Heningnya Properti Dipandemi

Oleh : Anthony A.H. Prasetyo ( Kandidat Ketua REI Jateng 2020-2023 )

Tren pasar properti mulai menunjukkan peningkatan di tahun 2019. Setelah sebelumnya tahun 2018 lalu merupakan puncak dari lesunya sektor properti semenjak 2013-2014, tahun 2020 ini menjadi kendala kembali karena adanya pandemi Covid-19. Pasar kembali terpuruk.

Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk memutus penyebaran virus telah membuat banyak kantor tutup dan banyak kegiatan yang harus dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan teknologi online dan banyak hal lainnya yang berubah untuk menyesuaikan dengan penerapan PSBB.

Pendanaan masih menjadi kendala banyak orang dalam memiliki rumah, terutama bagi pekerja di sektor informal yang umumnya tidak bankable atau bisa mendapatkan pinjaman maupun kredit melalui bank lantaran penghasilan tiap bulannya yang tidak tetap.

Perbankan hanya memproses akad kredit perumahan rumah yang diajukan oleh para calon pembeli perumahan yang berpenghasilan tetap, seperti ASN, TNI, Polri, dan karyawan BUMN.

Sementara dalam program pemulihan ekonomi nasional, pengembang justru diperlakukan diskriminatif oleh perbankan. Pasalnya, para pengembang mengaku kesulitan menjual unit perumahan yang dibangun.

Belum lagi pengembangan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) saat ini masih mengalami sejumlah hambatan di daerah yakni masalah keterbatasan lahan, regulasi daerah dan pembiyaan.

Sudah lima bulan berlalu memang, tapi nyaris tak bersisa tren pertumbuhan penjualan properti itu, selain meninggalkan polemik dan kendala belaka. Tak ada pesta yang tak usai. Sepertinya kurang afdol jika hanya saling menyalahkan, tanpa harus melakukan perubahan.

Tidak hanya di Solo, Jawa Tengah, Indonesia, saya rasa, mungkin terjadi dimana-mana, diseluruh dunia. Berhentinya pesta, apapun bentuknya, setelahnya adalah ada jeda yang dinamakan hening.

Sebagaimana pepatah Tiongkok kuno “Belajarlah untuk hening, dan engkau akan mengetahui dirimu telah terlalu banyak bicara.Jadilah bajik, dan engkau akan menyadari, bahwa dirimu telah terlalu keras menghakimi orang lain”.

Seiring permintaan properti yang mengalami penurunan drastis akibat wabah pandemi Covid -19 ini. Pengusaha properti perlu hening sejenak Tidak perlu terlalu mengeluh dangan bank-bank BUMN yang seakan bersikap tebang pilih.

Perlu hening sejenak untuk mengatur strategi bisnis supaya usaha bisa berjalan. Ya berjalan saja dulu. Sambil terus berinovasi. Sambil terus melakukan pendekatan pasar. Sekaligus sambil terus mencari pembiayaan yang berpihak pada masyarakat berpenghasilan rendah.

Masih ada secercah harapan, permintaan hunian masih ada meski tak sebesar seperti biasanya. Kondisi saat ini seharusnya dianggap sebagai tantangan bagi pelaku industri properti. Jika pintar mencari celah maka tentu masih bisa bertahan.

Dalam kondisi saat ini, semua pelaku bisnis properti dihadapkan pada sebuah tantangan untuk dapat beradaptasi mengikuti kondisi dunia yang berubah sangat cepat. Kita dipaksa untuk lebih cepat lagi menyesuaikan diri. Menghadapi kenormalan baru.

Dengan kesabaran dan ketenangan dalam mensucikan diri dan menjernihkan pikiran, maka kita dapat menemukan jalan keluar yang terbaik.

Hening pengendalian diri kita dalam menghadapi gempuran-gempuran propaganda nafsu, bahwasanya kita mesti menggunakan akal kita, memanfaatkan pikiran kita untuk selalu merenung, dan berfikir. Sebagai makhluk yang berakal tentunya kita harus memikirkannya, merenungkannya, sehingga kita bisa mendapatkan pelajaran daripadanya, agar kita bisa memperoleh hikmah dan manfaatnya.

Pelaku usaha juga harus selalu berusaha untuk berinovasi khususnya dalam hal kegiatan sales marketing. Misalnya dengan memanfaatkan jaringan media sosial dan kemajuan teknologi informasi dalam memperkenalkan dan memasarkan produk.

Meski dalam situasi pandemi, perusahaan yakin bisa mendapatkan penjualan dengan menargetkan segmen end user atau konsumen akhir yang dipandang tetap membutuhkan rumah. Potensi pasar didominasi oleh sektor informal dibandingkan formal.

Kemudian untuk mempermudah kalangan pekerja informal seperti pkl, pedagang angkringan, tukang baso, tukang cukur, dan pekerja mandiri lainnya yang memiliki kemampuan mencicil tetapi tidak memiliki akses ke perbankan (non bankable), dibuat skema perumahan komunitas. Beberapa pekerja informal yang sama disatukan dalam sebuah kelompok komunitas atau koperasi untuk mendapatkan bantuan perumahan.

Program ini juga bisa di-bundling dengan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau program bedah rumah dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dengan begitu kalangan pekerja informal ini bisa membeli tanah dengan pembiayaan bank dan rumahnya dibangun dengan program bedah rumah dari Kementerian PUPR.

Dengan hanya mencicil tanah kalangan ini menjadi lebih ringan sehingga kemungkinan akan gagal bayar juga relatif kecil yang membuat nilai non performing loan (NPL) bank juga rendah.

Dengan dana APBN yang terbatas untuk alokasi program perumahan, mesti dibuat beberapa terobosan untuk terus bisa memperbesar akses kalangan MBR, khususnya dari kalangan pekerja informal yang jumlahnya justru lebih besar dari pekerja formal.

Skema lain misalnya dengan format sewa-beli untuk kalangan pekerja informal ini. Bisa dibuat semacam joint operator antara perbankan, misalnya Bank BTN sebagai penyalur KPR terbesar, dengan unit-unit usaha mikro di berbagai daerah untuk menjamin anggota para pekerja informal mengakses perumahan.

Skema sewa-beli bisa diterapkan untuk nasabah yang menyewa sebuah rumah untuk periode tertentu dan nantinya rumah tersebut menjadi milik si penyewa. Hal ini untuk menyederhanakan prosedur persyaratan subsidi yang kadang tidak bisa dipenuhi oleh kalanga pekerja informal.

Untuk tingkat suku bunganya bisa dibuat lebih tinggi 1-2 persen dibandingkan program FLPP yang hanya 5 persen sehingga bank juga bisa mendapatkan margin.

Dengan terobosan-terobosan seperti ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas sehingga bukan hanya pekerja informal saja yang bisa menikmati program perumahan pemerintah.

Kalau hanya berkutat pada pekerja formal dan tidak memikirkan pekerja informal, produksi perumahan kita tidak akan pernah lebih dari 200 ribu unit setiap tahunnya. Padahal potensi pasar kita justru dari kalangan pekerja informal ini.

Hidup terlalu singkat untuk melakukan segala macam kesalahan kemudian mengambil pelajaran dari semuanya. Kita tidak hidup sendiri, mengapa tidak belajar dari kesalahan orang lain? Itu juga jika kita tidak cukup bodoh untuk mengulang kesalahan yang telah dilakukan orang lain.

Orang yang selamat adalah orang yang mampu mempelajari keadaan, mampu membaca situasi dan kondisi, menciptakan peluang dan kesempatan sendiri, tanpa harus menunggu kesempatan itu datang menghampiri. Semoga! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *