Nasihat Dari Saloka “Gajah Ngidak Rapah” Mereka yang Melanggar Aturannya Sendiri

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 8 Surakarta

Nasihat / na·si·hat / n 1 ajaran atau pelajaran baik; anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik: lebih baik aku turuti — ibu; beroleh — dari kepala kantornya; 2 ibarat yang terkandung dalam suatu cerita dan sebagainya; moral: cerita itu mengandung — bagi kita sekalian; agama nasihat yang bersumber dari ajaran agama;

— genetika upaya seseorang atau lembaga untuk memberikan nasihat tentang sifat dan cara penurunan suatu kebakaan dari suatu generasi ke generasi berikutnya, terutama berkaitan dengan penyakit atau kelainan fisik agar diketahui cara pencegahan atau pengobatan sehingga tidak menurun; ( Wikipedia ).

Pengertian nasihat menurut Prayino :2011 adalah suatu petunjuk yang memuat pelajaran terpetik dan baik dari si penutur yang bisa dijadikan sebagai bahan referensi ataupun alasan bagi si mitra tutur untuk melakukan sesuatu hal.

Nasihat
Nomina (kata benda)
Ajaran atau pelajaran baik
Anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik.
Contoh: lebih baik aku turuti nasihat ibu, beroleh nasihat dari kepala kantornya
Ibarat yang terkandung dalam suatu cerita dan sebagainya
Moral. Contoh: cerita itu mengandung nasihat bagi kita sekalian

Makna nasihat bagi Allah adalah iman kepada-Nya, mentauhidkan, menjalankan perintah serta menjauhi laragan-Nya. Begitu pula dengan nasihat untuk Kitabullah adalah mentadaburkannya. Adapun nasihat bagi Rasululah artinya beriman kepadanya dan kepada semua yang dibawa dan mengikuti beliau

Bagaimanakah cara menyampaikan nasehat kepada teman?
berkata dengan sopan, agar nasehat yg kita berikan di terima dengan baik.
Penuh dengan kesabaran, agar tidak memancing amarah orang yang kita nasehati.
Tahu betul nasehat apa yang di perlukan oleh orang tersebut.
Lebih baik menasihati orang saat sendirian, karena akan lebih mudah untuk di terima.
Item lainnya…

Nasihat, bukan nasehat. Itu artinya “ajaran atau pelajaran baik”. Atau lainnya berarti “anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik”. Maka bagi siapa pun, menasihati atau menasihatkan pasti “pesannya baik, sesuatu yang positif”. Ada ajaran moral yang baik dari nasihat. Jadi sangat salah, bila ada orang menasihati sesuatu yang buruk, apalagi jahat. Di tengah wabah COVID-19, nasihat baik itu penting. Bahkan di era media sosial seperti sekarang pun nasihat yang baik sangat penting. Karena selain sebagai koreksi, nasihat juga sebagai evaluasi atas apa yang pernah diucapkan dan dilakukan. Agar ke depan jadi lebih baik, bukan lebih buruk. Maka nasihat adalah sesuatu yang baik.

Maka nasihat, tidak tercermin dari kata-kata yang buruk. Tidak ada nasihat pada kata-kata yang jelek atau jahat. Berdalih nasihat. Tapi mencela, mencaci, menghujat, membenci, menyalahkan atau merendahkan orang lain. Sama sekali itu semua bukan nasihat. Berdebat yang tidak ada manfaatnya pun bukan nasihat. Coba cek di media sosial. Gayanya seperti bernasihat. Tapi nyatanya, kata-kata yang dipakai tidak baik, tidak pantas. Sekali lagi, itu bukan nasihat.

Kenapa nasihat? Karena manusia itu makhluk yang labil. Pemilik salah dan khilaf. Kan tidak ada manusia yang sempurna. Namanya manusia. Satu waktu berbuat baik, di waktu lain berbuat buruk. Saat ingat baik, saat lupa jahat. Hari ini benar, bisa jadi besok salah. Atas dasar itu tiap manusia pasti butuh nasihat, antara dinasihati atau menasihati. Tujuannya, untuk mengingatkan. Agar jadi lebih baik, jadi lebih benar, jadi lebih ingat. Itulah nasihat.

Maka siapa pun, selagi masih jadi manusia. Jangan pernah merasa paling benar dan mengklaim tidak pernah salah. Manusia itu pasti ada salahnya. Dan orang yang antinasihat, kemungkinannya hanya dua: 1) sombong atau 2) bebal. Merasa diri paling benar, sementara yang lain salah.

Sejatinya, nasihat itu untuk memperbaiki diri. Nasihat pun boleh disebut sebuah “investasi” kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Karena tanpa nasihat, manusia akan sulit dikontrol. Bahkan bisa menabrak aturan apa pun. Menjadi liar dan tidak terkendala. Hingga akhirnya membuat kerusakan dan kerugian. Tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain.

Karena saya percaya. Nasihat itulah yang diperlukan banyak orang hari ini. Agar jadi lebih baik, lebih bijak, lebih rendah hati, dan lebih peduli. Karena “sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS 103:2-3).

Saloka singkatnya merupakan bahasa ungkapan dalam masyarakat Jawa. Sebagai sebuah ungkapan, saloka memiliki arti kiasan, bersifat tetap, dan mengandung pengandaian. Hal yang diandaikan adalah orang dan diandaikan dengan barang atau hewan. Saloka (?????) yaiku unen-unen ajeg panganggone ngemu surasa pepindhan kang dipindahake wonge. Kalimat kalimat saloka bersifat tetap artinya tidak dapat diubah menjadi basa krama inggil.

Semua hal di dunia ini dapat dibuat menjadi saloka sehingga isi sebuah saloka beragam, ada yang berupa nasihat, teguran maupun sindiran.

Saloka adalah kalimat perumpamaan yang mengumpamakan perilaku seseorang dan orang tersebut juga turut dimasukkan dalam kalimat perumpamaan. Contoh:

Gajah ngidak rapah: Orang yang meng melanggar peraturannya sendiri atau orang yang menjilat ludahnya sendiri.
Gajah ngidak rapah, tegese wong gedhe kang njarak utawa nerak aturane dhewe.(artinya; orang besar yang melanggar aturannya sendiri).

Gajah ngidak rapah. Pepatah Jawa itu berarti orang yang melanggar perintah atau larangannya sendiri. Pepatah tersebut juga mengingatkan bahwa orang bisa saja mengeluarkan aturan, larangan, dan kebijakan tertentu namun belum tentu ia dapat menjalankannya dengan baik.

Menurut cerita kakek saya yang pernah menjadi abdi dalem Kraton Jogjakarta, pada zaman dahulu prajurit kraton berburu dengan berbagai cara. Salah satunya memasang jebakan untuk menangkap harimau atau hewan lain. Jebakan itu dibuat dengan menggali tanah, lalu ditutupi ranting-ranting dan daun-daun kering yang disebut rapah. Binatang yang akan ditangkap diharapkan menginjak daun-daun itu dan terperangkap. Konon, bila Sultan ikut berburu, maka prajurit dalam jumlah besar beserta kuda dan gajah akan dilibatkan dalam perburuan.

Nah, apa jadinya bila gajah kerajaan yang terperosok ke dalam jebakan? Peristiwa itulah –meski tidak ada yang tercatat resmi- yang disebut sebagai “gajah ngidak rapah” atau gajah menginjak jebakan. Gajah dengan penunggangnya yang seharusnya tahu kemana dia tidak boleh melangkah, justru menginjakkan kaki ke sana. Dalam peribahasa di atas, gajah sebagai binatang besar disimbolkan sebagai pemimpin. Seorang pemimpin yang mengerti aturan atau bahkan membuat aturan, tidak semestinya melanggarnya.

Aturan yang dalam budaya Jawa tidaklah terbatas pada aturan hukum, tetapi juga etika. Pemimpin misalnya, tidak pantas mengucapkan kata-kata kasar atau perilaku bejat karena ia menjadi panutan rakyatnya, meski yang dilakukan tidak melanggar undang-undang. Nah, saat ini kita sedang menyaksikan “gajah-gajah” yang menginjak-injak aturan dan etika.

Masih banyak contoh dari peribahasa “gajah ngidak rapah” yang kita temui sehari-hari. Bahkan jangan-jangan kita sendiri melakukannya. Saya sering menyuruh anak saya cepat-cepat mandi bila hari beranjak sore. Anak sulung saya biasanya akan menggerutu karena disuruh mandi saat asyik bermain. Toh dia menurut. Sampai suatu hari, saat saya perintahkan mandi, dia bertanya, “Bapak emangnya sudah mandi?” Sejak saat itu saya baru menyuruhnya mandi bila saya sudah mandi juga. Pernahkah Anda menyuruh orang lain melakukan sesuatu namun Anda sendiri tak mengerjakannya?

Maka sekali lagi, saya yakin mereka semuanya tidak akan berbuat yang mencerminkan peribahasa jawa “Gajah ngidak rapah”. Gajah merupakan personifikasi dari orang yang punya kekuasaan, kewenangan, atau kekuatan. Ngidak berarti menginjak. Rapah adalah daun tebu atau dedaunan sebagai simbol dari sumpah, aturan, atau kode etik. Gajah ngidak rapah berarti orang yang punya kekuasaan, kewenangan, atau kekuatan, tetapi melanggar sumpahnya sendiri, menabrak aturannya sendiri, atau merusak kode etiknya sendiri. Peribahasa tersebut merupakan wewaler (pantangan) bagi hidup siapapun.

Mengapa begitu? Pengalaman telah memberi pelajaran kepada orang banyak bahwa hidup ini ternyata tidak gratis. Setiap orang itu ngunduh uwohing pakarti (memetik buah dari perbuatannya sendiri), cepat atau lambat, sekarang atau waktu yang akan datang. Kitab Suci juga mengajarkan yang lebih mandes, “jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat , maka kejahatan itu juga untuk dirimu sendiri (Al-Isra’:7). (*)

Gajah ngidak rapah iku paribasan sajeroning Basa Jawa sing tegesé nrajang wewaleré dhéwé. Saka Wikipédia Jawa, bauwarna mardika basa Jawa

Saat semua negara termasuk Indonesia sedang berjuang melawan pandemi virus corona, masih saja banyak masyarakat yang abai, tetap berkerumun tanpa menggunakan masker. Bahkan ada yang melakukan penolakan PSBB secara terbuka. Fakta yang lebih ekstrim kita lihat di Amerika dan banyak negara lain, di tengah pandemi saat ini, justru demonstrasi besar-besaran dan penjarahan massal di pusat perbelanjaan. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Fenomena civil disobedience atau ketidakpatuhan sipil ini bisa kita telaah dengan teori Psikologi Sosial. Menurut Kurt Lewin, Bapak Psikologi Sosial mengatakan perilaku seseorang (behaviour) dipengaruhi aspek pribadi (personal) dan lingkungan (environment).

Demikian masalah ketidakpatuhan atau disobedience juga bisa dijelaskan dua penyebab utama: faktor psikologis dan juga faktor lingkungan.
Ketidakpatuhan dari aspek psikologis pernah diteliti oleh behavioural scientist bernama Jack Brehm pada 1966 dengan memperkenalkan teori psychological reactance yang mengatakan, “ketika seseorang dibatasi hidupnya atau diambil haknya, ia cenderung akan ‘memberontak’ atau mengambil kembali kebebasan yang hilang”.

Teori psychological reactance atau reaktansi psikologis sering disebut juga reverse psychology. Semakin dilarang seseorang, justru akan semakin melawan. Contoh praktik teori ini di kehidupan sehari- =hari sudah sangat familiar. Misalnya, ada larangan membuang sampah di depan gang, tak bisa dipungkiri justru sampah paling banyak terkumpul di situ.

Ketidakpatuhan masyarakat selama PSBB ini dapat muncul sebagai bentuk perlawanan, karena mungkin sebagian masyarakat merasa ada kebebasan atau hak yang dapat diambil. Misalnya, ketika merasa kehilangan pendapatan karena tempatnya berjualan ditutup pemerintah agar tak terjadi kerumunan. Akan ada pertentangan batin antara patuh dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Dalam kasus yang lebih ekstrim, terjadinya kerusuhan dan demonstrasi besar-besaran diberbagai negara yang ironisnya justru terjadi di tengah pandemi. Tidak hanya di Amerika, namun juga New Zealand, Perancis, Jerman dan masih banyak lagi. Mengapa bisa demikian?

Seperti yang kita ketahui, penyebab kejadian di Amerika ini adalah adanya insiden kematian George Floyd oleh oknum Polisi di Amerika. Polisi sebagai simbol hukum dan kepatuhan justru mengambil hak paling mendasar yang dimiliki manusia, yaitu hak untuk hidup. Hal ini yang membuat reaktansi psikologis masyarakat untuk tidak mau patuh lagi pada hukum dan bahkan pada presidennya. Sehingga terjadilah kerusuhan yang terjadi di mana-mana.

Kondisi ini yang dapat dikategorikan sebagai civil disobedience. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Henry David Thoreau pada 1894. Civil disobedience adalah tindakan perlawanan terhadap aturan/ hukum yang dilakukan dengan sadar, dinyatakan dan dipertontonkan di muka umum.

Tujuannya hanya satu, yaitu meminta agar negara atau pemerintah mengubah peraturan atau kebijakannya yang dianggap tidak adil, tidak bermoral atau mengancam hak seseorang. Apalagi jika oknum penegak hukum yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat, justru mengambil hak hidup seseorang. Hal ini jelas tidak konsisten.

Civil disobedience di masa pandemi bisa muncul karena ada ketidakpercayaan sebagian masyarakat pada pemerintah yang dianggap tidak konsisten dalam membuat kebijakan. Misalnya, jika tempat ibadah harus ditutup sementara waktu, seharusnya demikian pula untuk terminal, pelabuhan, atau bandara juga harus ditutup. Atau jika ibadah haji terpaksa dibatalkan, maka ijin tempat hiburan, kelab malam juga harus ditahan dulu.

Atau berita lain ketika disatu sisi sebagian masyarakat tengah tertimpa musibah PHK karena pandemi, sisi lain tersiar kabar banyak Tenaga Kerja Asing yang diterima masuk ke Indonesia, hal ini jelas mengusik nurani. Hal-hal seperti ini dikhawatirkan bisa menyulut civil disobedience.

Dalam situasi pandemi seperti ini sebagai warga negara harus patuh dengan anjuran dan imbauan pemerintah. Namun yang tidak kalah penting, pemerintah juga harus konsisten dan menjadi contoh yang baik bagi warganya. Pantang Gajah Ngidak Rapah, demikian kata pepatah Jawa; pembesar jangan melanggar aturan yang dibuat sendiri.

Pemerintah harus tegas dalam mengawal penegakkan aturan namun tak kalah pentingnya juga menjaga hak warga untuk tetap hidup, dan mendapat penghidupan. Civil disobedience ini bagaikan pandemi itu sendiri. Jika tidak ada kepatuhan, kedisiplinan, dan konsistensi baik dari masyarakat maupun pemerintahnya, maka disobidience, ketidakpatuhan, ketidaktaatan akan menular dan merusak tatanan yang sudah kita bangun. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *