Solusi Pengusaha Hotel Tak Hanya Surviving Tapi Harus Growing

JATENGONLINE, SOLO – Selain hotel yang cenderung kosong, restoran juga masih sepi pengunjung selama Covid-19 merebak. Bahkan ada survei terbaru yang menjadi bukti nyata bahwa restoran menjadi sektor yang sangat sengsara akibat pembatasan mobilitas publik ini. Bahkan ketika pelonggaran dilakukan pun restoran tetap saja babak belur.

Pelaku usaha restoran membuka data yang cukup membuat miris. Hampir setahun pandemi Covid-19, sudah ada ribuan restoran yang gulung tikar di sejumlah daerah. Bahkan, berdasarkan data PHRI, lebih banyak restoran yang menutup secara permanen dibandingkan sementara.

Seiring berjalannya waktu, pengusaha restoran pun dikabarkan banyak yang memilih tutup total, dari yang sebelumnya hanya tutup sementara. Maklum karena sudah kepalang tanggung, cashflow mereka hancur berantakan dan kalaupun buka pendapatannya tidak pasti sementara ongkos sewa tempat, listrik hingga karyawan sudah pasti dikeluarkan.

Kini tahun telah berganti, memasuki di tahun 2021 akan kah menjadi babak baru di industri ini? atau malah justru satu persatu gulung tikar? sementara pandemi belum juga ada kejelasan kapan usai, meskipun vaksinasi disejumlah daerah memberi sedikit kelonggaran bernafas, berharap Covid-19 bisa dihalau.

Selain berpikir positif melakukan inovasi produk menjadi langkah optimis yang harus dilakukan selain mencipta formula-formula baru menembus pasar diantara jaringan market yang cenderung lesu.

Adalah Azana Hotels and Resorts, sebuah jejaring pengelola bisnis hotel di tanah air yang hingga kini tetap optimis dan eksis melalui sejumlah terobosan mulai dari bertahan, berinovasi bahkan hingga mampu mendulang benefit bagi investor yang mempercayainya, diantara pelaku sektor yang sama yang hanya ‘mengeluh’ sepi dan terpuruk

Founder & CEO Azana Hotels & Resorts, Dicky Sumarsono mengatakan, bahwa peluang bagi Azana masih terbuka luas, karena masih akan terjadi pertumbuhan, terutama dipicu oleh seberapa atraktif potensi objek wisata. Mulai dari obyek wisata alam, budaya, spiritual, konferensi, dan lain-lain serta kemudahan akses transportasinya.

“Azana perlu dukungan unsur lain dalam ekosistem pariwisata, mengingat perhotelan merupakan industri yang juga memiliki persaingan. Dalam hal ini, political will pemerintah daerah untuk mengelola potensi wisata menjadi sangat esensial,” kata Dicky, kemarin.

Tentu saja bukan hanya sebatas unsur diatas, Azana memiliki peluang untuk berkembang di berbagai daerah. Dengan memenuhi unsur SDM secara lokal. Selain mendapatkan pasokan SDM yang berkualitas, Azana punya sekolah tersendiri yang mampu memasok kebutuhan SDM di grupnya yang tumbuh pesat.

Dan dalam “Menavigasi Momentum Kembalinya Bisnis Hotel Tahun 2021 DI Lanskap Bisnis Yang Baru” ada sejumlah strategi yang dilakukan Azana dengan inventarisir kondisi sektor pariwisata dan perhotelan menghadapi lanskap bisnis baru di tahun 2021. Bisa dilihat dari fase perjalanan bisnis hotel mulai Januari – Desember 2021 (Storming, Surfing, Envolving, Returning)

“Peluang bisnis hotel di tahun 2021 seperti apa, lalu bagaimana memanfaatkan momentum yang ada. Seperti apa perubahan perilaku customer tahun ini dan apakah bersifat permanen atau sementara,” ujar Dicky.

Kemudian shifting pada customer journey, dan perlu diketahui bahwa daya tarik wisata yang terkoneksi dengan bisnis hotel tidak sama seperti sebelum pandemi. Bagaimana menghidupkan mesin pertumbuhan di bisnis hotel saat ini, lalu seperti apa optimisme masyarakat terhadap dunia usaha setelah dimulainya vaksinasi.

“Solusi bagi seluruh pengusaha hotel yang tidak hanya surviving tapi harus growing,” pungkas Dicky optimis. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *