Wow, Azana Group Solid Meng’Orkestra’ Manajemen

Strategi Azana Group “Menavigasi Momentum Kembalinya Bisnis Hotel Tahun 2021 di Lanskap Bisnis Yang Baru”

JATENGONLINE, SOLO – Dimulainya vaksinasi di Indonesia membuat kepercayaan masyarakat terhadap dunia usaha mulai meningkat sehingga saat ini siapapun yang bisa melihat, membaca perubahan lebih cepat, memanfaatkan momentum dan bergerak terus maka dia yang akan dapat lebih banyak. Hotel Indonesia Outlook 2021 menjelaskan krisis ekonomi yang diakibatkan oleh COVID-19 berdampak pada kondisi keuangan keluarga dan pribadi.

Riset yang dilakukan oleh Inventure-Alvara pada 1121, masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia mayoritas merespon bahwa pendapatan mereka berkurang selama pandemi, namun di sisi lain pengeluaran mereka meningkat. Dengan adanya penurunan pendapatan, dampaknya yaitu jumlah anggaran yang digunakan untuk tabungan serta investasi ikut berkurang.

Meskipun dari sisi pendapatan berkurang, menariknya optimisme masyarakat Indonesia justru besar bahwa ekonomi akan pulih. Sebanyak 47,2% optimis pandemi COVID-19 berakhir pada akhir tahun 2020 dan 51,4% menjawab ekonomi pulih pada akhir 2021.

Dicky Sumarsono, Founder & CEO Azana Hotels & Resorts di sela-sela CEO briefing bersama 100 leaders di group Azana Hotels yang ada di Indonesia juga menyampaikan bahwa momentum akan hilang jika tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Dicky optimis bisnis hotel mulai rebound di tahun ini walaupun secara bertahap dengan alasan yang sederhana yaitu dimulainya vaksinasi, melihat data pertumbuhan ekonomi sesuai dengan APBN 2021 sebesar 4,4%, sedangkan menurut IMF 5,1%, ditambah dengan adanya modal besar Indonesia berupa populasi penduduk yang mencapai 270 juta jiwa, banyaknya acara leisure, holiday maupun meeting yang tertunda di tahun lalu, menurut riset Inventure-Alvara, setalah vaksin mulai disebar, mayoritas (63,3%) akan segera melakukan liburan setelah jenuh dan bosan beridam diri di rumah.

Destinasi wisata lokal akan ramai dikunjungi, di sisi lain masyarakat masih enggan berpergian menggunakan transportasi umum seperti pesawat dan juga adanya pembatasan akses antarnegara membuat destinasi domestik menjadi lebih diminati.

Selain itu, jarak yang dekat dan bisa diakses dengan kendaraan pribadi akan membuat masyarakat merasa lebih nyaman dan aman terbukti dari Carsome Consumer Survey menyebutkan bahwa selama PSBB, 60% pengguna transportasi umum dan 74% pengguna transportasi online beralih ke kendaraan pribadi, Dicky menilai mobilitas masyarakat Indonesia juga tinggi dimana semua itu menjadi indikator opstimisme bisnis hotel di tahun 2021.

Adapun prediksi roadmap pertumbuhan bisnis hotel di Indonesia pada tahun 2021 yaitu dimulai pada Fase Pertama yang terjadi di bulan Januari – Februari, bisnis hotel memasuki masa Storming dimana akibat libur akhir tahun yang menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 menjadi sangat tinggi sekali, ditambah dengan kebijakan baru dari pemerintah (PSBB) yang sangat membatasi ruang gerak masyarakat dalam berkegiatan di luar rumah maupun di hotel, dan secara siklus tahunan pun bulan Januari – Februari merupakan bulan yang berada di periode low season atas dasar tersebut okupansi hotel yang ada di Indonesia menjadi sangat rendah yang menyebabkan banyak GM dan Owner hotel harus melakukan cost leadership secara besar-besaran, hal ini sama sekali tidak diduga sebelumnya karena mereka beranggapan bahwa tahun ini dengan adanya vaksinasi, bisnis hotel akan langsung pulih padahal semuanya tetap ada prosesnya.

Fase Kedua akan terjadi di bulan Maret – Mei yaitu fase Surfing fase menuju perbaikan bisnis, adanya vaksinasi nasional yang mulai massive dilakukan di berbagai daerah akan mendorong kegiatan bisnis serta mobilitas masyarakat Indonesia yang mulai meningkat, travelling jarak dekat dengan menggunakan kendaraan pribadi akan semakin banyak dilakukan, banyak masyarakat kelas menengah ke atas yang mulai melakukan liburan secara regional / di area yang tidak terlalu jauh dengan rumah mereka yang bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi dan acara meeting pun mulai banyak diselenggarakan di hotel, okupansi hotel akan terlihat mengalami perbaikan yang signifikan dengan syarat jika kebijakan dari pemerintah tentang keterbatasan ruang gerak dan berkegiatan (PSBB) mulai dicabut, fase kedua ini akan menjadi momentum penting untuk masuk ke fase pengembangan.

Kemudian masuk ke Fase Ketiga yaitu di bulan Juni – Agustus merupakan masa Envolving yaitu fase pengembangan, pada fase ini binsis hotel akan terlihat jauh lebih baik karena sudah semakin banyak masyarakat Indonesia yang divaksinasi dan kalau dilihat dari periodenya adalah periode musimnya orang berkegiatan termasuk wedding, seminar, meeting dan lain-lain, termasuk belanja pemerintah dan perusahan corporate juga mulai digelontorkan secara maksimal, pada periode ini akan banyak acara leisure yang di selenggarakan di hotel, keyakinan masyarakat terhadap efektifnya vaksinasi di Indonesia akan lebih meningkat lagi apalagi jika vaksinasi mandiri oleh pihak swasta mulai digencarkan dan semakin banyak orang divaksin setiap harinya sehingga cashflow hotel pada periode tersebut sudah mulai terlihat bagus.

Lalu Fase Keempat adalah fase Returning yang akan terjadi di bulan September – Desember, hampir semua hotel yang berhasil memanfaatkan momentum di tahun lalu dan di awal tahun 2021 akan mengalami perbaikan revenue secara significant, apalagi yang berhasil menciptakan bisnis model baru yang lebih relevant dengan situasi pasar.

Adanya kelancaran operasional, dan sudah banyak hotal yang beradaptasi dengan digital maupun technology, bahkan hotel-hotel di fase ini sudah mulai dengan tim dan struktur organisasi yang baru yang lebih ramping serta agile yang bisa menghasilkan cashflow lebih optimal, pada fase ini bisnis hotel bisa dibilang mulai rebound (harvesting period), destinasi wisata local akan semakin diminati.

Sejak tahun 2020 hingga sekarang kita tidak bisa hanya fokus mengelola krisisnya saja tanpa menyiapkan strategi & peluang pulihnya bisnis hotel di tahun ini agar ketika ekonomi membaik, kita tidak ketinggalan. Karna pada saat itu kita harus tahu bahwa customer behavior sudah berubah, needs customer juga sudah berubah, bisnis model berubah, kompetisi pun ikut berubah.

Dengan adanya pandemi, membuat semua perusahaan memiliki waktu yang sama untuk memasuki kompetisi baru, semuanya sama-sama memliki banyak waktu untuk melakukan reboot and restart. Pengusaha hotel jangan melihat krisis ini hanya secara biasa-biasa saja, tetapi lihat secara ekstrim jangan mengeluh tentang situasi eksternal, pastikan agar organisasi kita bisa adaptif, cepat bergerak, dan siap berkompetisi.

Hanya mereka yang produktif dan inovatif, yang memiliki spirit entrepreneurship yang akan melihat kondisi ini hanya dari sisi peluang. Sekarang bukan yang besar mengalahkan yang kecil namun yang cepat akan mengalahkan yang lambat.

Dari 52 hotel yang kami kelola di seluruh Indonesia, sudah ada 45 hotel yang okupansinya berada di atas 60% bahkan ada 16 hotel yang okupansinya berada di atas 70%, sedangkan laba kotor hotel rata-rata sudah berada di atas 40%, target kami laba kotor bisa tercapai di atas 50% seperti yang terjadi pada tahun 2019 ke belakang.

Semua orang dalam perusahaan group Azana adalah tim yang memiliki jiwa entrepreneurship, tepat dalam melakukan okestrasi, bergerak cepat dan berani mengambil opportunity dengan tetap memperhitungkan resiko. Sekarang ini ekonomi sudah mulai menggeliat, jadi disaat banyak hotel masih suffering dan surviving tim Azana hotels lebih confident dan jeli melihat arah perubahan yang lebih baik, yang harus segera kita tunggangi. Kita harus tetap fokus mencari peluang terbaik.

Salah satu pembahasan penting lain yang disampaikan oleh Dicky tersebut selain tentang adanya perubahan di bisnis hotel, penggunaan standard baru dalam menyikapi perubahan global dan strategi ampuh untuk memenangkan kembali bisnis hotel.

Bahwa strategi yang digunakan antara satu kota dengan kota lainnya berbeda-beda, harus bisa melihat local insight-nya, karakternya, dan juga demand-nya setelah itu baru kita bisa melakukan local adjustment yang sesuai, treatment di setiap daerah yang ada di Indonesia juga harus berbeda.

Intuisi bisnis dan insight baru yang dimiliki oleh para pemimpin hotel juga sangat penting untuk kondisi saat ini namun tetap harus rasional, visi bisa berubah setiap bulan bahkan setiap minggu untuk kelangsungan bisnis ke depan, yang juga diperlukan dalam membuat planning bukan berupa planning jangka panjang namun untuk jangka pendek, jadi menavigasinya memang berbeda-beda. Ambil kesempatan secara cepat dan berani berspekulasi untuk jangka pendek.

Beberapa strategi ampuh yang dimaksud oleh Dicky Sumarsono dalam mengoptimalkan pencapaian revenue di 52 hotel Azana yang tersebar di seluruh Indonesia antara lain adalah dengan menciptakan bisnis model baru dan menambah kecepatan mesin pertumbuhan revenue,

seperti: 1) menambah investasi dan waktu yang lebih banyak di aktivitas online (SEO activities, social media dan Google Ads) karna pandemi kali ini telah menjadi katalisator dan akselerator proses digital.

2) mengalokasikan budget iklan dari yang marginal ke high impact opportunity, bisa di sektor yang sama dengan kategori yang sama, target yang sama dan segmen yang sama namun menggunakan multiple produk.

3) organisasi harus lebih fokus, ada penguatan tambahan di masing-masing bidang dan di masing-masing segmen, dengan melakukan narrow targeting yang tepat.

4) melakukan OMNI Channel yaitu dengan mengkombinasikan antara aktivitas online dan offline, serta marketing dan branding secara bersamaan dan total.

5) lebih banyak melakukan customer retention dibandingkan akuisisi, kita harus jaga dan rawat customer dengan baik dengan terlebih dahulu melakukan mapping dan profiling agar benefit dan experience yang kita berikan kepada customer benar-benar customized dan personalized.

6) berkolaborasi, saat ini tentu kita tidak bisa selesaikan semuanya sendiri, bukan saatnya saling menyerang atau berkompetisi yang tidak sehat, harus ada kerja sama untuk menyelesaikan masalah dan menghadirkan solusi bagi customer untuk menciptakan nilai tambah baru.

7) fokus pada sektor yang tumbuh saja agar waktu yang digunakan bisa lebih efektif.

8) mengoptimalkan pengayaan terhadap suatu produk dan proses layanan yang akan diberikan kepada customer agar tercipta value proposition dari customer experience tersebut.

9) menciptakan business model baru yang lebih attractive dan bisa membuka peluang baru.

10) engage, yaitu membuat produk yang dicintai dan punya keterikatan dengan customer.

“Saya melihat sepertinya perubahan yang terjadi pada lanskap bisnis hotel akan bersifat permanen namun akan terus mengalami perbaikan dan berkembang, semua tidak akan sama lagi seperti dulu atau kembali ke tahun 2019 bahkan tahun sebelumnya,” tegas Dicky

Sementara di sektor pariwisata dan perhotelan tahun 2021 ini harus menjadikan Cleanliness, Health & Safety menjadi kekuatan branding terpenting untuk membangun kepercayaan dan keyakinan customer agar mereka tetap merasa aman berlibur, meeting maupun menginap di hotel, sehingga akan tercipta loyalitas.

Azana Group meyakini bahwa dalam situasi ekonomi naik ataupun turun tetap masih banyak kesempatan dan peluang, sebenarnya uang itu tidak hilang tapi hanya berpindah dari satu titik ke titik yang lain khususnya kepada mereka yang punya persiapan.

Bahkan tahun 2021 ini Azana akan menambah 18 hotel baru lagi yang terdiri dari 3 Azana Style Hotels, 3 Front One Bed & Breakfasts, 6 Front One Hotels, 2 Front One Cabins, dan 4 Votel Hotels.

Sekarang saatnya melakukan strategi paling ambisius dalam sejarah bisnis perhotelan dengan mengorganisasi semua informasi yang penting, relevan, dan mengorkestrasi tim dengan semangat tertinggi. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *