KIKTalks, Mengkampanyekan Kekayaan Intelektual Komunal Indonesia

Berbagai kesenian Indonesia pernah diklaim oleh negara asing, misalnya Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayange, dan Tari Pendhet. Di bidang pengobatan tradisional, Indonesia memiliki Jamu yang berasal dari tanaman khas Indonesia.

Pada tahun 2020 ini, ada suatu kasus penggunaan tanaman asal Indonesia sebagai bahan baku komposisi dan bahan larutan kosmetika yang sempat didaftarkan patennya oleh salah satu perusahaan kosmetik Jepang kepada Japan Patent Office yang kemudian dilaksanakan investigasi dan pelaporan oleh atase pertanian Indonesia.

Kekayaan Indonesia yang disebutkan di atas merupakan bagian dari Kekayaan Intelektual Komunal yang dimiliki Indonesia. Kekayaan Intelektual Komunal merupakan kekayaan intelektual yang kepemilikannya bersifat kelompok, merupakan warisan budaya yang menjadi identitas suatu kelompok atau masyarakat. Kekayaan Intelektual Komunal didefinisikan sebagai Kekayaan Intelektual berupa Pengetahuan Tradisional (PT), Ekspresi Budaya Tradisional (EBT), Sumber Daya Genetik (SDG), dan Potensi Indikasi Geografis.

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM melaksanakan talkshow Virtual bertajuk “Unity in Diversity. Harmoni dalam Keberagaman. #CumaPunyaIndonesia” pada 15-16 September 2020.

Selama 2 hari, acara KIK Talks ini disimak melalui platform zoom oleh 1.417 orang, dan disiarkan juga secara langsung melalui kanal-kanal media sosial DJKI Kemenkumham. Rekaman ulang video talkshow dapat diputar kembali di akun Youtube DJKI Kemenkumham, akun instagram @DJKI.Kemenkumham, dan halaman facebook DJKI Indonesia.

Hari pertama KIK Talks dipandu oleh Deddy Corbuzier dengan menghadirkan pembicara Dr.Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) dan Dr. Freddy Harris, ACCS (Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM). Topik yang diangkat pada hari pertama ini adalah pentingnya kepedulian semua pihak atas perlindungan KIK Indonesia, agar pemanfaatannya dapat berdampak pada sosial maupun ekonomi Indonesia.

“Dulu kekayaan kita dipandang hanya dari social lifenya saja, tidak tertangani dengan baik, baru nanti repot ketika sudah diklaim oleh negara lain. Contohnya, reog, rendang, kunyit, bahkan kopi gayo. Kita repot. Untuk perlindungan, harus diregistrasi, karena itu adalah bentuk kepedulian. Kita selalu cerita tentang proteksi, perlindungan. Apa yang mau dilindungi orang nggak didaftarin. Kesadaran akan pendaftaran menjadi penting. Tanpa ada pendaftaran, tidak ada perlindungan yang masif. Daftarin dulu, lihat sisi komersialnya, baru perlindungannya,” ujar Freddy Harris dalam talkshow.

“Pekerjaan paling penting dari KIK ini adalah dokumentasi. Kita kenali dulu kekayaan kita apasih sebenarnya, baru kita bisa ngomong pengembangannya. Indonesia baru mencatat segelintir kekayaan intelektual di Tanah Air, contohnya pada survey di tahun 2018 ada 8.224 jenis kesenian dan pengetahuan tradisionalnya sekitar 700an. Kalau menurut hemat saya, itu baru top of the iceberg saja. Di bawahnya masih banyak, luar biasa kekayaan yang kita memiliki. Belum sifatnya yang tangible seperti cagar budaya.” Hilmar Farid menambahkan.

Dalam mempromosikan kekayaan intelektual ke masyarakat Indonesia sendiri, Hilmar Farid berkata “Setidaknya ada 3 faktor. Pertama adalah media, kita tidak bisa berbicara secara efektif apabila tidak ada media. Kedua adalah pendidikan, apabila tidak diajarkan sedari awal maka akan lewat. Nah semua ini ada syarat, di faktor ketiga, yaitu fokus. Problem dari orang kita (bangsa kita) yang kelewat kaya, tidak tahu mana yang mau diangkat.”

Sementara hari kedua KIK Talks dipandu oleh Stefano Thomy, dengan menghadirkan 2 orang pembicara, yaitu Dra. Dede Mia Yusanti, MLS (Direktur Paten, DTLST, dan RD, Kementerian Hukum dan HAM), dan Wulan Tilaar (Expert, Holistic Beautifier, Direktur Martha Tilaar Spa dan Puspita Martha International Beauty School.

“Paten itu bisa diajukan oleh inventor, perusahaan, maupun organisasi. Kita memang punya kewajiban untuk melestarikan budaya. Jangan sampai punah, hilang tak tau kemana rimbanya. Pencatatan menjadi hal yang penting, karena menjadi salah satu bukti kepemilikan. Namun harapannya memang potensi kita tidak hanya berhenti di pencatatan dan pelestarian, namun bisa jauh pemanfaatan dan pengembangannya hingga dapat berdampak ke aspek ekonomi untuk kepentingan bangsa dan negara,” ujar Dra. Dede Mia Yusanti dalam KIK Talks di hari kedua.

“Kearifan dan kekayaan alam Indonesia adalah anugerah, tapi juga tanggungjawab kita bersama. Setiap dari kita, baik kecil maupun besar, kalau ada niat dan kemauan, bisa mengambil peran dalam tanggung jawab ini. Keep on beautyfing Indonesia dengan apa yang kita miliki,” Wulan Tilaar menambahkan dalam closing statementnya.

Selain talkshow, acara KIK Talks juga disemarakkan dengan adanya tantangan/kompetisi foto untuk masyarakat luas. Selama 6 hari, lebih dari 600 foto terkumpul dari 216 partisipan.

Rangkaian acara KIK Talks ini diselenggarakan dalam rangka diseminasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) ke semua lapisan masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *