Bahasa Jawa Musnah, Siapa Yang Salah ?


Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta, No. HP. 081329405977

JATENGONLINE – Bahasa (dari bahasa Sanskerta, bha?a) adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. Kajian ilmiah bahasa disebut ilmu linguistik. Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang berbunyi “nasi” melambangkan konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai makanan pokok’.(Wikipedia).

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati atau bisa dikatakan bahwa bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah system lambang, berupa bunyi, bersifat produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.

Terdapat 2 arti kata ‘jawa’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang masuk ke dalam kelas kata nomina (kata benda). Nomina ( kata benda ) antara lain : 1) Suku bangsa yang berasal atau mendiami sebagian besar Pulau Jawa, 2) Bahasa yang dututurkan oleh Suku Jawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata jawa adalah suku bangsa yang berasal atau mendiami sebagian besar pulau jawa. Arti lainnya dari jawa adalah bahasa yang dituturkan oleh suku jawa.

Jawa memiliki 2 arti. Jawa adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Jawa memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga jawa dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. ( Dari Wikipedia bahasa Indonesia ).

Bahasa Jawa merupakan bahasa tradisional yang dituturkan oleh suku Jawa yang banyak tinggal di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan beberapa daerah di Jawa Barat ( khususnya yang keturunan asli dari orang Jawa ). Bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang paling banyak persebarannya di Indonesia maupun di luar Indonesia. Hal ini dikarenakan persebaran penduduk suku Jawa sangat luas hampir di seluruh Indonesia.Bahasa Jawa juga makin terkenal karena banyak lagu-lagu campursari ataupu lagu Jawa lainnya. Walaupun bukan orang Jawa namun banyak dari suku lain yang bisa menirunya.

Bahkan banyak juga negara yang menggunakan bahasa Jawa selain Indonesia misalnya Suriname, Belanda, Malaysia. Dialek Jawa yang kental bisa dilihat dari dialek masyarakat Surakarta dan Yogyakarta. Sejarah tulisan bahasa Jawa bermula sejak abad ke-9 dalam bentuk bahasa Jawa Kuno, yang kemudian berevolusi hingga menjadi bahasa Jawa Baru sekitar abad ke-15. Bahasa Jawa awalnya ditulis dengan sistem aksara dari India yang kemudian diadaptasi menjadi aksara Jawa, walaupun bahasa Jawa masa kini lebih sering ditulis dengan alfabet Latin. Bahasa Jawa memiliki tradisi sastra paling tua di antara bahasa-bahasa Austronesia.

Pengertian, Definisi dari kata “musnah” menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) online dan menurut para ahli bahasa. Arti kata Musnah – mus-nah v 1 lenyap; binasa: segala hartanya — dimakan api; 2 hilang: uap alkohol itu — ke udara;. Saat ini bisa dilihat di lingkungan masyarakat Jawa, jumlah penutur bahasa Jawa lebih sedikit dibandingkan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Menurut data yang disajikan oleh badan bahasa.kemendikbud.go.id, faktor penyebab terjadinya kepunahan bahasa antara lain, faktor ekonomi, misalnya seperti kemiskinan yang terjadi di pedesaan yang memicu terjadinya urbanisasi. Ketika sampai kota, mereka akhirnya melupakan bahasa daerah dan lebih banyak menggunakan bahasa yang umum digunakan di kota tujuan.

Selain itu, faktor dominasi budaya oleh masyarakat mayoritas juga berpengaruh, seperti bahasa mayoritas dan bahasa negara di dalam pendidikan dan kepustakaan yang mengakibatkan terpinggirnya bahasa daerah. Faktor politik juga dinilai menjadi pemicu, misalnya, kebijakan pendidikan yang mengabaikan bahasa daerah, serta kurangnya pengakuan atau larangan terhadap penggunaan bahasa minoritas dalam kehidupan masyarakat. Faktor sikap juga dinilai berpengaruh, misalnya, stigma yang menganggap bahasa minoritas identik dengan kemiskinan, buta huruf dan penderitaan, sementara bahasa mayoritas dinilai sangat lekat dengan kemajuan.

Penulis sebagai orang Jawa sekaligus sebagai seorang Guru Bahasa Jawa di Surakarta, disaat pembelajaran Bahasa Jawa secara tatap muka maupun jarak jauh ( daring ) banyak peserta didik yang menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan dalam lingkungan masyarakat, banyak orang tua yang berkomunikasi / berbicara dengan anaknya menggunakan bahasa Indonesia. Kalaupun menggunakan bahasa Jawa namun banyak yang sudah tidak utuh lagi artinya sudah tidak karu2an ( keliru dalam pengucapan ). Sebagai contoh, apabila orang tua yang sedang bepergian dan mengajak pulang anaknya, banyak yang berbicara seperti ini : “nak, ayo enggal kondur njur dhahar sik”.

Sebetulnya kalimat di atas itu tidak salah, kalau demikian yang salah siapa? Anak-anak jelas tidak salah, karena mereka tidak pernah diberitahu atau dibimbing bahkan tidak adanya contoh yang dilakukan oleh orang tuanya. Begitu juga dengan kebanyakan Orang Tua yang merasa kesulitan berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan Bahasa Jawa. Alasannya takut salah, takut ditiru oleh anaknya. Intinya Orang Tua sudah tidak mau berusaha untuk bisa menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar, tidak mau membimbing anaknya dengan menggunakan Bahasa Jawa. Kesimpulannya lebih mudah menggunakan Bahasa Jawa daripada Bahasa Jawa.

Orang Tua kurang menyadari bahwa dengan menggunakan Bahasa Jawa akan melatih anaknya untuk mengerti unggah-ungguh yang benar.Anak-anak akan bisa menghargai Orang Tua / menjaga nama baik dan menghormati orang lain ( mikul dhuwur mendhem jero ). Mungkin belum tahu kelebihan menggunakan Bahasa Jawa, salah satunya adalah bahwa Orang Tua tidak sama dengan binatang. Apa hubungannya dengan binatang? Apakah sama? Sabar, jangan emosi dulu, tahan ya!

Contoh kalimat apabila menggunakan Bahasa Jawa dengan menggunakan kata “makan” : Bapak dhahar,Ibu dhahar, adhik maem, pitik nuthul, ula nguntal, kethek nyisil, kebo nggayemi, macan nggaglak, tikus ngrikiti, dsb. Tetapi apabila kalimat itu menggunakan Bahasa Indonesia maka siapapun itu yang melakukan tetap menggunakan kata makan. Itu artinya bahwa tidak ada bedanya antara manusia dan binatang. Namun sangat beruntung ketika peserta didik penulis beri pertanyaan : “Relakah kalau Orang Tuamu disamakan dengan binatang?”. Mereka serentak menjawab “ “tidak mau”. Ini merupakan salah satu kebanggaan Penulis menjadi Guru Bahasa Jawa,jawaban anak sebagi bukti bahwa Bahasa Jawa tidak mungkin musnah.

Saat Pandemi ini, semuanya serba memprihatinkan dengan yang namanya Pendidikan. Belum sepenuhnya pembelajaran tatap muka, masih berlaku pembelajaran daring ( dalam jaringan ). Sebagai Guru Bahasa Jawa jenjang SMP, namun juga harus memberi pelajaran jenjang SD bahkan jenjang SMA/K. Kenapa? Bukan menjadi rahasia lagi, bahwa saat ini Orang Tua merasa terpaksa menjadi “peserta didik” baru. Tidak sedikit Orang Tua yang menanyakan kepada Penulis yang hubungannya dengan mata pelajaran Bahasa Jawa.

Kesempatan bagi Penulis untuk menanyakan kepada beberapa Orang Tua, kenapa bahasanya sendiri lebih sulit dibandingkan dengan bahasa lain? Ternyata Orang Tua zaman sekarang lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia dengan alasan supaya nantinya kalau sekolah biar lancar menggunakan Bahasa Indonesia. Padahal belum ada sejarahnya kalau anak dibimbing dengan menggunakan Bahasa Jawa, nanti besarnya tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Justru sejak kecil dibimbing dengan menggunakan Bahasa Jawa, nanti kalau sudah besar bisa tahu dan paham dengan Bahasa Jawa sekaligus Bahasa Indonesia.

Penulis memang menyadari bahwa mata pelajaran Bahasa Jawa di sekolah hanya sebagai Muatan Lokal, jadi dianggap ringan dalam menghadapi. Padahal kenyataannya kalau mau mempelajari dengan sungguh-sungguh sangat besar manfaatnya. Banyak sekali istilah ataupun ilmu yang menjadi pedoman hidup, pendidikan yang ada hubungan dengan menanamkan karakter manusia sehari-hari. Banyak petuah atau nasihat yang bisa dicari dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Terbukti apabila ada peserta didik yang berbuat yang tidak baik, biasanya yang ditanyakan pertama kali adalah siapakah Guru Bahasa Jawanya?.

Bahasa Jawa ( daerah ) sering diperumpamakan sebagai jati diri daerah tersebut. Orang-orang lokal sudah sepastinya bisa berbicara menggunakan bahasa daerah. Walaupun di era modern, bahasa daerah sudah jarang dipergunakan, tetapi akan sangat baik jika terus dipelajari dan diwariskan ke anak cucu. Jika tidak maka bahasa daerah dan adat istiadat daerah tersebut akan hilang termakan perubahan jaman.

Dengan pernyataan tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa dalam hidup, komunikasi sangat diperlukan seluruh makhluk. Tidak hanya hewan yang berbicara menggunakan suara, manusia memiliki cara tersendiri serta berbeda-beda pada setiap daerahnya. Contohnya saja, bahasa Jawa dan artinya dimana hanya digunakan oleh beberapa wilayah saja. Walaupun penuturnya sudah berkurang dalam arti bukan untuk komunikasi sehari-hari, namun Bahasa Jawa masih tetap terpakai sebagai Bahasa untuk identitas atau Upacara adat. Bersyukurlah menjadi Orang Jawa!. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *