Nilai Karakter “Anak Polah Bapa Kepradah”

Ditulis : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

Anak polah bapa kepradah adalah sebuah peribahasa dalam Bahasa Jawa. Kata polah berarti tingkah laku, sedangkan arti kepradah adalah menanggung malu. Jika keduanya disusun menjadi satu kalimat maka menjadi anak polah bapa kepradah artinya seorang ayah menanggung malu karena perbuatan yang telah dilakukan oleh anak kandungnya sendiri. Atau yang biasa disampaikan oleh banyak orang adalah tingkah polah anak, orang tua akan menanggung akibatnya.

Masyarakat Jawa memiliki prinsip hidup menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang bersifst universal. Nilai-nilai luhur yang berkembang hingga saat ini adalah kata-kata bijak seperti “Anak Polah Bapa Kepradah”, karena berisi petuah-petuah/ nasehat hidup manusia untuk menjalani kehidupan agar lebih baik. Dalam peribahasa ini mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh seorang anak, orang tua akan kena getahnya, barangkali memang benar adanya. Tingkah laku anak mempunyai imbas bagi orang tua. Tingkah laku anak yang buruk orang tua ikut terdampak buruk, begitu juga sebaliknya, jika perilaku anak baik maka orang tua pun ikut terdampak baik.

Sifat atau karakter budi pekerti yang luhur diusahakan dan dibina. Masyarakat Jawa yang dulu sebagai masyarakat yang ramah, di era modern menjadi sangat berkurang bahkan ada yang sudah hilang sama sekali. Inilah yang membuat penulis merasa prihatin dan menumpahkan dengan ungkapan dalam sebuah tulisan.

Anak polah bapa kepradah memiliki nilai yang luhur sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia khususnya msyarakat Jawa. Bangsa bermoral adalah bangsa yang menghargai dari nilai-nilai bangsanya sendiri. Peribahasa ini dapat dijadikan sebagi kiblat manusia menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi sosok panutan bagi anak dan keturunan sehingga akan terselamatkan anak dan cucu bagi kehidupan yang semakin hilang budayanya.

Kita hampir setiap hari disuguhi bertita-berita seperti itu misalnya narkoba, perselingkuhan, merebut suami/istri orang, tawuran antar pelajar, wanita hamil tanpa nikah, pencurian dengan pembunuhan, dan sebagainya yang ujung-ujungnya orang tualah yang menaggung malu dan bahkan menanggung kerugian materi yang tidak sedikit. Banyak yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalimat itu tersirat makna bahwa kebiasaan orang tua biasanya ter-copy kepada diri anaknya.

Intinya jangan menyalahkan anaknya kalau dia berulah, karena jangan-jangan orang tuanyalah yang mengajarinya meskipun dia tidak secara sadar. Dengan demikian akhirnya menjadi jelas bahwa ulah dari orang tua akan menjadikan anak juga berulah. Selanjutnya dari ulah sang anak itulah menjadikan sang orang tua yang menuai malunya. Pertanyaannya adalah siapa yang salah ? Nah, setelah terjadi seperti ini, sebelum terlambat marilah kita selalu memperbaiki diri sendiri. Karena pendidikan anak selalu dimulai dari pendidikan dalam keluarga artinya dari orang tua sendiri. Sekaranglah saatnya untuk memperbaiki diri.

Secara spiritual anak memang bukanlah milik kita, itu titipan dari Tuhan. Dalam bahasa Kahlil Gibran, anak itu bak anak panah. Artinya orang tua hanya merentang busur, mengarahkan pada yang diinginkan. Ketika anak panah lepas dari busur, di situlah takdir sedang berproses. Dapat dilihat apakah tepat seperti dengan keinginan orang tua ataukah melenceng jauh dari sasaran.

Dengan seperti ini kita mengambil hikmahnya yaitu jika orang tua semasa anaknya masih hidup telah memberikan pengertian baik tentang makna hidup, syukurilah takdir yang seperti itu. Tetapi jika semasa titipan Tuhan itu belum diambil / meninggal, maka orang tua yang bersangkutan belum memberikan pengertian yang layak tentang hidup, maka ini saatnya untuk menyadarkan para orang tua yang lain agar memberi bekal yang memadai bagi anak-anaknya.

Saat ini zamannya memang membuat orang tua dan anak-anak ada dipersimpangan jalan. Anak-anak lebih hebat dari orang tuanya, terbukti dengan kemajuan telah membuka segalanya yang boleh dan tidak boleh. Anak-anak dengan karakter bawaannya yang ingin tahu dan akhirnya serba tahu dalam segalanya telah membawanya pada pengalaman-pengalaman baru dan pemahaman baru juga.

Ketika jamannya berubah,saking banyaknya orang tua yang tidak bisa memberi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Korupsi ditempat kerja, selingkuh dengan teman sekantor, berfoya-foya dari rezeki yang tidak jelas, , dan bahkan tidak pernah memberi bekal etika agar menyemaikan kemanusiannya sebagai manusia adalah contoh yang lama tidak diteladankan oleh orang tua.

Dengan hilangnya keteladanan itu maka generasi penerusnya akhirnya menjadi brutal. Mereka kurang bekal dari rumah (orang tua) dan terlalu banyak mendapat bekal dari luar yang tidak punya sensor untuk menyaring teladan dari dunia antah berantah. Bahkan bisa disimpulkan bahwa guru yang digugu (dipercaya) dan ditiru (dicontoh) berasal dari dunia maya. Untuk itu alangkah baiknya untuk menciptakan surga di rumah adalah degan menyikapi dunia yang sudah dikuasai oleh teknologi. Mencari dunia yang realistis nyaman, tenang dan teduh. Bukan dunia impian yang serba instan dan indah. Karena kalau tanpa itu maka anak-anak akan kehilangan pegangan yaitu kehilangan orang tua, keluarga yang mengayomi dan menyayangi.

Penulis merasa miris ketika ada seorang anak kecil yang menceritakan bahwa hape ayahnya terdapat gambar perempuan yang tanpa sehelai benang alias bugil. Padahal gambar itu bukan gambar istrinya ( ibu dari si anak ). Jujur saja, penulis merasa sangat kaget dan bingung ketika anak itu menanyakan, kira-kira siapakah dia? Artinya si anak kan menjadi tambah berfikir dengan hal yang belum saatnya bagi si kecil. Dalam hati menangis tersedu-sedu, anak sekecil itu melihat gambar sevulgar itu, sedangkan sehari-harinya menggunakan jilbab. Dan lebih miris lagi sang ayah juga sering kali mengajarkan agama dengan si anak.

Tragisnya ketika si anak bertanya kepada ayahnya, jawaban yang diterima adalah kata “tidak tahu”. Kemungkinan besar gambar itu sengaja disimpan oleh ayahnya. Entah si ayah mendapatkan dari mengunduh di internet atau mendapat kiriman dari temannya. Yang jelas itu bukan masalah yang menjadi pemikiran penulis.

Yang bisa disimpulkan dari cerita si gadis kecil bahwa kelalaian orang tua merupakan bencana bagi sang anak. Yang dilakukan anak, bukanlah suatu dosa atau kesalahan. Andakata ada hokum yang mengatur maka orang tuanyalah yang pertama kali harus dihukum. Orang tuanyalah yang harus bertanggungjawab baik secara moral, social dan agama. Karena orang tua seperti itu merupakan orang tua yang tidak bisa melindungi anaknya dan tidak bisa melindungi perkembangan anaknya.

Seumur hidupnya si anak akan berdampak secara psikologis yang harus dialami anak, akan terekam dan menancap kuat dalam memeori otaknya. Anak merupakan individu yang sedang belajar untuk menguasai tingkatan perkembangan yang lebih tinggi seperti dalam hal gerakan fisik, berfikir, perasaan serta interaksi dengan lingkungan.

Dengan demikian bisa dikatakan sebagai masa perubahan perilaku dari yang belum matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks dan dari ketergantungan pada orang lain menjadi mandiri. Orang tua juga harus bisa memahami tahap-tahap perkembangan anak karena hal ini berkaitan dengan pola asuh dan hasil penerapannya pada anak.

Perkembangan moral anak berkaitan dengan kemampuannya memahami aturan norma dan etika yang berlaku ( Suyanto, 2005 ). Apa yang dilihat di masa kecilnya akan tertanam lama dalam ingatannya. Hal itu akan mempengaruhi perkembangan moralnya di masa depan. Anak belajar tentang moral, etika, aturan dan norma dari orang-orang di sekitarnya, terutama orang tuanya sebagai figure teladan utamanya. Contoh misalnya ketika ia melihat orang tuanya melakukan suatu tindakan tertentu, meski hal itu melanggar moral atau agama, ia tetap akan menjadikan hal itu sebagai pengetahuan dan teladan.

Artinya, ketika orang lain terutama orang tua melakukan sesuatu maka ia akan mengartikan bahwa ia pun boleh melakukannya. Nah kalau melihat contoh seorang ayah menyimpan gambar yang vulgar, maka ia pun akan menyimpulkan bahwa boleh melakukannya.

Literasi media yang seharusnya tidak hanya diartikan sebagai kemampuan menggunakan media, misalnya media informasi seperti gawai, internet tetapi juga kemampuan mengunduh, menyaring, menyimpan dan menggunakan informasi secara bijak. Gambar yang vulgar atau mungkin video porno, bila dipandang sebagai hiburan bagi sebagian diantaranya, silahkan. Namun jangan lupa setelah nonton segera hapus, karena bila terjadi seperti gambar tersebut, jelas itu kecerobohan orang tuanya yang menyimpan dalam hapenya, sedangkan hape tersebut biasa digunakan anaknya.

Sebagai sebuah pelajaran berharga walaupun sangat menyedihkan, untuk itu marilah kita jaga anak-anak kita dari kehancuran moral di hari akhir dengan menjaga diri kita terlebih dahulu. Penggalan Al Qur’an Surat At Tahrim ayat 6 “Quu anfusakum wa ahliikum naaraw” semestinya sudah familiar di telinga seluruh muslimin dan muslimah. Yang artinya peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Apabila selama ini kita telah salah langkah, marilah kita segera memperbaiki diri sambil memohon ampunan pada Allah dan memohon perlindungan untuk anak-anak kita semua. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *