Petani Riwayatmu Kini, Mati Karena Monopoli ?

Oleh: BRM.Kusumo Putro SH, MH.

Jangan Pernah Biarkan Petani Kita Mati Karena Monopoli !

JATENGONLINE, SOLO – Tak pernah terbayangkan, bangun pagi pulang sore hari, hidup sederhana dengan caranya, pikiran dan hatinya bersih dan nggak pernah neko-neko, selalu bersahabat dengan alam sembari merawat tanaman padi miliknya hingga saat panen tiba, dialah petani kita.

Pilhan jalan hidup dan profesi yang di jalani, meskipun tidak menentu hasil yang didapatkan dari penjualan hasil panennya, karena selalu kalah dengan mereka para pengatur harga.

Dalam sejarah bangsa ini para petani kita tidak memiliki ‘bergaining’ serta kekuatan tawar meskipun itu hasil panenannya sendiri, yang dihasilkan dari bermandikan keringat, yang kadang jika kurang beruntung tidak ada hasil yang dipanen karena serangan hama ataupun banjir.

Petani kita hanya bisa pasrah, bahkan terkadang harus dipaksa rela untuk merugi dan tidak mendapatkan keuntungan sepeserpun, jerih payahnya semakin tak seberapa. Karena bukan hasil panen yang baik menjadi patokan. Yah, semua tergantung pada jaringan penentu dan monopoli pasar, mulai dari si pengatur harga dan para kartel penguasa pupuk, bibit, obat-obat pembasmi hama serta gabah dan beras hasil tanaman padinya. Nggrantes memang!

Pemangku kebijakan saja tidak kuasa merubahnya, apalagi petani kita yang tidak bisa berbuat apa-apa, mereka adalah pribadi-pribadi yang lemah dan hanya pasrah, nrima, yang tidak pernah memiliki pikiran untuk melakukan ‘mbalelo’ terlebih memberontak sama sekali tidak, karena mereka terlalu cinta pada negeri ini.

Hingga detik inipun tak pernah kita dengar petani kita melakukan demo, meskipun diakui hatinya menjerit, sembari ‘ngelus dada’ dan hanya mampu berharap semuanya segera berlalu.

Meskipun kita tahu benar, jika selama ini belum ada yang sungguh-sungguh membela hak-hak mereka, kenapa tidak ada yang berteriak lantang ketika bibit padi, pupuk dan obat pembasmi hama harganya tak terbeli oleh petani kita ? Selangit dan Menjulang Tinggi ?

Lalu, ketika harga gabah terjun bebas tak terkendali, hingga jerih payah petani kita tak ‘dihargai’. Kemana mereka para pejuang kemanusiaan, para pejuang pangan dan para aktivis, kemana mereka ?

Akankan negeri yang ‘gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja’ dengan terik sinar matahari terlama dan curah air hujan terbanyak di dunia sehingga negeri ini mendapat julukan tanah paling subur diseluruh dunia ini.

Pelahan tapi pasti, maka akan kehilangan rohnya sebagai negara agraris penghasil padi dengan kwalitas terbaik didunia disebabkan ‘telah’ kehilangan petani dan sawahnya. Sementara rakyat negeri ini hidupnya tergantung dari nasi hasil dari bulir padi yang ditanamnya.

Semoga energi pemerintah kita juga tercurah kepada para petani kita, dengan membuka akses dan memberikan segala kemudahan, mulai dari bantuan bibit, pupuk, obat-obatan pembasmi hama cara gratis. Kalaupun harus beli, maka dijual harga yang murah dan sangat terjangkau demi kesejahteraan petani kita dan harga gabah hasil kerja keras mereka mendapatkan harga tinggi yang lebih pantas dan menguntungkan mereka.

Dan pemerintah harus segera bertindak untuk membasmi para mafia pupuk, bibit padi serta obat-obatan pembasmi hama serta mafia disektor pangan khususnya gabah dan beras hasil panen para petani kita, yang kini terus bergelantung membayanginya. Segera realisasikan dan mendapat respon positif dari negara dan pemerintah kita. Tahun baru semangat baru. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *