Diskusi: Boyolali di Masa Revolusi

JATENGONLINE, BOYOLALI – Sabtu, 30/1, bertempat di Museum Hamong Wardoyo, sekitar pukul 13.30 wib sebuah sarasehan bertema “Boyolali di Masa Revolusi” dilaksanakan. Acara yang dipandu oleh Bapak Surojo ini dibuka oleh Ibu Budi Prasetyaningsih, S. Pd., M. Pd. selaku Kepala Bidang kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali.

Acara ini menghadirkan narasumber Dr. Purwadi, seorang dosen dari Universitas Negeri Yogyakarta ini berlangsung cukup menarik dan mengalir. Boyolali sebagai sebuah kabupaten ternyata menyimpan sejarah yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dimulai dari sejarah perkebunan di Lereng Gunung Merbabu, Pesanggrahan Madusita, dan wilyah Pengging dengan sumber air terbaik, pembicaraan selanjutnya menuju Boyolali di masa revolusi.

Diskusi semakin menarik saat mengisahkan terbentuknya TKR/BKR yang ditandatangani oleh Moh. Hatta. Akan tetapi TKR/BKR yang semula digagas sebagai relawan ternyata menuntut gaji dari negara. Dikarenakan kesulitan keuangan negara, akhirnya sekitar 600 ribu orang tidak dapat diterima sebagai anggota TKR/BKR.

Dr, Purwadi saat sarasehan

Pada tanggal 4 Januari 1946, orang-orang yang tersisihkan itu akhirnya membentuk Merapi-Merbabu Complex (MMC) yang dipimpin oleh Suradi Bledheg.

Kelompok inilah yang menjadi dalang kerusuhan di berbagai tempat. Mereka menggasak apa saja yang dianggap milik orang-orang yang dianggap antek Belanda. Instabilitas politik yang masih menaungi bangsa Indonesia saat itu membuat segalanya semakin kacau.

Ditambah lagi pada tanggal 3 Juli 1946 seluruh kepatihan termasuk Boyolali dibekukan oleh internal pemerintah dan parpol sehingga tidak ada kekuatan maupun kontrol yang kuat. Hal inilah yang mencatatkan sejarah kelam pemberontakan yang dilakukan oleh MMC pada pemerintahan yang saat itu berkuasa.

Pada sarasehan ini, Dr. Purwadi memberikan kesimpulan sekaligus pesan agar pemuda dan pemudi Boyolali bangga dengan budaya yang dimiliki.

Selain itu hendaknya warga Boyolali, dalam hal ini generasi muda sudah selayaknya lebih mencintai kesusastraan adiluhung yang berasal dari Boyolali, semisal karya-karya susastra milik Yasadipura. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *