Lapor Mas Walikota, Nasib 3000-an Pelaku Usaha di Sriwedari Merana!

JATENGONLINE, SOLO – Forum Komunitas Sriwedari (Foksri), yang mewadahi ribuan pelaku usaha yang menggantungkan nasibnya dengan mengais rejeki di area Sriwedari, bertekad untuk ber-audiensi dengan Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka.

Selambatnya minggu ini agenda untuk bertemu dengan Walikota Solo bakal direalisasikan, gagasan itu mencuat setelah dirasa tidak ada kejelasan tentang nasib dan keberadaan mereka, melalui audiensi diharapkan bisa memberi ketenangan, serta kepastian hukum bagi ribuan anggota Foksri.

BRM. Kusumo Putro, SH. MH., selaku Pembina Sekaligus Penasehat Foksri mengatakan, bahwa ibarat gajah di pelupuk mata tak tampak, namun semut di sebarang lautan kelihatan. “Itu mungkin gambaran yang pas melihat keberadaan Sriwedari saat ini,” tutur Kusumo, dtemui Senin (5/4/2021).

BRM. Kusumo Putro, SH. MH

“Lompatan program dan kebijakan Gibran Rakabuming selaku Walikota Solo yang baru. Seperti menjadikan lokasi Taman Balekambang, menjadi pusat seni dan kebudayaan Surakarta. Lalu rencana menyulap kawasan pasar Ngarsopuro dan sekitarnya, menjadi semacam Malioboronya Wong Solo. Juga program terkait peningkatan ekonomi kreatif atau UMKM yang lain, di masa pandemi, patut diacungi jempol,” ujar Kusumo

Namun sangat ironis, dimana tak ada satupun lompatan program itu yang menyentuh akan nasib para pelaku usaha di lahan Sriwedari. Padahal ada sedikitnya 3000 pelaku usaha dan seni yang hidup, dan menggantungkan hidupnya di sana.

“Bahkan misi revitalisasi lahan Sriwedari, dari pemangku kebijakan atau walikota-walikota sebelumnya juga belum terealisasi hingga kini,” katanya trenyuh.

Andai saja, misi revitalisasi di lahan Sriwedari itu benar-benar terwujud, tentunya nasib para pelaku usaha di Sriwedari, juga semakin tenang karena mendapat kepastian hukum dalam menjalankan semua aktifitasnya.

Lebih dari 30 tahun, 3000-an pelaku usaha di lahan Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, menggantungkan hidupnya di sana. Bahkan keberadaan mereka menjadi semacam legenda bagi warga Solo dan sekitarnya. Beragam denyut ekonomi kreatif dan seni budaya pun, muncul dari kalangan pelaku usaha tersebut.

“Namun, dari banyak program pembangunan dilaksanakan pemkot Solo, belum menyentuh keberadaan mereka. lalu, apa yang terjadi?” tanya Kusumo

Taman Sriwedari Riwayatmu Kini

Lebih lanjut dikatakan Kusumo, telah banyak ikon legendaris yang dikenal oleh publik dan masyarakat luas perihal lahan Sriwedari. Bahkan juga ikon-ikon yang benar-benar mengandung muatan sejarah dan juga masuk dalam kategori perlindungan cagar budaya. Seperti Museum Radya Pusataka, atau gedung Wayang Orang yang umurnya sudah ratusan tahun berdiri.

“Jika di suatu hari nanti, Sriwedari tinggal nama, tentu akan membuat kota Solo kehilangan ruhnya,” tegasnya.

Ruh dimana ikon tersebut banyak menyimpan sejarah masa lalu. Atau sejak jaman Kraton Surakarta didirikan di desa Sala atau Baluwarti. Di masa modern sekarang, Sriwedari merupakan gudangnya para seniman. Termasuk pelukis, pengrajin, pemahat, pemain wayang, penari, dll.

Kenyataan bahwa keberadaan ribuan pelaku usaha yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari lahan Sriwedari tersebut. Hingga kini tak mempunya daya apaun, terlebih mereka tidak mendapat kepastian bagaimana nasib atau status keberadaan mereka.

“Juga bagaimana sebenarnya, atau siapa pengelola dari lahan Sriwedari tersebut. Mereka hanya bisa berkeluh-kesah di wadah forum Foksri,” kilahnya.

Dan, keberadaan paguyuban Foksri, dengan jumlah anggota yang sangat besar dan banyak. Uniknya, dalam satu wadah atau forum itu masih terdapat banyak paguyuban lain yang bernaung di dalamnya. Karena di lahan Sriwedari, banyak komunitas atau paguyuban yang mewadahi masing-masing anggotanya, berdasar bidang atau jenis usaha dan jasanya masing-masing.

Kios-kios yang ada di dalam kawasan Taman Sriwedari juga menjualnberbagai hasil kerajinan masyarakat serta_alat-alat permainan tradisional

Misalnya ada paguyuban Busri, komunitas para pedagang buku bekas dan baru yang sangat melegenda sejak dulu hingga sekarang. Juga ada paguyuban Pasari, Rukun Santosa, PKL Dalam dan Luar Sriwedari, Jasa Komputer, Tukang Parkir, Bursa Mobil Bekas, dan masih banyak lagi.

“Kami dari Foksri memohon kepada Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka, agar segera menjadikan semua potensi yang ada di lahan Sriwedari, menjadi salah satu bagian, dari Grand Desind pembangunan kota Solo,” imbuhnya.

Potensi aktifitas di Lahan Sriwedari dapat menjadi satu prioritas penting, dalam rangka pembangunan menyeluruh di kota Solo. Sekaligus dalam rangka usaha dan program peningkatan ekonomi kreatif dan UMKM di kota Solo. “Intinya, keberadaan Sriwedari dengan segala ikon dan potensinya jangan sampai hilang ditelan jaman. Jangan sampai masyarakat dan dunia lupa dengan sejarah dan keberadaan Sriwedari,” kata Kusumo tegas.

Sehingga salah satu caranya adalah dengan keterlibatan Pemkot Solo dalam pengelolaan lahan Sriwedari. Dengan cara tersebut, diharapkan semua pelaku usaha dan jasa, budayawan, dan seniman yang ada di lahan Sriwedari bisa tetap melakukan aktivitasnya dengan tenang.

Ketua Foksri, Safik Hanafi mengatakan, nasib dan kesejahteraan semua anggota akan terus diperjuangkan. Mengingat kondisi sekarang belum tersentuh sama sekali oleh derap pembangunan kota Solo. Sehingga iapun bertanya ada apa? Janji revitalisasi oleh para pemimpin kota Solo sebelumnya sangat diharapkan realisasinya di era sekarang.

“Sebagai tempat hiburan keluarga raja (bon raja) yang berada di jantung kota, serta cikal bakal tumbuhnya ekonomi kreatif dan hiburan, tentu Sriwedari sangat membutuhkan sinergi antara pelaku usaha dan pelaku seni budaya,” jelasnya.

Sehingga pemerintah diharap segera mendahulukan, terkait perhatiannya terhadap segala kondisi di lahan Sriwedari. Apalagi pelaku usaha di Sriwedari sudah menunggu selama beberapa periode. Baik saat waktu kepemimpinan Bapak Jokowi menjadi walikota, ataupun sewaktu dipimpin oleh Bapak Rudy. Selama 20 tahun lebih mereka menunggu apa yang terbaik, yang hendak dilakukan oleh pemkot Solo.

“Kita manut pemerintah, alias tunduk, apa yang akan diperbuat oleh pemerintah. Namun kalau bisa ya jangan dipinggirkan, atau dipikir paling belakangan dibanding yang lain,” imbuh Safik.

Ia juga mengatakan, jika selama ini banyak pihak mengklaim sebagai pemilik (ahli waris) lahan Sriwedari, dan menawarkan berbagai opsi kepada semua warga atau pelaku usaha di Sriwedari, tentu tidak akan diladeni jika tidak membawa identitas atau surat resmi yang sah secara hukum. Hal-hal seperti itu, tentu sedikit banyak juga mempengaruhi kenyamanan beraktifitas para pelaku usaha di Sriwedari.

Harapannya kepada Mas Walikota Solo Gibran, agar segera menengok atau berkunjung ke Sriwedari. Sehingga bisa segera memikirkan segala hal terkait isi, potensi, dan aktivitas yang ada di dalam lahan Sriwedari. Karena selama ini, Sriwedari ibarat mati suri. Dikatakan mati tidak, namun dikatakan hidup juga seperti enggan. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *