Ciamik! Balekambang Bisa Jadi Pusat Kulineran Ikan

Bisa Jadi Taman Balekambang Menjadi Kawasan Terintegrasi, BRM. Kusumo Putro Ketua Aliansi Masyarakat Untuk Akuntabilitas Kebijakan Publik (AMAKP) didampingi Sekjen AMAKP Wisnu Tri Pamungkas

JATENGONLINE, SOLO – Sebagai salah satu sektor penggerak perekonomian, pariwisata menyumbang kontribusi yang cukup besar bagi suatu daerah. Geliat pariwisata dan pergerakan orang dalam perjalanan wisata secara tidak langsung juga menuntut pemerintah bersama pengelola destinasi wisata untuk terus konsisten meningkatkan kualitas pariwisatanya, baik dari sisi destinasi, industri, kelembagaan, maupun pemasarannya.

Sejauh ini, wisatawan telah akrab dengan destinasi wisata di kota Solo. Namun, masih banyak destinasi wisata dikota ini yang belum digarap secara maksimal. Sebagai upayanya, dibutuhkan sebuah brand management dan ikon baru untuk meningkatkan citra sebuah destinasi wisata.

Kota Solo dikenal juga dengan kota yang tidak pernah tidur, dari pagi hingga malam hari banyak sekali aktivitas, terlebih bagi para pedagang yang mengais rejeki di Kota Solo. Salah satu pedagang yang buka di malam hari seperti kuliner, banyak sekali ditemui di kota ini, dari malam sampai pagi masih ada yang menyediakan hidangan khas Kota Solo.

Peluang menciptakan destinasi wisata baru dengan segala kelebihannya bukan mustahil untuk di hadirkan di kota Solo dengan brand ‘Kota Tak Pernah Tidur’nya. Sebagaimana gagasan yang disampaikan BRM. Kusumo Putro, seorang tokoh muda pegiat industri kreatif di Solo Raya. Mensinergikan kekuatan ekonomi lokal yakni pasar ikan, seni pertunjukan dan kuliner di Balekambang Solo.

“Taman Balekambang tidak hanya jadi tempat pertunjukkan ketoprak saja, namun sekaligus menjadi taman budaya, disana ada tempat belajar tari, seni ukir, seni kriya, fotografi, membatik dan seni yang lain ,” kata Kusumo selaku Dewan Pemerhati Dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) ini, yang kini tengah menyelesaikan pendidikan program Doktoral Ilmu Hukum (S3) di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Kota Semarang.

Pemerintah Kota Solo, lanjut Kusumo, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata turut serta dalam rencana pembuatan sekolah khusus, sekaligus menjadikan sebuah taman budaya tempat berkumpulnya para seniman dan budayawan.

“Taman Balekambang bisa menjadi taman kuliner,” imbuh Kusumo. Nantinya, selain ada nuansa kuliner tradisional khas jawa seperti gudeg koyor, sego liwet, cabuk rambak, putu ayu, klepon dan aneka kuliner jawa lainnya. Sehingga para pengunjung akan dapat berwisata kuliner.

Sementara itu sejalan dengan makin maraknya kunjungan wisata ke pasar Ikan Balekambang Solo yang kembali diaktifkan, oleh pemkot Solo beberapa waktu lalu. Mampu merubah wajah tempat tersebut menjadi daya tarik wisata belanja. Pasar itu diproyeksikan mampu menjual hingga 5 ton ikan berbagai jenis dalam sehari.

Ikan segar di pasar ikan Balekambang

Grosir ikan resmi milik Pemkot Surakarta yang dibuka Wali Kota Joko Widodo (Jokowi) tahun 2012. Namun karena pada waktu itu hanya digerakkan satu pedagang, perdagangan tidak seperti yang diharapkan. Maka di awal 2021, atas arahan Wali Kota FX Hadi Rudyatmo pasar ikan diaktifkan lagi dan aneka macam ikan air tawar dan laut dijual disini.

Dari jumlah lapak pedagang yang sebagian didukung pedagang dari Pasar Ikan Nusukan dan beberapa pedagang dari luar Kota Solo. Selain melayani pedagang ikan di Soloraya, juga melayani pedagang dari berbagai daerah yang ikut kulakan disini.

Ikan segar yang dijual didatangkan dari berbagai daerah yang menjadi sentra penghasil ikan laut di pantai utara. Seperti Jepara, Rembang, Demak, Kendal, Gresik, Lamongan, dan Banyuwangi. Sedang pantai selatan, diantaranya Trenggalek, Pacitan sampai Cilacap. Untuk ikan air tawar didatangkan dari Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Waduk Kedung Ombo, kolam ikan di Klaten, Karanganyar, dan Sukoharjo.

Selain itu, juga didatangkan ikan air tawar dari Jawa Timur, seperti Blitar dan Tulungagung. Mengingat ikan dari sumbernya langsung, harga yang ditawarkan lebih terjangkau. dan ikan dijual secara grosir dan eceran.

Selanjutnya perlu inovasi dan gagasan cerdas untuk menciptakan sebuah destinasi wisata baru dan terbarukan di Kota Solo dengan adanya sejumlah potensi yang dimiliki demi menggerakkan pariwisata, seni budaya yang berujung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dan kontribusi bagi pemasukan pendapan daerah.

Termasuk menciptakan ikon-ikon baru sebagai daya tarik untuk meningkatkan sektor pariwisata. Terutama destinasi wisata kuliner yang menjadi salah satu tujuan wisatawan singgah di kota yang tak pernah tidur ini. Dan potensi memunculkan destinasi wisata kuliner baru di Kota Solo sangat mungkin direalisasikan.

bebakaran ikan jadi momen tersendiri

Meski saat ini di Kota Solo sudah ada Galabo, sebagai tempat wisata kuliner malam, namun dibutuhkan lebih banyak destinasi kuliner baru yang bisa saling melengkapi. Jika tidak ingin ditinggalkan wisatawan, Kota Surakarta harus bisa membuat destinasi wisata baru.

“Saya mendorong pemerintah Kota Solo melalui dinas terkait, seperti Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Dinas Koperasi serta UMKM, agar bekerja sama lintas dinas sekaligus saling bersinergi untuk bersama-sama mendongkrak pariwisata di Kota Solo,” ungkap Kusumo Putro SH,MH., Ketua Aliansi Masyarakat Untuk Akuntabilitas Publik (AMAKP).

Mengingat dalam beberapa bulan terakhir, lanjutnya, disebelah selatan pintu masuk utama Taman Balekambang dijadikan aktivitas perkulakan berbagai jenis ikan. Yang aktivitasnya dimulai dari pukul 17.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB.

“Saya mengusulkan kepada pemerintah daerah agar membuat destinasi wisata ikan,” tegasnya.

Karena, hasil dari investigasinya, di pasar itu banyak pedagang ikan yang berdatangan dan bertransaksi dari berbagai daerah. Seperti dari Pati, Rembang, Semarang dan dari kota-kota penghasil ikan laut. Termasuk para peternak ikan air tawar dari Boyolali, Karanganyar, Wonogiri dan berbagai daerah lainnya.

Terlebih, saat ini Kota Solo belum memiliki destinasi wisata yang sangat spesifik. Seperti komoditas ikan segar ini. Didukung infrastruktur memadai dari gapura menuju pintu masuk Taman Balekambang saat ini telah dibangun trotoar yang cukup panjang. Selain mengusulkan adanya kuliner tradisional, imbuh Kusumo, disepanjang koridor masuk pintu utama Taman Balekambang bisa didirikan wisata kuliner dengan bahan baku serba ikan.

Akses menuju pintu gerbang Taman Balekambang memungkinkan dijadikan wisata kuliner ikan

Konsep yang digagas Tokoh Muda ini sangat menarik. Selain bisa menjadi ikon wisata kuliner baru. Juga menjadi tempat terintegrasi. Apalagi ketika para pengunjung datang kesana, bisa melihat pentas Ketoprak Balekambang sekaligus kulineran ikan.

Seperti diketahui jika Kota Solo ini terkenal sebagai Kota Kuliner dengan beragam makanan dengan cita rasa khusus dan harganya pun sangat terjangkau.

“Selain berwisata seni dan budaya, ini adalah sebuah nilai tambah di bidang ekonomi, selain pastinya nilai pelestarian seni budaya,” tegas Ketua Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) ini.

Namun itu semua tidak akan terealisasi jika tidak ada sinergi antar dinas terkait antara seni budaya, koperasi dan UMKM kuliner. Karena tujuan menciptakan destinasi wisata baru tersebut juga untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Bahkan bisa jadi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, terutama sektor UMKM kuliner. Termasuk peningkatan pendapatan dari sisi retribusi dari para pedagang yang bertransaksi disana.

Lebih lanjut disampaikan Kusumo, bahwa saat ini Kota Solo mempunyai pemimpin yang baru, masih muda, tentunya terobosan dan lompatan spektakuler diberbagai bidang akan sangat ditunggu-tunggu termasuk dalam meningkatkan ekonomi dan mensejahterakan masyarakat melalui desain ikon wisata kuliner.

Taman Balekambang sangat representatif, strategis mendatangkan destinasi wisata, tak salah memang jika didorong untuk mampu menjadi kawasan terintegrasi. Dan manajemen merek destinasi wisata merupakan sebuah proses berkelanjutan untuk menciptakan merek dengan nilai positif yang selaras dengan tujuan pengelolaan destinasi wisata. Dalam hal ini, branding juga berbicara tentang bagaimana destinasi dapat mengelola image dan reputasi dengan cara memenuhi janji-janji (trust) kepada wisatawan. Dengan begitu, brand atau merek bukan hanya sebatas retorika semata, melainkan juga mencakup segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah bersama stakeholder lainnya dalam mengkomunikasikan potensi dan nilai sebuah destinasi wisata kepada masyarakat luas. Semoga! (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *