Tak Terurus Prasasti Batu Aksara Pallawa Abad VIII di Karanganyar

JATENGONLINE, KARANGANYAR – Prasasti batu yang diduga ditulis dengan aksara Pallawa dalam bahasa Sansekerta yang diperkirakan ditulis pada abad VIII berada di Desa Karanglo Tawangmangu Kabupaten Karanganyar yang terlantar tidak terawat adalah wujud tidak pedulian serta kurangnya perhatian negara dan pemerintah baik pusat maupun daerah terhadap Benda Cagar Budaya warisan Nenek Moyang peninggalan para leluhur bangsa Indonesia. Padahal Pemerintah telah menerbitkan UU 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Dimana Benda Cagar Budaya baik berupa Patung, Prasasti dan lain – lain yang dibuat dari bahan baku batu, baik Batu Kali, Gunung dan Batu Mulia seperti Intan, Berlian, Jamrud, Ruby, Safir, Giok, Kaca Kristal, Porselen dan lain-lain serta bahan dari Kayu, Keramik atau Tanah Liat, Kain Kanvas, Kertas, Daun, Kulit Kayu, Kulit Hewan, Sutera, Kain Kapas, Besi, Emas, Perak, Kuningan, Tembaga dan jenis logam lainnya memiliki nilai jual yang tinggi, mulai dari Ratusan Juta, Milyaran hingga Puluhan Milyar di Balai Lelang Luar Negeri dan banyak diburu oleh para kolektor Barang Antik baik dalam negeri maupun luar negeri hingga saat ini.

Maindset jika benda cagar budaya hanya merupakan benda peninggalan sejarah masa silam saja adalah keliru besar. Sebab di dalam benda cagar budaya tidak hanya terdapat warisan kebendaannya saja, tetapi juga ada warisan tak berbenda yang justru sangat besar nilai sejarahnya.

“Ironisnya sampai saat ini banyak benda cagar budaya terlantar akibat kurangnya perhatian dari pemerintah melalui dinas terkait. Padahal jika kita telaah lebih dalam lagi, ribuan peninggalan jejak peradaban masa silam di Indonesia terlantar tak terurus,” ujar BRM. Kusumo Putro SH.MH., Ketua Umum Yayasan Forum Budaya Mataram (FBM), Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), Komunitas Masyarakat Pecinta Budaya Bangsa Indonesia.

Banyak benda di situs cagar budaya hanya di beri nomer register saja, lanjut Kusumo, tetapi mangkrak terlantar tak terurus dan rawan di curi orang. Pemerintah selaku penentu kebijakan seharusnya melakukan edukasi di sekitar kawasan situs cagar budaya tentang perlindungan cagar budaya berbasis kearifan masyarakat.

“Solusi ini penting di lakukan agar masyarakat memahami besarnya nilai luhur peradaban budaya bangsa di masa silam,” tegas Kusumo.

Sementara keterlibatan lembaga pelestari budaya untuk mengedukasi masyarakat juga harus di lakukan, agar mereka (masyarakat) juga merasa memiliki terhadap peninggalan kebudayaan tersebut.

Begitupun soal warisan tak berbenda yang ada di dalamnya. Harus ada kajian baik dari sisi sejarah maupun ilmu pengetahuanya. Jangan sampai penelitian dan kajian berhenti setelah berhasil menentukan dugaan masa pembuatanya dan era pemerintahannya.

Pentingnya keterlibatan seluruh unsur dalam kajian dengan melibatkan para akademisi harus di lakukan, agar ilmu pengetahuan yang di dapat dari hasil penelitian bisa dijadikan kajian ilmiah di ruang akademisi.

Benda cagar budaya tidak hanya memiliki peradaban kebendaannya saja, tetapi juga terdapat warisan tehnologi, sastra, sejarah, ilmiah, ekonomi dan budaya pada masanya yang melekat dalam benda-benda cagar budaya.

“Terkait dengan Prasasti Batu Tulis Karanglo Tawangmangu, Kepada Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Karanganyar agar segera melakukan Eksekusi Pemindahan Prasasti tersebut ditempat yang lebih Aman dan Lebih baik,” kata Kusumo dengan nada tinggi.

Benda Cagar Budaya tersebut harus segera diberi label dan dicatat dalam Register Pemerintah Kabupaten Karanganyar sebagai Temuan Benda Cagar Budaya. Serta Pemerintah Kabupaten Karanganyar segera mendaftarkan prasasti batu tersebut ke BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Tengah agar benda tersebut tercatat dan Ter Register di BPCB Jateng.

Menurut Kusumo, hal ini sangatlah penting karena mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya barang tersebut dicuri oleh orang tidak dikenal lalu dijual kepada para kolektor barang antik baik dalam maupun luar negeri.

Perlu diketahui meskipun itu hanya berupa batu yang diduga ditulis dalam aksara Pallawa dengan Bahasa Sansekerta tapi Harga Barang tersebut di Luar Negeri sangatlah Tinggi. Contohnya ketika Museum Radya Pustaka Solo kehilangan sejumlah Arca Batu kala itu. Dan ketika ditemukan Arca Batu tersebut telah dijual kepada kolektor Indonesia dengan Harga Rp.80 Juta – Rp.270 Juta per Arca, dan apabila dijual di Balai Lelang Luar Negeri maka Harga per Patungnya Bisa Mencapai MILYARAN Rupiah.

“Walau akhirnya patung-patung yang dicuri dari Museum Radya Pustaka Solo tersebut bisa kembali diambil oleh Pemerintah indonesia dan dikembalikan ke Museum Radya Pustaka. Itulah salah satu fungsi dan gunanya didaftarkannya benda cagar budaya di BPCB Jateng agar dicatat diberi nomor Register oleh BPCB Jateng,” lanjut Kusumo.

Bila melihat hal tersebut dimana benda cagar budaya yang terbuat dari batu seperti PRASASTI BATU TULIS YANG DIDUGA DITULIS DENGAN AKSARA PALLAWA DENGAN BAHASA SANSEKERTA KARANGLO memiliki nilai jual yang sangat tinggi seperti halnya patung batu. Oleh sebab itu sebaiknya Pemerintah Kabupaten Karanganyar segera mengambil langkah yang sigap dan sesegera mungkin untuk mengamankan dan menyelamatkan Prasati Batu Tulis Karanglo agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti DICURI atau DIRUSAK oleh orang tidak dikenal.

“Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Mengenal dan Menghargai Sejarah Bangsanya,” tegas Kusumo. Salam Cagar Budaya dan Kearifan Lokal Tetap Lestari Selamanya! (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *