Taman Balekambang Layak Jadi Taman Wisata Seni Budaya Surakarta

Pentas Ketoprak Balekambang dengan lakon ‘Aryo Penangsang’ disaksikan penonton langsung. Sabtu (13/3/2021)

JATENGONLINE, SOLO – Wabah Pandemi akibat merebaknya COVID-19 melumpuhkan berbagai sektor usaha di tengah masyarakat, dimulai adanya pembatasan sosial bertujuan menekan lonjakan penularan virus mematikan tersebut.

Tak terkecuali pada sektor hiburan dan seni budaya pertunjukkan, praktis penonton tidak bisa secara langsung datang akibat pembatasan jumlah kerumunan, meskipun akhirnya para seniman terpaksa melakukan pentas seni secara virtual guna bertahan dari dampak pandemi, demi sesuap nasi.

Angin segarpun berhembus, tatkala Pandemi COVID-19 ini dinilai mulai melandai. Seperti diketahui dalam Rapat Virtual yang dilaksanakan Selasa (9/3/2021) lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno memberi kabar baik. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberi izin gelaran acara yang mengumpulkan banyak orang, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Sejumlah kegiatan yang mendapat izin, yakni olahraga, musik, Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions (MICE) serta acara budaya. Selain itu, pelaksanaan kegiatan harus memenuhi unsur CHSE, yakni Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).

Sejalan dengan pemberian ijin tersebut, seni pertunjukkan ketoprak di Taman Balekambang (Ketoprak Balkam) Kota Solo kembali bergeliat, Sabtu (13/3/2021), pukul 20.00 WIB, sebuah pementasan ketoprak dengan cerita lahirnya Aryo Penangsang dihadiri para penonton secara langsung, sebelumnya dilaksanakan secara daring, berbagai usia memadati gedung ketoprak fenomena tersebut, dengan penerapan standar protokol kesehatan ketat.

BRM. Kusumo Putro

Pertunjukan kali ini sangat berbeda, selain dihadiri oleh Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM) BRM Kusumo Putro, SH, MH, juga turut menyaksikan pagelaran tersebut, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) FBM Dra.Catharina Etty, SH, M.Si, M.Pd yang khusus datang dari Kota Yogyakarta.

Dijelaskan BRM Kusumo Putro, bahwa kehadirannya menyaksikan ketoprak tersebut bertujuan mengajak seluruh anggota FBM untuk menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional ketoprak dalam rangka melestarikan sekaligus nguri-uri seni budaya warisan leluhur yang penuh dengan pesan moral.

Sementara Dra Catharina Etty, SH,M.Si,M.Pd mengatakan, bahwa dirinya bersama tim secara khusus datang dari Kota Jogjakarta untuk melihat pertunjukan ketoprak di Taman Balekambang Solo tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi lakon yang ditampilkan, karena merupakan sejarah kerajaan Jawa,” kata Litbang FBM yang sejarawan itu.

“Ketoprak sarat pesan moral adiluhung sebagai tuntunan dalam kehidupan. Kami berharap kesenian Ketoprak tetap lestari. Di Kota Solo, saat ini tertinggal dua kesenian pertunjukan yakni wayang orang dan ketoprak,” papar Kusumo.

Pentas ketoprak lakon Aryo Penangsang di Gedung Ketoprak Taman Balekambang

Lebih lanjut, Dewan Pemerhati Dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) ini, yang kini tengah menempuh pendidikan program Doktoral Ilmu Hukum (S3) di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Kota Semarang berharap kedepan Gedung Balekambang merupakan wahana berkesenian bagi warga Kota Solo.

“Taman Balekambang tidak hanya jadi tempat pertunjukkan ketoprak saja, namun sekaligus menjadi taman budaya, disana ada tempat belajar tari, seni ukir, seni kriya, fotografi, membatik dan seni yang lain ,” lanjutnya.

Taman Balekambang kedepan seharusnya dibangun sebuah pendopo besar guna menjadi tempat berkesenian bagi warga masyarakat Kota Solo. Pemerintah Kota Solo juga membuat sekolah khusus ketoprak dan wayang orang. Sebagai regenerasi agar generasi muda siap menjadi penerus.

“Kami juga berharap agar Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata turut serta dalam rencana pembuatan sekolah khusus tersebut. Selain menjadi sebuah taman budaya tempat berkumpulnya para seniman dan budayawan, Balekambang juga menjadi taman kuliner,” imbuh Kusumo.

Nantinya, selain ada nuansa kuliner tradisional khas jawa seperti gudeg koyor, sego liwet, cabuk rambak, putu ayu, klepon dan aneka kuliner jawa lainnya. Sehingga para pengunjung akan dapat berwisata kuliner. Seperti diketahui jika Kota Solo ini terkenal sebagai Kota Kuliner dengan beragam makanan dengan cita rasa khusus dan harganya pun sangat terjangkau.

“Selain berwisata seni dan budaya, ini adalah sebuah nilai tambah di bidang ekonomi, selain pastinya nilai pelestarian seni budaya,” tegasnya.

Adapun dengan adanya sekolah khusus ketoprak dan wayang orang di masa datang akan lahir seniman-seniman unggul dan mumpuni, maka untuk mewujudkan sangat diperlukan proses regenerasi sejak dini.

Lebih lanjut disampaikan Kusumo, bahwa saat ini Kota Solo mempunyai pemimpin yang baru, masih muda, tentunya terobosan dan lompatan spektakuler diberbagai bidang akan sangat ditunggu-tunggu termasuk dalam bidang seni dan budaya, dan Pemkot Solo memiliki peran serta sangat besar, dengan mulai digalakkan terlebih dahulu dari pihak Satuan Kerja Perangkat Daerah. Kemudian di sekolah-sekolah untuk mewajibkan melihat seni pertunjukkan ketoprak dan wayang orang, apalagi Taman Balekambang menduduki peringkat kedua kunjungan wisata terbanyak di Jawa Tengah setelah Candi Borobudur.

Gagasan untuk menjadikan Taman Balekambang sebagai Taman Wisata Seni Budaya Surakarta yang disampaikan BRM. Kusumo Putro tentunya bukan tanpa alasan, selain okupansi dan destinasi pengunjung Taman Balkam tidak hanya menikmati indahnya taman, memberi makan rusa, namun ada nuansa seni budaya Kota Solo yang bisa dipertontonkan sebagai magnet wisata.

“Taman Balekambang sangat representatif, salah satu alasan dijadikan Taman Wisata Seni Budaya Surakarta,” kilah Kusumo.

Tidak hanya Taman Balekambang saja, Kusumo pun menguji keberanian Walikota Solo yang baru, untuk meminta Taman Budaya Jawa Tengah milik Provinsi agar bisa dihibahkan menjadi asset milik Pemerintah Kota Solo.

Seni Pertunjukan Ketoprak sarat pesan moral dan tuntunan hidup

Alasannya agar tempat yang cukup besar dan luas tersebut kedepan dapat untuk mendirikan Gedung Kesenian yang megah, modern dengan sarana prasarana yang lengkap sehingga bisa dimanfaatkan bagi warga Kota Solo sebagai tempat sentralnya Seni Budayanya Wong Solo, apalagi di lokasi tersebut sudah ada bangunan Joglo yang besar.

Dilahan tersebut sangat tepat dan cocok dibangun Gedung Kesenian, kata Kusumo, selain lahannya yang cukup luas lokasinya pun juga sangat strategis, dirinya yakin Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pasti akan memberikannya, selama tempat tersebut digunakan untuk kepentingan kegiatan Pelestarian dan Pengembangan Seni dan Budaya.

“Tinggal keberanian Walikota Solo saja kok untuk memintanya. Toh jelas peruntukannya, untuk Kepentingan Publik.” tantang Kusumo.

Pada kesempatan tersebut diapaparkan BRM. Kusumo Putro, Ketua Dewan Pemerhati Dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) mengenai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dalam Pasal 1 ayat 1, Dalam undang – undang ini yang dimaksud dengan kebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan cipta, rasa, karsa, dan hasil karya masyarakat.

Pasal 1 ayat 8 mengatakan Obyek Pemajuan Kebudayaan adalah unsur Kebudayaan yang menjadi Sasaran utama Pemajuan Kebudayaan.

Pasal 22 mengatakan Pemerintah Pusat dan Atau Pemerintah Daerah Wajib melakukan Pengamanan Obyek Pemajuan Kebudayaan.

Pasal 24 mengatakan Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah Wajib melakukan Pemeliharaan Obyek Pemajuan Kebudayaan.

Pasal 26 mengatakan Pemerintah Pusat dan atau Penerintah Daerah Wajib melakukan Penyelamatan Obyek Pemajuan Kebudayaan.

Pasal 30 mengatakan Pemerintah Pusat dan Atau Pemerintah daerah harus Melakukan Pengembangan Obyek Pemajuan Kebudayaan.

“Ini artinya Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Wajib Hukumnya melaksanakan Amanat UU seperti tersebut diatas,” kata Kusumo mengakhiri pembicaraan. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *