Bagaimana Menjadi Pemimpin Ber-Etika ?

Oleh: Anthony A.H Prasetyo

Jika kita mendengar kata ini mungkin sebagian dari kita akan akan
langsung berpikir mengenai moral, aturan, dan sebagainya. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etika sendiri didefinisikan
sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak
dan kewajiban moral.

Dalam setiap organisasi maupun perusahaan, disana tentu terdapat yang
namanya struktur organisasi dan kepengurusan. Nah, dengan demikian
tentu terdapat seorang pemimpin yang memiliki tanggungjawab untuk
mengatur dan mengelola perusahaan atau organisasi beserta
bawahan-bawahan yang berada dalam organisasi tersebut.

Pada umumnya, seorang pemimpin dijadikan sebagai panutan atau contoh
bagi bawahan-bawahan atau karyawan-karyawannya dalam bertindak di
dalam organisasi  ataupun perusahaan. Karena bagaimana sikap seorang
pemimpin akan mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan dalam
organisasi.

Oleh sebab itulah, seorang pemimpin memiliki kewajiban-kewajiban moral
yang disebut dengan etika kepemimpinan. Merupakan nilai-nilai yang
harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat dicontoh oleh
bawahan-bawahan.

Etika kepemimpinan adalah sejumlah sifat-sifat utama yang harus
dimiliki oleh seorang pemimpin agar kepemimpinannya dapat berjalan
dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan bersama yang telah
ditentukan sesuai norma dan nilai yang berlaku.

Adapun prinsip-prinsip dalam etika kepemimpinan itu antara lain menjaga perasaan karyawan atau bawahan dan pihak eksternal, memecahkan masalah dengan rendah hati, menghindari pemaksaan kehendak dan menghargai pendapat orang lain, menanggapi suatu masalah dengan cepat dan tepat, menyadari kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki  serta mengedepankan sikap jujur, disiplin, dan dapat dipercaya.

Hal-hal tersebut harus dapat dilakukan oleh seorang pemimpin jika ia ingin
kepemimpinannya berjalan dengan efektif dan dijadikan panutan karyawan atau bawahannya.

Selain prinsip-prinsip di atas, terdapat pula nilai kepemimpinan yang
perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Nilai kepemimpinan tersebut antara lain: integritas dan moralitas, tanggung jawab, visi kepemimpinan, kebijaksanaan, keteladanan, menjaga kehormatan, beriman, kemampuan berkomunikasi dengan karyawan maupun dengan pihak luar (eksternal) serta berkomitmen meningkatkan kualitas SDM.

Selain dari prinsip-prinsip serta nilai-nilai tersebut, masih terdapat beberapa point untuk melaksanakan etika kepemimpinan, antara lain:
menjadi panutan, tepat waktu, peduli terhadap kepentingan dan kesibukan staff, dan masih banyak lagi.

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat menjalankan tugas dan
tanggungjawab dengan baik serta dapat mencapai tujuan bersama dengan
efektif, etika kepemimpinan sangat diperlukan untuk menunjang performa
sebagai seorang pimpinan di sebuah organisasi atau perusahaan.

Nurani Pemimpin yang Mencalonkan Diri
Menjadi pemimpin bisa melalui dicalonkan atau mencalonkan diri, apabila dicalonkan oleh anggota maupun rakyat itu rasanya lebih baik dan akan sesuai dengan posisi seseorang yang diharapkan akan bisa mengayomi dalam segala aspek.

Apabila mencalonkan diri, memang hal ini sah-sah saja asal dapat memenuhi kriteria sebagai calon pemimpin juga ada visi, misi dan tujuan yang murni untuk mengemban amanah yang akan dipegang dan disandangnya dalam beberapa periode, dan kemampuannya juga mumpuni
untuk menduduki posisi sebagai pemimpin dalam hal apapun, organisasi
apapun atau wilayah manapun.

Yang saya lihat di era sekarang, justru pemimpin yang mencalonkan
diri, ada beberapa yang  salah kaprah, niatnya bukan murni untuk
mengayomi lagi namun terindikasi lebih pada ambisi dan kepentingan
pribadi, ingin menjadi wakil suatu badan, pemerintahan atau menjadi
pemimpin hanya sebagai prestige, dan sudah tak heran lagi yaitu ingin
jadi penguasa yang dapat menimbun sebanyak banyak keuntungan demi
kepentingan pribadi dan keluarganya.

Bagaimana Menjadi Pemimpin yang Baik?
Pemimpin yang baik adalah orang yang belajar dari kesalahan, dan tidak
pernah berhenti untuk mempelajari hal yang baru berada di sekitarnya.

Potensi tersebut ada di dalam masing-masing individu, tergantung
bagaimana individu tersebut dapat menggali potensi tersebut sehingga
dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari
attitude, hingga menjadi inspirasi bagi orang lain.

Namun, apakah hanya sebatas itu untuk menjadi seorang pemimpin? Tentu tidak! Teori kepemimpinan situasional akan membawa untuk memahami tentang bagaimana pengembangan suatu organisasi ke arah yang menjadi lebih baik. Tidak hanya kharismatik, seseorang pemimpin dituntut untuk
selalu belajar dan mampu menerapkan beberapa kriteria.

Yakni, menjadi seorang pemimpin itu artinya akan menjadi seseorang
yang akan selalu berinteraksi dengan orang lain dengan berbagai
karakteristik, baik dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan.

Satu penilaian yang paling penting dalam diri seorang pemimpin adalah
tentang etika-nya. Sepintar apapun pemimpin, tetap akan tidak terlihat
sebagai pemimpin yang baik di mata orang lain jika etika-nya selalu
menyimpan dari adab yang berlaku dalam suatu organisasi, mulai dari
kejujuran, perilaku, keberanian hingga responsibilitas.

Pemimpin yang Baik Terbuka untuk Mendengarkan Masukan Orang Lain dan Kritis, Tidak ada orang yang sempurna dalam dunia ini, begitu pula seorang pemimpin. Dalam setiap ide dan gagasan yang dikeluarkannya, pasti memerlukan kritik dan saran dari orang lain. Untuk itulah, harus
selalu terbuka untuk setiap masukan yang diberikan dari orang lain.
Namun, bukan berarti setiap masukan harus diterima dengan mentah-mentah.

Perlu proses yang dilakukan supaya masukan tersebut dapat dijadikan
sebagai bahan yang dapat meningkatkan kualitas dari ide dan gagasan
yang telah dikomunikasikan. Semakin bagus idenya, semakin tinggi
perusahaan memberikan kompensasi.

Pemimpin yang Baik Memiliki Hubungan dengan Orang Lain yang Bersifat
Saling Menguntungkan. Karena, orang lain akan selalu melihat apa
manfaat yang di dapat, entah dalam bentuk materi, ilmu ataupun hal
lainnya. Akan terasa sulit, jika selalu memberikan informasi mengenai
ide dan gagasan kepada orang lain yang hanya akan menguntungkan diri
sendiri.

Pemimpin yang Baik Selalu Belajar dari Lingkungan Sekitar. Menjadi
seorang pemimpin tidak selalu harus memiliki jabatan. Semuanya sanggup
diraih karena mampu membaca lingkungan sekitar dengan baik dan telah
berkomunikasi dengan baik bersama tim sehingga dapat menawarkan solusi terbaik dalam setiap pemecahan masalah.

Semakin terbuka pikiran akan pengetahuan lainnya, semakin mudah
menemukan solusi untuk memecahkan suatu masalah. Kuncinya, jadilah
orang yang aktif dan posisikan diri sebagai “team player” dalam
kelompok tersebut.

Seperti yang sudah pernah disebutkan dalam peneltian yang dilakukan
oleh Center for Creative Leadership dalam “World Leadership Survey“,
bahwa suatu perusahaan ataupun organisasi akan selalu mencari individu
unggul yang kolaboratif dan dapat diandalkan dalam sebuah tim untuk
dijadikan sebagai pemimpin.

Pemimpin yang Baik Memiliki Kecerdasan Emosional yang Tinggi, Unik dan
sedikit orang yang tahu, bahwa menjadi seorang pemimpin bukan hanya
menjadi orang yang paling pintar dalam berbagai bidang di dalam sebuah
perusahaan dan organisasi.

Dalam buku “Leaders Eat Last” pernah disebutkan pemimpin akan
mendapatkan rasa hormat yang lebih tinggi jika mampu mengatur ritme
emosi mereka terhadap bawahan, baik dalam masalah pekerjaan maupun
kehidupan pribadinya.

Teruslah berusaha dan lakukan yang terbaik.Karena, sebenarnya jiwa
kepemimpinan berada dalam diri seluruh individu. Hanya waktu dan
bagaimana mengembangkan potensi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi pemimpin. Hal itu karena
mereka berfikir layak disebut sebagai pemimpin. Anehnya, beberapa yang
lain justru tidak merasa berbakat menjadi pemimpin.

Ambisi menjadi pemimpin bukan berarti seseorang memiliki karakter,
keterampilan, dan keberanian yang diperlukan untuk menjadi pemimpin.
Jika berpikir sebagai pemimpin, namun belum diakui, boleh jadi itu berarti ada masalah. Entah penilaian diri sendiri yang salah, atau orang lain yang tak mengenali bakat yang dimiliki.

Sejumlah alasan seseorang tidak bisa disebut sebagai pemimpin. Seperti, Tidak membuat pencapaian. Karena, pemimpin sejati selalu membuat pencapaian. Mereka pasti merampungkan pekerjaan, dan konsisten dalam mewujudkan harapan. Tanpa pencapaian seseorang tidak bisa disebut pemimpin sejati.

Menghalalkan segala cara, dalam membuat pencapaian, seorang pemimpin
sejati tidak akan menghalalkan cara-cara licik dan tidak terpuji. Ujung dari menghalalkan segala cara. Kecurangan hanya menang di sedikit pertarungan, namun sama sekali kalah dalam peperangan yang sesungguhnya. Cara-cara kotor tidak bisa menjadikan seseorang disebut
sebagai pemimpin sejati.

Tidak punya kepeduliaan, ketidakpedulian adalah karakteristik buruk dalam hal kepemimpinan. Dan seseorang tidak bisa dikatakan sebagai pemimpin sejati jika tidak peduli dengan apa atau siapa yang dipimpin.

Hanya mencari posisi, bukan mengembangkan potensi, pemimpin bukan
hanya bos. Seseorang dikatakan pemimpin jika ia menggerakkan
perubahan, mampu mengembangkan potensi diri dan lingkungan.
Kepemimpinan adalah tentang perhatian terhadap potensi diri sekaligus
orang lain untuk maju.

Memang, kekuasaan selalu dekat dengan kepemimpinan, namun itu bukan
kunci utama menjadi seorang pemimpin sejati.

Tidak menepati janji, kepemimpinan bukan tentang retorika, tapi aksi
nyata. Kepemimpinan memang bisa dilihat dari visi misi seseorang,
namun aksi-aksi nyatalah yang bisa mengantarkannya sebagai figur
pemimpin sejati.

Terlalu mendikte, berhenti mendikte bagaimana seseorang harus bekerja
dan apa yang tidak boleh mereka kerjakan. Seorang pemimpin sejati
tidak akan melakukan ini. Kepemimpinan berarti membantu orang lain
menemukan jalannya sendiri untuk mengerjakan dan menghasilkan sesuatu.

Bertahan pada tradisi lama, status quo adalah momok bagi setiap kepemimpinan. Kepemimpinan tidak akan berarti apa-apa tanpa pemahaman untuk adanya perubahan, sehingga dapat mengawalnya dengan kecakapan yang dimiliki.

Tidak bisa mengembangkan bakat, banyak orang berbakat, namun tidak
menjadi pemimpin dikarenakan mereka tidak menyadari bakat lalu
mengembangkannya. Seorang pemimpin sejati meski tidak terlalu berbakat akan selalu berupaya mengasah bakatnya.

Pemimpin sejati akan mendahulukan “saya” ketika ada problem atau
kegagalan. Sebaliknya, mereka akan mengapresiasi kerja tim ketika
berhasil, dengan menyebutnya sebagai usaha “kita” bersama. Selamat
Berproses!
(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *