Retnoning Ambarawati, S.E., M.Si: Menjadi Dosen Adalah Panggilan Jiwa dan Tuntutan Hati Nurani

SOLO – Dosen adalah kelompok intelektual, bagian dari lapisan menengah masyarakat. Mereka memiliki akses dan kemampuan mengakses pengetahuan, maka memiliki wawasan masa depan, termasuk mampu melihat peluang, dan meramalkan masa depan.

“Setiap dosen harus suka belajar, lebih teliti, suka mengajar, dapat menerima kritik, lebih memperdalam literasi, pandai berbicara di hadapan banyak orang, dan selalu up to date, sekaligus kritis terhadap segala hal.” jawaban yang diberikan Retnoning Ambarawati, SE., M.Si. ketika ditanya mengenai apa saja yang harus digali seorang dosen dalam menjalankan tugasnya.

Dosen adalah profesi yang dituntut untuk melakukan banyak hal, imbuh wanita sederhana dan tengah baya ini, selain dihadapkan dengan serangkaian tugas, juga ada tuntutan lain yang perlu dipenuhi. Salah satunya perlu selalu up to date dengan segala perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, maupun isu terkini.

Hal ini menurut Retno, begitu wanita paruh baya ini akrab disapa, sangat penting, sebab selama menekuni profesi dosen dari tahun 2015, menjumpai banyak sekali tantangan, dimulai dari seringnya bertemu dengan dosen atau pengajar lain yang lebih berpengalaman dan jauh lebih dewasa dalam segala hal. Tanpa kemampuan baik dalam mengikuti perkembangan zaman, maka para dosen muda akan selalu merasa tertinggal dan minder.

Tak hanya itu, Retno menilai selama mengajar sering sekali berhadapan dengan mahasiswa yang pola pikirnya lebih kritis dibandingkan dengan anak sekolah. Karakter mahasiswa di era milenial inilah yang kemudian menuntut dosen untuk terus berkembang. Sehingga setiap ada pertanyaan detail dan kritis dari mahasiswa.

Dan dipilih tempat untuk mengabdikan diri dan berbagi ilmunya pada STIE Wijaya Mulya, selain dekat domisili juga alasan keluarga, dimana kala itu masih memiliki ‘momongan’ anak kecil yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama. Jiwa mengajar dan membagi ilmunya tak pernah padam pada dirinya, yang menuntut disalurkan.

Dosen pun perlu mengembangkan diri sesuai dengan bidang keilmuan yang ditekuninya. Sebab yang namanya ilmu pengetahuan dijamin akan terus berkembang. Berbagai penelitian yang dilakukan dosen bersama mahasiswa maupun pihak-pihak lain sudah tentu mendukung perkembangan tersebut.

Sehingga mau tidak mau dosen harus selalu mengupgrade ilmu yang dimiliki. Supaya bisa menyampaikan ilmu yang relevan atau terkini, dan tentunya akan jauh lebih bermanfaat untuk para mahasiswa. Mengajar mahasiswa milenial dengan berpedoman pada ilmu yang bersumber dari buku-buku terbitan beberapa dekade yang lalu, tentu menjadi ilmu yang usang.

Belum lagi, ketika dosen saat ini dihadapkan pada metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi yang membuat penggunaan teknologi semakin intens. Dosen dengan segunung pengalaman mengajar pun, akan berhadapan dengan pengalaman baru mengajar di depan layar komputer maupun gadget.

“Tanpa keinginan dan niat yang kuat untuk selalu up to date maka dosen bisa dengan mudah tertinggal. Materi yang disampaikan akan dianggap usang dan tentunya semakin tidak nyaman dengan profesi dosen yang ditekuni,” kata dosen yang kini sedang menempuh gelar Doktor di UII.

Kali pertama memutuskan menjadi dosen adalah karena muncul keinginan untuk berbagi ilmu dengan banyak orang, yakni mahasiswa. Sekaligus memiliki motivasi kuat untuk meraih impian dengan cara dikejar dan melakukan tindakan nyata. Bukannya diraih dengan hanya bermodalkan angan-angan atau rencana saja.

Terjun langsung di profesi mulia ini, menyadari bahwa tugas dosen tak hanya mengajar. Dosen dihadapkan pada banyak tugas yang poin utamanya termuat di dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mencakup kegiatan pendidikan (mengajar tadi), penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tak cukup sampai disitu, dosen juga memiliki tugas tambahan seperti kewajiban untuk banyak belajar dan upgrade ilmu setiap saat khususnya di bidang keilmuan yang ditekuni. Namun diakuinya, harus tetap enjoy.

Sebab Retno berprinsip bahwa keputusan menjadi dosen tidak merugikan orang lain. Sehingga memutuskan untuk menikmati segala prosesnya, dan fokus untuk menuntaskan semua tugas dan tanggung jawab dosen di dalam Tri Dharma.

Teladan memiliki makna sebagai sesuatu dari proses mengajar, hubungan interaksi selama proses pendidikan, yang kemudian hari atau masa depan mahasiswa menjadi contoh yang ditiru dan digugu. Dosen yang teladan bukanlah dosen yang menjaga wibawa atau image saja, tetapi keteladanan dosen dapat terpancar lewat perilaku, tutur kata, sikap, dan perbuatan merupakan sebuah komunikasi yang efektif dalam pendidikan karakter.

Secara psikologis, pengaruh perilaku adalah pengaruh bawah sadar peserta didik, yang akan muncul kembali saat ia melakukan aktivitas dalam bersikap, bertindak atau menilai sesuatu pada dirinya dan orang lain.

Keteladanan seorang dosen akan tertanam dalam benak peserta didik jika dalam interaksi dosen dan para mahasiswa dilakukan secara profesional. Proses pemindahan keteladanan diri, pengetahuan diri, dan perilaku profesional seorang dosen kepada peserta didik, dibutuhkan teknik mendampingi, menolong, dan mendidik.

Dosen yang memiliki jiwa enterpreneur ini menjelaskan bahwa menjadi dosen harus siap untuk menjadi seorang pembelajar. Prinsip ini terus dipegangnya hingga hari ini.

Di tahun ini juga, dikatakannya menjadi titik balik ingin lebih maksimal dalam menekuni profesi dosen. Bukan berarti sebelumnya tidak maksimal, hanya saja muncul kesadaran bahwa menjadi dosen tidak hanya perlu mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat menggunakan basis Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Akan tetapi juga harus terus menjadi pembelajar. Termasuk ketika terpilih menjadi Ketua Panitia Wisuda STIE Wijaya Mulya Periode XIII, yang baru saja di selenggarakan, dimana harus bertanggungjawab atas kelancaran pelaksanaan wisuda, memberikan pengarahan dan pemikiran dalam mempersiapkan pelaksaan kegiatan, mengkoordinir perencanaan dan pelaksanaan dan melaporkan penyelenggaraan wisuda kepada Ketua STIE Wijaya Mulya.

Melalui kegiatan inilah, selama berbaur dengan mahasiswa, Retnoning Ambarawati kemudian menyimpulkan bahwa seorang dosen tidak hanya wajib menjadi pengajar yang baik. Namun juga harus menjadi pembelajar, sehingga bisa terus berkembang dan memahami betul apa yang dibutuhkan mahasiswa untuk punya prestasi akademik, lulus tepat waktu, dan mengingat almamaternya.

“Dosen harus terus belajar agar bisa menjadi role model yang baik bagi mahasiswa. Sehingga kebutuhan untuk menjadi pembelajar tidak hanya dengan menaikan strata pendidikan saja,” tegasnya

Terus belajar untuk bisa menjadi dosen yang sebenarnya, dimana menjadi sosok yang figurnya memang layak ‘digugu lan ditiru’ (patut menjadi sosok yang menginspirasi). Sebab salah satu kepuasan menjadi dosen adalah melihat mahasiswa bisa bersikap dengan baik, lulus tepat waktu, mengingat almamater, sekaligus bisa sukses di masyarakat.

Sementara itu, pendidikan karakter dewasa ini merupakan suatu yang menjadi harga mati bagi pembentukan karakter mahasiswa di perguruan tinggi. Salah satu unsur penting dalam pendidikan karakter mahasiswa di perguruan tinggi adalah dosen. Dosen memiliki peran penting dalam pendidikan karakter di perguruan tinggi.

Dosen menjadi aktor utama dalam pembentukan dan pengembangan karakter para mahasiswa dengan keteladanan. Sebelum mendidik karakter para mahasiswa, seorang dosen paling tidak memiliki karakter yang sesuai dengan tugas utama seorang dosen. Selain itu, peran dosen yang amat penting yang tidak dilupakan adalah mendidik, mengajar, melatih, membimbing, dan mengevaluasi.

Produktif ala Retno
Retno yang terus berusaha untuk selalu up to date untuk memudahkan kegiatan mengajar sebagai dosen. Meski disibukkan dengan aktivitas diluar kampus, mulai dari bisnis yang digelutinya hingga kegiatan sosial dan mengejar impian melanjutkan studi S3 atau Doktor.

Berkegiatan diakuinya juga menjadi jembatan bagi dosen untuk bisa terus up to date. Sebab membutuhkan proses yang meliputi, mencari ide baru, dan kemudian menuangkannya dalam gagasan kemudian mengeksekusinya.

Proses itu kemudian menuntut dosen untuk belajar dari berbagai sumber, entah itu buku maupun literasi lain dan pengalaman yang didapatkan selama proses mencari ide dan gagasan.

Meskipun dihadapkan dengan banyak tuntutan, namun berusaha untuk menikmati proses menjadi dosen. Adalah panggilan jiwa dan tuntutan hati nuraninya.

Sementara Merdeka Belajar Kampus Merdeka memiliki kelebihan dan kekurangan dari merdeka belajar di dunia pendidikan. Dengan mengetahui seluk beluk tentang kelebihan dan kekurangan dari program tersebut, diharapkan para pelaku pendidikan dan pemerintah bisa menyempurnakan program ini agar bisa dijalankan dengan sangat baik di kemudian hari. – ian

Riwayat Pendidikan
Retnoning Ambarawati, S.E., M.Si
S1    :  UPN Veteran Yogyakarta
S2    :  Universitas Padjajaran Bandung
CFP :  UGM
S3    :  UII Yogyakarta ( masih disertasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *