Tidak Salah Hidup Prihatin

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta, No. HP. 081329405977

Prihatin dari kata pri-ha-tin yang artinya bersedih hati, was-was, bimbang (karena usaha gagal, mendapat kesulitan, mengingat akan nasibnya dan sebagainya: kita selalu – jika membaca berita-berita kebakaran yang menelan korban yang besar; masyarakat petani Jawa Tengah sedang – dengan adanya hama wereng yang menyerang tanaman padi; 2. Menahan diri; bertarak (KBBI ; Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Kata prihatin yang akan penulis sampaikan di sini adalah prihatin dalam arti menahan diri. Prihatin merupakan salah satu warisan orang tua yang masih sangat bermanfaat sampai sekarang bagi penulis. Prihatin selalu diucapkan oleh orang tua terutama ibu yang asli Jawa tulen kepada anak-anaknya ketika menginginkan sesuatu yang bukan kebutuhan pokok. Orang tua selalu mengingatkan anak-anaknya untuk selalu prihatin harus menahan diri menahan godaan yang cenderung katanya liar. Misalnya ketika masih sekolah diberi jatah sebulan berapa, habispun segitu bahkan karena kebutuhan kekinian yang harus dikejar sehingga orang tua menjadi tombok dan hutang menjadi jalan kedua.

Itulah perbedaan dari cara hidup yang prihatin dan tidak prihatin. Kalau gaya hidup yang prihatin itu berorientasi pada apa yang dibutuhkan masa mendatang. Sedangkan hidup yang tidak prihatin cenderung memenuhi setiap keinginan saat ini. Kenapa harus prihatin? Cara hidup prihatin adalah meninggalkan keborosan hidup di masa muda karena tua adalah keadaan yang pasti. Oleh karena itu pilihan menjadi muda dan prihatin menjadi sangat pelik (tidak biasa).

Di mana hal yang hanya dilakukan di masa muda adalah boros karena biasanya merasa gengsi. Untuk itu cara hidup prihatin membuat pertimbangan yang matang. Bersabar menjadi kunci bahwa, lebih penting menyiapkan untuk yang jelas di masa depan dari pada dengan kebahagiaan yang sesaat. Tidak ada yang salah hidup prihatin karena akan lebih banyak manfaatnya.

Dengan prihatin, akan terbiasa menerima keadaan yang terjadi. Misalnya di saat pandemi adanya Covid-19 seperti ini, banyak sekali buruh / para pekerja yang diberhentikan dari pekerjaannya karena tidak ada uang untuk memberi gaji. Tidak sedikit orang yang berhenti bekerja demi menjaga kesehatan. Bahkan Pemerintah sudah memberi himbauan untuk tidak berkerumun. Bagaimana dengan pekerja seni yang harus mencari uang dengan jalan mengundang banyak penonton?. Pekerja seni tidak hanya satu atau dua orang saja yang kena imbas, namun bisa lebih dari itu.

Dengan adanya himbauan untuk tidak berkerumun akan mengakibatkan banyak sekali perubahan yang dilakukan oleh orang yang kena imbas pandemi Covid-19. Kenyataan yang ada di sekolah, banyak sekali anak yang bekerja untuk menyambung hidup membantu orang tuanya. Apabila anak itu bekerja sampai malam sudah otomatis untuk mengerjakan tugas sekolah akan terbengkelai. Penulis sengaja mencari informasi ke rekan Guru BK di salah satu sekolah di Surakarta.

Kebetulan anak tersebut mengambil jurusan Kecantikan. Mereka bekerja mulai pagi dan baru pulang pada sore bahkan malam hari, sekitar jam 19.00 – 20.00 WIB. Sudah jelas setelah anak tersebut bekerja, sampai di rumah sudah capek. Padahal tugas yang diberikan oleh Guru setiap harinya ada 3 mata pelajaran. Kalau anak tersebut harus mengikuti sampai 14 mata pelajaran, bagaimana akan membagi waktu untuk mengerjakan tugas? Sedangkan di saat bekerja tidak mungkin akan mengerjakan tugas di tempat bekerja.

Menurut penulis sederhana saja, hidup apa adanya, sederhana dan tidak usah berlebih-lebihan. Ikut prihatin dengan kondisi anak yang seperti ini, itulah salah satu cara menghadapi kenyataan hidup. Mengatasi anak tersebut di atas memang rumit dan memusingkan, namun kalau sudah ada perjanjian antara murid dan Guru dengan perjanjian penulis yakin semua akan selesai dengan baik. Secara nalar dan professional saja, di saat pandemi ini banyak sekali pekerja yang diberhentikan, namun anak / murid tersebut justru mendapatkan pekerjaan, tentu saja wajib bersyukur.

Artinya Guru tidak perlulah untuk emosi ataupun marah, justru anak itu diberi motivasi untuk tetap bekerja namun juga harus diingatkan agar melakukan tugas sebagai seorang pelajar. Intinya tugas pokok seorang pelajar itu harus menjalankan tugas-tugasnya, misalnya tetap belajar dan juga mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Guru.

Hidup prihatin itu harus diniatkan dengan tujuan yang baik, menerima kenyataan yang ada. Jangan disalah artikan dengan kata “memprihatinkan” berbeda. Karena memperihatinkan itu cenderung mengarah pada kondisi baik yang disengaja atau tidak disengaja untuk menerik simpati / perhatian dari orang lain. Jujur, penulis sendiri walaupun hidup sebagai keluarga yang tidak kaya raya namun merasa bahagia menjalani hidup prihatin. Selalu mensyukuri dan menjalani kehidupan dengan apa adanya saja, tidak mengumbar nafsu yang muluk-muluk.

Di masa Pandemi seperti ini, kalau sudah terbiasa hidup prihatin maka rasa khawatir dalam menyikapi kehidupan tidak pernah akan muncul. Misalnya khawatir, was-was merasa tidak mampu atau mungkin yang paling parah sekalipun. Karena orang yang prihatin akan mebuang jauh-jauh sikap dan pikiran yang negatif namun selalu berpikiran positif. Ketika sedang merasakan prihatin, maka akan muncul kesadaran manusia dalam hal sosial. Rasa kepedulian dengan sesama manusia tiba-tiba muncul, rasa ingin berbagi dengan sesama sangat tinggi. Walaupun kenyataannya memang dalam kondisi pas-pasan.

Perasaan dan keinginan untuk bersenang-senang akan terhenti seketika di saat seperti ini, hati yang paling dalam yang bisa mengendalikan nafsunya. Kalau dari kecil sudah dibiasakan hidup prihatin, maka akan bagaimanapun kondisi hidupnya bisa diterima dengan ikhlas lahir maupun batin. Hidup prihatin akan membeli kebutuhan sesuai yang dibutuhkan bukan sesuai yang diinginkan. Karena yang diinginkan belum tentu dibutuhkan. Artinya menempatkan segala sesuatu seuai dengan manfaatnya. Misalnya harus membeli sepatu, harga mahal banyak namun harga murah juga ada. Kenapa harus membeli dengan harga mahal kalau yang murahpun ada, yang penting bisa untuk digunakan. Sisa uang bisa untuk kebutuhan lain yang lebih penting.

Tidak perlu untuk gengsi-gengsian, apakah gengsi bisa mengenyangkan perut? Tidak kan? Dan lagi, dengan menggunakan tas mahal ataupun murah, isinya tetap sama, tidak ada bedanya. Prihatin tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, tetapi juga menguntungkan bagi anak dan keturunannya. Mendidik anak dengan membiasakan hidup prihatin itu artinya mendidik anak untuk bisa bertahan dalam berbagai macam situasi dan kondisi di manapun mereka berada. Mendidik anak untuk bisa lebih mandiri tanpa bergantung kepada Orang Tua. Bukankah semua yang bernyawa pasti akan mati?

Dengan penjelasan tentang prihatin seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prihatin sangat penting bagi semua manusia. Hidup prihatin bukan berarti hidup yang sangat memprihatinkan bahkan juga bukan hidup yang berjiwa ingin semuanya gratis. Yang namanya prihatin adalah hidup yang sederhana, bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, tidak melihat urusan duniawi tetapi yang diingat adalah akhirat.

Hidup sederhana untuk mendapatkan manfaat di masa yang akan datang. Tidak ada usaha yang sia-sia alias tidak berguna. Ingat, bahwa usaha itu tidak akan mengkhianati hasil. Belajarlah untuk hidup prihatin! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *