Petani Desa Pojok Olah Singkong Jadi Mocaf

OLAH SINGKONG : Pelatihan pembuatan tepung mokaf oleh petani singkong Desa Pojok Kabupaten Boyolalibyang didampingi tim LP2M Unisri di desa setempat, kemarin.

JATENGONLINE, SOLO – Tepung mocaf adalah salah satu produk turunan ketela pohon atau ubi kayu. Belakangan, tepung itu banyak dicari para pelaku usaha, dari UMKM hingga industri. Alasannya, tepung itu tidak mengembang kala di-oven untuk dibuat roti dan rendah kalori sehingga cocok bagi orang yang terkena diabetis.

Berangkat dari situ, LP2M Unisri Surakarta melakukan pendampingan pada para petani di Desa Pojok Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali. Pasalnya, di situ banyak dihasilkan singkong, tapi pengolahan masih sederhana, misalnya dibuat gaplek dan keripik curah tanpa kemasan. Bahkan dijual langsung kiloan setelah dipanen dari tegalan tanpa diolah sehingga tidak ada nilai tambah.

“Pendampingan ini awalnya dari informasi mahasiswa yang KKN di desa ini. Kemudian potensi desa yang ada disampaikan ke kampus dan selanjutnya kita tindaklanjuti,” kata Akhmad Mustofa, Ketua Pusat Studi Pangan dan Kesehatan Masyarakat Unisri.
Sejumlah program telah dilaksanakan dan diagendakan tim LP2M Unisri untuk pendampingan bagi petani singkong itu di Desa Pojok. Seperti, pelatihan pembuatan keripik ketela pohon modern dengan berbagai rasa serta cara pengemasan yang cantik agar menarik. Tidak lupa dan lebih penting adalah pelatihan pembuatan tepung mokaf.

Selain pelatihan, tim LP2M Unisri juga menyerahkan bantuan paket peralatan pembuatan keripik singkong dan pembuatan tepung mokaf. “Kami juga mengupayakan akses pemasaran dan penjualan,” kata dosen Fakultas Teknologi Pangan itu.

Kepala Desa Pojok Fitriyanto mengapresiasi pendampingan yang dilakukan LP2M Unisri. Pihaknya berharap, adanya pelatihan tersebut diharapkan dapat mendorong petani untuk lebih maju lagi. Yaitu tidak hanya menjual hasil bumi dalam bentuk mentah tetapi sudah memprosesnya terlebih dahulu sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Dengan begitu, kesejahteraan petaani singkong bisa meningkat pula,” kata kades. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *