Implementasi Mandiri Pada Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

JATENGONLINE – Implementasi berasal dari kata “to implement” yang berarti mengimplementasikan. Yang artinya adalah kegiatan yang dilakukan melalui perencanaan dan mengacu pada aturan tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan tersebut. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia implementasi berarti penerapan atau pelaksanaan.

Implementasi/im·ple·men·ta·si/ /impleméntasi/ n pelaksanaan; penerapan: pertemuan kedua ini bermaksud mencari bentuk — tentang hal yang disepakati dulu. Jadi implementasi adalah suatu tindakan untuk menjalankan rencana yang telah dibuat, itu artinya implementasi hanya dilakukan jika terdapat sebuah rencana.

Sedangkan kata mandiri/man·di·ri/ adalah dalam keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain: sejak kecil ia sudah biasa mandiri sehingga bebas dari ketergantungan pada orang lain; mandiri adalah sikap untuk tidak menggantungkan keputusan kepada orang lain ( KBBI ).

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 1988: 625), kemandirian adalah keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Dengan pernyataan seperti tersebut maka dapat disimpulkan bahwa mandiri adalah bahwa setiap individu harus berusaha untuk meningkatkan rasa tanggung jawab untuk mengambil keputusan.

Penulis sengaja mengambil judul seperti di atas, mengambil dari salah satu Profil Pelajar Pancasila. Yang mana bahwa Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu cirri keberhasilan Sekolah Penggerak. Pelajar Pancasila ini memiliki 6 ( enam ) karakter utama yaitu beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan gobal, bergotong royong, dan kreatif.

Perlu diketahui bahwa terciptanya Pelajar Pancasila merupakan salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Penguatan Karakter ( Puspeka ) untuk mendukung visi dan misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.

Dengan adanya sumber daya manusia ( SDM ) yang unggul merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi secara global dan mampu berperilaku sesuai dengan nila-nilai Pancasila. Harapannya agar Pelajar Pancasila mengerti tentang moralitas, keadilan sosial, spiritualitas serta memiliki cinta kepada agama, manusia dan alam.

Saat ini di tengah-tengah pandemi adanya covid-19, Siswa dituntut untuk belajar di rumah secara mandiri. Secara mandiri disini tetap dipantau oleh Guru dan Orang Tua / Wali. Sebelum pandemi yang namanya belajar mandiri merupakan sifat yang sudah ada pada setiap individu dan situasi pembelajaran.

Menurut Hiemstra ( 1994 :1 ) dengan belajar mandiri ini siswa dapat mentransferkan hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi lain. Siswa yang melakukan belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti : membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik dan kegiatan korespondensi. Di sini Guru berperan efektif dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan kreatif.

Penulis berharap dengan tulisan ini siswa bisa semakin memahami dengan makna belajar mandiri. Ini merupakan perilaku siswa dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara nyata dengan tidak bergantung pada orang lain, artinya bahwa siswa tersebut mampu melakukan belajar sendiri, dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik dan mampu juga untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri.

Kenyataan di saat pandemi ini ada beberapa siswa yang tidak mengirimkan tagihan kepada Guru, termasuk Penulis juga mengalami seperti ini. Dengan adanya pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) memang agak sulit berkomunikasi walaupun ada medianya. Sulitnya di sini dibuktikan dengan adanya tagihan siswa yang tidak dikirim. Meskipun Guru sudah berulangkali melakukan penagihan, namun siswa masih dengan tenangnya melaukan diam tanpa bergerak alias tidak kirim tagihan.

Ketika ada pembelajaran tatap muka ( PTM ) walaupun hanya terbatas waktu dan siswa, namun bisa sedikit mendapatkan hasil. Maksud dari hasil di sini bukan berarti hasil tagihannya dilengkapi, namun hasil dari perilaku siswa selama di rumah saat pandemi. Yang dilakukan siswa diantaranya ; bermain game online, buka youtube, membantu Orang Tua berjualan, menunggu adik, dan ada juga yang dengan jujur memang malas mengerjakan tugas.

Apabila melihat perilaku siswa yang seperti tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa kemandirian siswa lebih terjamin apabila belajar secara tatap muka. Belajar dengan Guru, siswa tidak mungkin menunda-nunda pekerjaan yang harus dikerjakan. Siswa akan merasa mempunyai tanggung jawab walaupun sama-sama dikerjakan dengan mandiri.

Sebelum pandemi sekolah full day, tidak ada siswa yang merasa kebanyakan tugas. Padahal masuk sekolah seharian penuh. Itu karena memang dengan dipantau oleh Guru, siswa merasa diperhatikan, diperlakukan dengan baik, sekolah bagi siswa merupakan tempat anak melakukan sesuatu dengan aman, terarah, nyaman, tenang, dan damai. Bukan berarti di rumah tidak demikian. Namun kenyataan siswa merasakan perbedaan yang membuat siswa sendiri merasa kurang mempunyai sifat mandiri.

Dengan pernyataan di atas bisa disimpulkan bahwa belajar mandiri di saat pandemi covid-19 memang bermanfaat. Dengan belajar mandiri bisa memotivasi pada diri sendiri. Siswa mandiri selalu memiliki inisiatif atau dorongan dari dalam dirinya untuk memulai suatu proses pembelajaran yang mampu untuk menetapkan tujuan sendiri. Dengan cara bersikap dan pemikiran yang ikhlas.

Sebetulnya setiap tugas atau latihan yang diberikan oleh Guru itu pasti sudah ada jawabannya. Tugas siswa hanya mencari di mana dan bagaimana cara menyelesaikan soal dan tugas itu. Yang penting siswa harus tekun dan semangat dalam mengerjakan tugas, jangan malah menyerah tanpa mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru.

Semakin banyak tugas atau latihan-latihan yang siswa lakukan maka akan semakin mudah menyelesaikannya. Ibarat pisau makin diasah makin tajam, kalau tidak pernah dipakai malah tumpul. Setiap tugas belajar dari Guru akan melatih kemampuan siswa untuk lebih terampil memecahkan soal-soal pelajaran.

Kesimpulannya bahwa pelajar Indonesia mandiri adalah pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya, dengan kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi, regulasi diri. Pelajar Indonesia juga memiliki kemandirian yaitu memiliki rasa tanggung jawab terhadap proses dan hasil belajarnya untuk mencapai tujuan belajarnya. Hal itu dapat dilakukan dengan belajar dengan kesadaran dan tanggung jawab sendiri. Orang Tua dan Guru hanya sebagai fasilitator dan motivator dalam mencapai tujuan pelajar.

Harapan semuanya dengan adanya profil Pelajar Pancasila ini, bahwa Pelajar Indonesia menjadi pelajar yang mandiri, pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Saatnya berlatih untuk mandiri, teliti serta bertanggung jawab! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *