Implementasi Gotong Royong Pada Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

JATENGONLINE – Implementasi berasal dari kata “to implement” yang berarti mengimplementasikan. Yang artinya adalah kegiatan yang dilakukan melalui perencanaan dan mengacu pada aturan tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan tersebut. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia implementasi berarti penerapan atau pelaksanaan.

Implementasi/im·ple·men·ta·si/ /impleméntasi/ n pelaksanaan; penerapan: pertemuan kedua ini bermaksud mencari bentuk — tentang hal yang disepakati dulu. Jadi implementasi adalah suatu tindakan untuk menjalankan rencana yang telah dibuat, itu artinya implementasi hanya dilakukan jika terdapat sebuah rencana.

Gotong royong adalah istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama demi mencapai suatu hasil yang diinginkan. Jadi, gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama dan bersifat suka rela dengan tujuan untuk memperlancar suatu pekerjaan agar menjadi mudah dan ringan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gotong royong mempunyai arti bekerja bersama-sama (tolong-menolong, bantu-membantu).

Menurut Sakjoyo dan Pujiwati Sakjoyo mengemukakan gotong royong merupakan adat istiadat tolong menolong antara warga dalam berbagai macam lapangan aktivitas sosial, baik berdasarkan hubungan tetangga kekerabatan yang berdasarkan efisien yang sifatnya praktis dan ada pula aktifitas kerja sama yang lain. Sedangkan gotong royong menurut Mubyarto adalah kegiatan bersama untuk mencapai tujuan bersama.

Gotong royong adalah istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama demi mencapai suatu hasil yang diinginkan bagi masyarakat tersebut.. Jadi dapat disimpulkan bahwa gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan masyarakat secara bersama dan bersifat suka rela dengan tujuan untuk memperlancar suatu pekerjaan agar menjadi mudah dan ringan. Bekerja sama dengan hati yang ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun juga. Tidak semua orang mau untuk gotong royong bekerja bersama-sama, oleh karena itu perlu pembahasan yang professional.

Penulis sengaja mengambil judul seperti di atas, mengambil dari salah satu Profil Pelajar Pancasila. Yang mana bahwa Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu cirri keberhasilan Sekolah Penggerak. Pelajar Pancasila ini memiliki 6 ( enam ) karakter utama yaitu beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan gobal, bergotong royong, dan kreatif.

Perlu diketahui bahwa terciptanya Pelajar Pancasila merupakan salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Penguatan Karakter ( Puspeka ) untuk mendukung visi dan misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.

Dengan adanya sumber daya manusia ( SDM ) yang unggul merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi secara global dan mampu berperilaku sesuai dengan nila-nilai Pancasila. Harapannya agar Pelajar Pancasila mengerti tentang moralitas, keadilan sosial, spiritualitas serta memiliki cinta kepada agama, manusia dan alam.

Saat ini di tengah-tengah pandemi adanya covid-19, masyarakat dituntut untuk gotong royong menghadapi secara bersama-sama. Secara bersama-sama disini tetap dipantau oleh petugas yang terkait. Sebelum pandemi yang namanya gotong royong merupakan sifat yang sudah ada pada setiap individu dan situasi apapun. Dalam hidup bermasyarakat setiap orang tidak akan jauh dari hidup gotong royong.

 Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, hal tersebut yang membuat gotong royong dianggap sebagai kepribadian dan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan Bangsa Indonesia.Oleh karena itu perilaku gotong royong sangat perlu untuk ditanamkan dalam setiap elemen atau lapisan masyarakat yang ada di Indonesia. Adanya kesadaran setiap elemen masyarakat dalam menerapkan kegiatan gotong royong bisa membuat hubungan persaudaraan makin erat. Sehingga dengn hubungan baik bagi masyarakat akan membuat hati dan pikiran menjadi tenang. Itu juga yang dicari oleh semua orang, ingin hidup dengan tenang. Hidup tenang maka akan muncul kebahagiaan. Itulah yang diharapkan manusia hidup di dunia ini untuk mencarai kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Di lingkungan pendidikan sangat dibutuhkan untuk selalu gotong royong antara Guru,Siswa dan Orang Tua. Mereka harus bekerja bersama-sama saling membantu agar bisa berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Sebagai contoh misalnya di saat pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) secara daring, apabila diantara ke tiganya tidak ada kerjasama maka sudah dipastikan hasilnya tidak akan maksimal. Sudah sepantasnya kalau gotong royong menjadi budaya bagi masyarakat bangsa Indonesia.

Penulis berharap dengan tulisan ini masyarakat bisa semakin memahami dengan makna gotong royong. Ini merupakan perilaku masyarakat untuk bekerja sama dalam memecahkan suatu permasalahan ataupun menjaga suatu lingkungan. Dengan begitu makan akan meningkatkan tali persaudaraan dan kebersamaan antar warga yang satu dengan warga yang lainnya. Apabila masyarakat mampu untuk bekerja sama maka akan membuat suatu pekerjaan itu akan terasa menjadi lebih ringan dan akan mempercepat suatu pekerjaan.

Kenyataan di saat pandemi seperti sekarang ini, bahwa gotong royong sama sekali tidak mengenal perbedaan sehingga ketika gotong royong dilaksanakan, maka semuanya akan merasakan sama derajadnya. Bekerja sama untuk saling menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan agar kehidupan di lingkungan menjadi lebuh baik. Dengan bekerja sama menjaga protokol kesehatan, akan mempererat tali persaudaraan dan kesersamaan sesama masyarakat.

Dengan bekerja bersama-sama akan muncul rasa kebersamaan dalam setiap pekerjaan yang dilakukan, jadi perlu untuk senantiasa dijunjung tinggi dan dilestarikan agar makin lama gotong royong tidak makin memudar. Dalam menjunjung tinggi gotong royong ini akan memiliki nilai yang luhur dalam kehidupannya. Apabila gotong royong ini selalu dilakukan dengan baik, sukarela tanpa imbalan apapun, maka pekerjaan atau kegiatan akan berjalan dengan mudah, lancar dan ringan.

Saat ini menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM ) Darurat yang berlaku mulai tanggal 3 – 20 Juli 2021. Artinya bahwa  PPKM Darurat ini meliputi pembatasan-pembatasan aktivitas masyrakat yanglebih ketat daripada yang selama ini sudah berlaku. Hal itu dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus corona yang terus meningkat. Dengan adanya ini maka, manusia sebagai makhluk sosial, mempunyai keikhlasan berpartisipasi untuk kebersamaan. Mempunyai kesadaran untuk saling membantu serta mengutamakan kepentingan bersama atau umum. Untuk menjaga keselamatan bersama, peningkatan atau pemenuhan untuk kesejahteraan. Sudah seharusnya untuk berusaha menyesuaikan dan integrasi atau penyatuan kepentingan sendiri dengan kepentingan bersama.

Dengan kita semua gotong royong bekerja sama untuk melakukan pekerjaan / kegiatan agar menjadi baik, maka akan mencerminkan kebersamaan yang akan tumbuh / muncul dalam lingkungan masyarakat. Kebersamaan dilakukan  terjalin dalam gotong royong ini akan sekaligus melahirkan persatuan antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Gotong royong artinya member tauladan agar setiap orang akan mudah rela untuk berkorban apa saja misalnya berkorban waktu, tenaga, pemikiran, dan lain-lain. Yang akhirnya muncul untuk tolong menolong, yang membuat gotong royong ini jadi saling bahu membahu menolong satu sama lainnya.

Bahkan Allah lewat Q.S. Al-Maidah : 2 memerintahkan saling tolong-menolong atau bergotong royong tersebut :وتعا ونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.Quraish Shihab menjelaskan, dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan yakni segala bentuk dan macam hal yang membawa kepada kemaslahatan duniawi dan atau ukhrowi. Tolong-menolonglah kamu dalam ketaqwaan, yakni segala upaya yang dapat menghindarkan bencana duniawi dan atau ukhrowi, walaupun dengan orang-orang yang tidak seiman dengan kamu. Ayat ini merupakan prinsip dasar dalam menjalin kerja sama dengan siapapun (meskipun berbeda keyakinan agama) selama tujuannya adalah kebajikan dan ketaqwaan. (Shihab, 2011).

Dengan pernyataan di atas bisa disimpulkan bahwa gotong royong di saat pandemi covid-19 memang bermanfaat. Dengan gotong royong bisa memotivasi pada diri sendiri, selalu memiliki inisiatif atau dorongan dari dalam dirinya untuk memulai suatu pekerjaan / kegiatan yang mampu untuk menetapkan tujuan. Dengan cara bersikap dan pemikiran yang ikhlas.

Kesimpulannya bahwa gotong royong adalah bekerja sama dalam menghadapi darurat kemanusiaan yang sedang melanda. Mereka mempertaruhkan harta, martabat, jiwa dan raga demi menyelamatkan setiap insan manusia. Masyarakat harus menyadari pentingnya konsistensi pemaknaan gotong royong secara menyeluruh dalam penanggulangan pandemi Covid-19. Sehingga tidak akan mengesampingkan bahwa sesungguhnya pengelolaan darurat pandemi tidak terlepas dari gerakan gotong-royong dengan saling menjaga demi bertahan hidup di masa pandemi ini.

Harapannya agar roh gotong-royong dalam masyarakat Indonesia yang sesungguhnya tidak pernah luntur. Bahkan gotong royong juga akan menyadarkan bahwa makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan makhluk sosial lainnya. Hal ini sangat relavan dalam penangulangan Covid-19 di Indonesia saat masyarakat perlu menyadari pentingnya menjalankan protokol kesehatan demi saling melindungi, membantu tetangga yang terinveksi Covid-19, hingga menjalankan langkah-langkah dari Pemerintaah dalam menekan angka penyebaran virus Covid-19.

Membantu dengan cara gotong royong memberikan sesuatu kepada orang lain bukan berarti kita menjadi rugi. Jika manusia dengan melakukan gotong royong itu mengukurnya dengan materi dan hitungan matematis, mungkin saja merasa berkurang karena telah memberikan sesuatu kepada orang lain. Padahal sejatinya sikap melakukan gotong royong  itu tidak akan rugi sama sekal. Asalkan nilai pemberian dengan bergotong royong bekerja sama itu dilandasi dengan ketulusan, keikhlasan, dan juga keimanan.

Dalam hal ini, bekerja sama gotong royong membantu dalam kebaikan seberapapun besar dan kecil nilainya pasti akan terasa ringan apabila dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Dengan menyadari bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Allah semata, maka budaya gotong royong untuk bekerja sama, saling berbagi dan peduli dalam Islam pun begitu kuat.

Saatnya berlatih untuk gotong royong dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan berupa apapun! (*)

Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *