Dr Singgih Purnomo Ketua APTISI Komisariat II Surakarta Periode 2021-2025

Secara simbolis diserahkan kepemimpinan APTISI Komisariat II Solo dari ketua periode sebelumnya Prof Dr Ali Mursyid WM kepada ketua terpilih Dr Singgih Purnomo

JATENGONLINE, SOLO – Musyawarah Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Komisariat II Surakarta berlangsung di Royal Heritage Hotel Solo, pada Senin (12/4/2021). Sebagaimana Musyawarah Komisariat dilakukan dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus, organisasi, program kerja dan pemilihan ketua periode 2021-2025.

Ketua Panitia Musyawarah Komisariat R. Taufik NM, menyampaikan jika sedianya Musyawarah Komisariat Aptisi komisariat II Surakarta, dilgelar akhir tahun 2020 lalu, karena masa jabatan selesai tahun 2020.

“Karena banyak pertimbangan baru bisa dilaksanakan bulan April ini. Agendanya reorganisasi, laporan pertanggungjawaban dan pemilihan ketua APTISI yang baru,” ungkap Taufik ketika di temui di acara.

Musyawarah yang diikuti 52 peserta dari 40 PTS Se-Solo Raya, dari total anggota sebanyak 61 PTS itu, menerima laporan pertanggungjawaban dari ketua APTISI sebelumnya Prof Ali Mursyid dan memilih Dr Singgih Purnomo MM, Rektor Universitas Duta Bangsa, sebagai ketua APTISI Komisariat II Surakarta periode 2021-2025.

“Secara sah Dr Singgih Purnomo yang juga Rektor Universitas Duta Bangsa, terpilih sebagai ketua APTISI Komisariat II Solo. Sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris APTISI,” tambah Taufik.

Secara simbolis diserahkan kepemimpinan APTISI Komisariat II Solo dari ketua periode sebelumnya Prof Dr Ali Mursyid WM kepada ketua terpilih Dr Singgih Purnomo.

Dalam kesempatan itu juga digelar seminar nasional secara daring dengan tema ‘strategi PTS dalam meningkatkan penerimaan mahasiswa baru di era pandemi’. Dengan Narasumber Ketua Aptisi wilayah V Jateng Prof Dr Edi Noersasongko.

Sementara itu, Dr Singgih Purnomo mengatakan, bahaw tantangan PTS kedepan sangat berat karena harus menghadapi adanya beragam inovasi era revolusi industri 4.0, dan bersinergi dengan kebutuhan pasar.

“Kita harus meramu sedemikian rupa agar PTS bisa menyesuaikan dengan kebutuhan industri, terutama dengan lapangan pekerjaan dan instansi agar lulusannya bisa terserap, seperti munculnya kurikulum merdeka belajar dan kampus merdeka, tujuannya agar ada link dan match antara kebutuhan dan lulusan perguruan tinggi,” pungkasnya. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *