Prihatin Kondisi Sriwedari FOKSRI Layangkan Surat Audiensi ke Walikota Solo

JATENGONLINE, SOLO – Tidak adanya kejelasan nasib ribuan pelaku usaha di lahan Sriwedari Solo, baik keberadaan dan secara hukum mereka yang tergabung dalam paguyuban Forum Komunitas Sriwedari (Foksri). Meminta Walikota Solo Gibran Rakabuming untuk melakukan kunjungan kerja ke wilayah Sriwedari guna mengetahui kondisi yang sebenarnya di kawasan tersebut saat ini guna sebagai Bahan Menyusun Design Revitalisasi Lahan Sriwedari kedepan.

“Seperti yang telah dilakukan walikota-walikota sebelumnya yakni mengunjungi Sriwedari,” kata BRM Kusumo Putro SH,MH, Pembina sekaligus penasehat paguyuban FOKSRI dan sebagai Ketua AMAKP (Aliansi Masyarakat Akuntabilitas Kebijakan Publik ) Jawa Tengah.

Lebih dari tiga dekade, ribuan pelaku usaha dari berbagai sektor mengais rejeki di Taman Sriwedari, Solo. Mulai dari perajin pigura, rental komputer, buku, jual beli mobil dan lain sebagainya, namun sampai saat ini pusat sumber ekonomi dan seni budaya tersebut jarang mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kota Surakarta.

Ribuan pelaku usaha di Sriwedari tersebut yang tergabung dalam wadah Foksri. Mereka berencana beraudiensi dengan Gibran Rakabuming Raka,Walikota Solo dalam minggu ini.

Diharapkan hasil dari pertemuan dengan putra Presiden Jokowi tesebut mampu memberikan jaminan kepastian untuk tetap bisa beraktifitas di lahan Sriwedari bagi semua anggota paguyuban.

Perajin pigura mengais rejeki di lahan Sriwedari

Informasi terkini, tegas Kusumo, surat permohonan audiensi dengan walikota telah dikirim Selasa (6/4/2021) dan diterima bagian umum Pemkot, pihak FOKSRI menginginkan pertemuan pada Jumat, 9 April 2021, “Semua tergantung pada waktu yang akan diberikan oleh walikota, kapan menerima kami,” lanjut Kusumo.

BRM Kusumo Putro SH,MH, tokoh muda yang juga pengiat sosial dan budaya belum lama ini mengatakan gambaran peribahasa yang pas bagi keberadaan Sriwedari sekarang adalah ibarat semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.

“Gebrakan program dan kebijakan dari walikota Solo yang baru, benar-benar patut diajungi jempol. Seperti menjadikan lokasi taman Balekambang, menjadi pusat seni dan kebudayaan Surakarta. Atau rencana menyulap kawasan Pasar Ngarsopuro dan sekitarnya, menjadi semacam Malioboronya wong Solo. Juga program terkait peningkatan ekonomi kreatif atau UMKM yang lain, terutama di masa pandemi Covid-19 sekarang, namun ironisnya, tak ada satupun program yang menyentuh nasib para pelaku usaha di lahan Sriwedari,” kata praktisi hukum anggota Peradi Solo tersebut.

Bursa Buku Busri

Pegiat ekonomi kreatif di wilayah Solo Raya di lapak lahan Sriwedari tersebut ada sekitar 3000-an pelaku usaha dan seni yang hidup, atau menggantungkan hidup di sana. “Bahkan misi revitalisasi lahan Sriwedari, dari pemangku kebijakan atau walikota-walikota sebelumnya juga belum terealisasi hingga kini,” lanjutnya.

Pria yang kini sedang menyelesaikan study program doktoral ilmu hukum di salah satu universitas ternama di Kota Semarang menambahkan jika saja, misi revitalisasi lahan Sriwedari bisa terlaksana, tentu nasib para pelaku usaha di Sriwedari, juga semakin jelas karena mendapat kepastian hukum dalam menjalankan semua aktifitas ekonominya.

“Banyak icon legendaris yang sudah terlanjur diberikan dan dikenal luas oleh masyarakat luas di lahan Sriwedari tersebut. Bahkan juga icon-icon yang benar-benar mengandung nilai sejarah dan juga masuk dalam kategori perlindungan cagar budaya. Seperti Museum Radya Pusataka, atau gedung Wayang Orang yang beabad-abad,” terangnya.

Kusumo khawatir jika suatu hari nanti, Sriwedari yang merupakan kebanggaan warga Solo hilang, tentu akan membuat kota Solo kehilangan rohnya.

Gedung Wayang Orang Sriwedari

“Roh dimana icon tersebut banyak menyimpan sejarah masa lalu, sejak jaman Keraton Surakarta didirikan di Desa Sala atau Baluwarti. Di masa modern sekarang, Sriwedari merupakan gudangnya para seniman. Termasuk pelukis, pengrajin, pemahat, pemain wayang, penari dan lainnya,” lanjutnya.

Kondisi yang sekarang benar-benar terjadi, tambah Kusumo adalah kenyataan bahwa ada ribuan pelaku usaha yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari lahan Sriwedari tersebut.

“Namun sampai saat ini, mereka tidak mendapat kepastian bagaimana nasib atau status keberadaan mereka. Juga bagaimana sebenarnya, atau siapa pengelola dari lahan Sriwedari tersebut. Mereka hanya bisa berkeluh-kesah di wadah forum FOKSRI,” ulasnya.

“Sementara keberadaan paguyuban FOKSRI itu sendiri, jumlah anggotanya sangat besar atau banyak. Yang unik, dalam satu wilayah atau forum itu masih terdapat banyak paguyuban lain yang bernaung di dalamnya,” beber Kusumo lagi.

Memang di lahan Sriwedari, banyak terdapat komunitas atau paguyuban yang mewadahi masing-masing anggotanya, berdasar bidang atau jenis usaha dan jasanya masing-masing.

Pengurus FOKSRI rapatkan barisan untuk maju Audiensi ke Walikota Solo

Misalnya ada paguyuban Busri, komunitas para pedagang buku bekas dan baru yang sangat melegenda sejak dulu hingga sekarang. Juga ada paguyuban Pasari, Rukun Santosa, PKL dalam dan luar Sriwedari, jasa komputer, Tukang Parkir dan Bursa Mobil Bekas.

“Dengan potensi tersebut, kami dari FOKSRI memohon kepada walikota Solo yang baru, agar segera menjadikan semua potensi yang ada di lahan Sriwedari, menjadi salah satu bagian, dari Grand Desind pembangunan Kota Solo,” tegasnya.

Maka apabila Sriwedari tidak ada maka sama saja Kearifan Lokal dan adat Istiadat Kraton Solo dan Warga Solo juga akan hilang, padahal kearifan lokal dan adat istiadat tersebut sudah ada sejak ratusan tahun silam sejak jaman Raja-raja kraton Solo dan Mangkunegaran di masa lalu atau di era kerajaan Mataram Islam jauh sebelum Republik ini berdiri.

Apabila Sriwedari tidak segera direvitalisasi dan tidak masuk dalam Grand Design pembangunan kota Solo, tegas Kusumo, maka sama saja Pemkot Solo ikut andil dalam menghilangkan kearifan lokal dan adat istiadat perayaan malam selikuran lampu ting peninggalan nenek moyang leluhur rakyat Solo. Ironis memang! (pra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *