Begini Pelaksanaan Asesmen Nasional di SMP Negeri 8 Surakarta

Oleh : Sri Suprapti, sie Publikasi SMP Negeri 8 Surakarta

JATENGONLINE, SOLO – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud ) Nadiem Makarim resmi mengganti Ujian Nasional ( UN ) 2021 menjadi Asesmen Nasional ( AN ). Hal ini disebut sebagai penanda perubahan terkait evaluasi pendidikan di Indonesia.

Dikutip dari website Kemdikbud, Asesmen Nasional 2020 merupakan pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah. Perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian murid secara individu, tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

Asesmen Nasional dirancang tidak hanya sebagai pengganti ujian nasional dan ujian sekolah berstandar nasional, namun sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan. AKM juga merupakan langkah dari memerdekakan siswa dengan bebasnya peserta didik dari diskriminasi sistemik yang berdampak pada pembelajaran atau pemerolehan materi.

Dalam pelaksanaan AN, Mendikbud mengatakan bahwa perubahan mendasar pada Asesmen Nasional ini adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, tetapi mengevaluasi dan memetakan system pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

Asesmen Nasional ini terdiri dari 3 ( tiga ) bagian,antara lain : 1) Asesmen Kompetensi Minimum yaitu mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai hasil kognitif; 2) Survei Karakter , mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran; 3) Survei Lingkungan Belajar, mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran.

Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd. pada hari Senin, 13 September 2021 pukul 07.00 – 07.15 WIB di halaman sekolah melakukan apel dengan peserta didik yang menjadi pilihan acak dari Kemdikbud melalui dapodik untuk melakukan AN sejumlah 45 anak dan 5 anak cadangan. Dalam apel tersebut Kepala Sekolah menyampaikan bahwa Asesmen Nasional diberlakukan untuk semua jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, dan pendidikan menengah atas. AN tidak diselenggarakan pada akhir jenjang pendidikan sebagaimana Ujian Nasional, melainkan di tengah jenjang pendidikan, yaitu pada kelas 5, 8, 11. Hal ini untu mendorong Guru dan Sekolah melakukan tindak lanjut perbaikan mutu pembelajaran setelah mendapatkan hasil laporan Asesmen Nasional. Jadi bukan sekedar untuk mengathui capaian hasil belajar siswa sebagai satu diantara syarat kelulusan.

Oleh karena itu dalam pelaksanaan AN menggunakan metode survei. Dan metode ini dilakukan dengan mengambil sampel siswa diambil secara acak dari setiap sekolah. Berbanding terbalik dengan Ujian Nasional, yang menggunakan metode sensus di mana semua siswa di seluruh Indonesia wajib mengikutinya. Model soal Asesmen Nasional yang diberikan lebih bervariasi bukan hanya sekedar pilihan ganda dan urauan singkat sebagaimana yang diberikan dalam Ujian Nsional. Salah satunya adalah literasi membaca dan numerasi.

Metode penilaian Asesmen Nasional dan Ujian Nasional berbeda, namun meskipun keduanya berbasis computer. Asesmen Nasional menggunakan metode penilaian Computerized Multistage Adaptive Testing ( MSAT ). MSAT ialah metode penilaian yang mengadopsi tes adaptif, di mana setiap siswa dapat melakukan tes sesuai level kompetensinya.

Melalui Ketua Panitia Asesmen Nasional, Rori Khoirudin, M.Pd.Fis. menyampaikan dalam proses AN ada beberapa hal yang menjadi masalah antara lain: masih banyak anak yang tidak paham IT ( huruf kapital,scroll tanggal lahir, tanda bintang, menghapus huruf, dll.), masih ada anak yang belum bisa menggunakan mouse ( tikus ), anak yang tidak bisa membuka soal berikutnya karena belum mengenal fitur-fitur di soal AN, token baru muncul 30 menit kemudian dari jadwal yaitu pukul 08.03 WIB., bakhan ada soal yang tidak lengkap ( ada jawabannya tetapi tidak ada soalnya ).

Disampaikan juga, bahwa ruang yang dipakai untuk AN ada 3 ( tiga ) yaitu ruang 1 dengan 17 siswa, hadir semua ; ruang 2 ( dua ) dengan 17 siswa hadir 16, tidak hadir 1 anak ( karena masih kelas 7 ) ; dan ruang 3 ( tiga ) dengan 11 anak, hadir semua. Pelaksanaan AN dimulai dari pukul 07.25 WIB peserta sudah masuk di ruang Komputer. Dengan didampingi oleh proctor terdiri dari : Hesti Setyaningsih, S.Kom., F. Nita Purwaningsih, S.Ag., dan Imam Khoiruddin, M.Pd.I. peserta AN melakukan survei dengan situansi dan kondisi aman, nyaman dan terkendali. Sebelum dimulai mengerjakan soal, dengan dipimpin oleh proktor F. Nita Purwaningsih, S.Ag. diawali dengan doa agar pelaksanaan AN berjalan dengan lancar dan berhasil sesuai dengan yang diharapkan.

Ketika selesai mengerjakan AN, sie Publikasi bertemu dengan beberapa peserta AN dan menanyakan tentang kendala yang ditemui saat mengerjakan soal. Mereka menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu tidak ada kendala. Dan ketika ditanya sudah pernah mengoperasikan komputer apa belum karena pelajaran TIK sudah dihapus, mereka dengan serentak menjawab sudah. Ketika ditanya tentang SD dari mana, ternyata memang sekolah di jenjang sebelumnya sudah mengoperasikan komputer.

Asesmen Nasional diselenggarakan selama 2 hari dengan opsi pengerjaan secara daring. Perlu dikatahui bahwa dalam pembelajaran di SMP untuk mata pelajaran TIK sudah tidak ada alias dihapus, ini merupakan salah satu bukti yang menjadi kendala oleh siswa yang sama sekali belum pernah mengoperasikan komputer. Untuk itu harapan dari Guru TIK yang sekaligus proktor, Hesti Setyaningsing, S.Kom.,berencana akan diadakannya bimbingan TIK dan tahun depan akan ada informatika. Oleh karena itu penting sekali diadakannya simulasi menyiapkan siswa untuk belajar mengoperasikan komputer. Semoga hasil AN mampu memberikan manfaat, bukan hanya nilai belaka. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *