Peribahasa Jawa ‘Diobong Ora Kobong, Disram Ora Teles”

JATENGONLINE – Peribahasa Jawa adalah suatu bentuk gaya bahasa yang digunakan oleh orang Jawa yang bertujuan untuk memberi nasihat, sindiran, bahkan teguran terhadap orang lain.Bentuk lain dari peribahasa Jawa atau pepatah berupa kelompok kata yang padat, singkat, mudah dipahami dan mudah dihapalkan namun berisi berbagai norma yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup.

Dalam masyarakat Jawa jaman dahulu, peribahasa Jawa diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan ( Jawa : gethok tular ). Kemudian bahasa penyampaiannya secara lugas, perbandingan dan yang menggunakan perumpamaan. Meski begitu isinya tetap mudah disaring dan mudah dimengerti oleh orang yang sedang dinasehati.

Peribahasa diobong ora kobong, disiram ora teles, artinya diperlakukan apapun tetap tidak akan berpengaruh. Menjadi manusia / pribadi yang ulet, tekun, tangguh menghadapi ujian dan rintangan, hingga berhasil merengkuh kemuliaan serta kejayaan. Bisa juga diartikan sebagai pribadi / orang yang sakti, ditekan, dihina, disia-siakan tetapi tetap sukses. Bisa dikatakan bahwa peribahasa ini menggambarkan kondisi seseorang yang luar biasa. Dibawah tekanan dan kondisi yang sangat tidak menguntungkan sekalipun ia tetap berjuang keras untuk mencapai kesuksesan. Penulis sengaja mencari materi seperti judul di atas, sekedar untuk mengingatkan diri sendiri agar selalu mempunyai pendirian yang kuat dalam kondisi atau situasi apapun juga.

Selain itu juga mudah-mudahan dengan membaca tulisan ini hati selalu tergugah untuk tetap berdoa kepada Allah SWT, baik dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang. Penulis juga sengaja mengajak para pembaca bahwa menjadi manusia yang hidup di dunia yang penuh sandiwara ini agar selalu mendekatkan diri kepada Allah agar selamat dari gangguan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Tidak sedikit orang yang merasa tidak senang apabila melihat orang lain bahagia. Bahkan justru sebaliknya, ada orang susah namun malah orang lain bahagia. Jamannya baru jaman edan kalau tidak ikut-ikutan edan tidak kebagian. Kalau yang diikuti itu baik dan benar tidak ada masalah. Bagaimana kalau yang diikuti itu salah dan menjerumuskan?

Itulah sebabnya kita sebagai manusia yang kepengin hidupnya aman, tenteram dan bahagia marilah kita melakukan kehidupan ini dengan apa adanya saja. Tidaklah muluk-muluk , ibarat naik gunung ingin segera mencapai puncaknya. Yang harus dilalui adalah jalan yang kadang naik kadang turun, kadang halus kadang kasar. Ibarat roda kadang di atas kadang di bawah. Janganlah mudah kena pengaruh dari orang lain yang belum tentu baik. Dalam kenyataannya, tidak ada manusia yang terlepas dari harapan dan keinginan untuk mendapatkan bantuan dari orang lain atau dari Yang Maha Kuasa.

Apalagi dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah maju demikian pesatnya, membantu manusia untuk mendapatkan dan memenuhi keperluan hidupnya. Dalam hal moril, ilmu pengetahuan dan teknologi belum atau dapat dikatakan tidak akan mempu membantu manusia, karena memang hal-hal yang bersifat moril dan batiniah berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan dan teknologi.Boleh jadi manusia tidak selamanya merasakan kebutuhan seperti yang sudah disampaikan di atas. Tetapi pada saat-saat tertentu, orang akan membutuhkan bantuan, yang kadang-kadang tidak jelas sumbernya.

Sebagai seorang manusia yang beragama, kita meyakini bahwa sumber dari segala kekuatan dan kekuasaan itu ada pada Allah. Bahkan Dia menyuruh manusia supaya bermohon kepada-Nya, dan Dia berjanji akan mengabulkan permohonan ( doa-doa ) hamba-Nya. Kalau kita sudah mempunyai dasar pengetahuan yang seperti itu, maka kita tidak akan mudah kena pengaruh dari orang lain.

Diperlakukan bagaimanapun juga bahkan sampai yang memperlakukan itu sudah tidak mempunyai jalan lagi, kita tetap tegar karena Allah. Orang hidup memang banyak ujian, ibarat anak sekolah maka akan bertambah pandai. Ujian apapun yang kita terima, berusaha untuk tidak putus asa. Sebagai contoh, di saat baru membuka bisnis banyak kendala yang datang misalnya waktu untuk keluarga berkurang, kendaraan masih meminjam, modal juga masih sebagian pinjaman.

Nah dengan berkurangnya waktu untuk keluarga dan pinjaman kendaraan ataupun pinjaman modal merupakan ujian juga. Jadilah manusia/ pribadi yang ulet, tangguh dan jangan lupa selalu berdoa memohon kepada Allah agar segera diberi kemudahan dan kelancaran dalam berbisnis yang akhirnya mendapatkan rejeki yang melimpah dan barokah, tetap tidak lupa untuk selalu bersedekah. Jadi ingat akan peribahasa ini “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Penulis sendiri merasakan, ketika masih bersama Orang Tua dengan anak yang berjumlah 7 ( tujuh ) anak dan semuanya sekolah. Rumah beralaskan tanah, dinding berupa anyaman dari bambu, tidak ada seorang anakpun yang malu apalagi marah dengan keadaan. Orang Tua memang selalu mendidik anak-anaknya untuk selalu hidup dengan apa adanya.

Pribadi atau Manusia yang bisa hidup dengan apa adanya itu bisa dibuktika dengan tidak pernah merasa kaget ataupun heran bila melihat apapun. Melihat orang sukses tidak akan kaget, namun berdoa agar supaya bisa sukses seperti mereka. Ada orang yang serba kekurangan, selalu mendoakan dan tidak sungkan-sungkan untuk ikut membantu walaupun hanya dengan tenaga.

Dengan pembahasan seperti tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa seberat apapun cobaan hidup, kita harus kuat dan tangguh menghadapinya. Hindari untuk selalu sambat ( menggerutu )!. (*)

*)  Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *