di Kota Bengawan mati. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *