STIE Wijaya Mulya Sarasehan dan Diskusi Batik, Di Hari Batik Nasional 2021

JATENGONLINE, SOLO – Bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional, 2 Oktober, Civitas Akademik Sekolat Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Wijaya Mulya (WIMA) Surakarta menggelar Sarasehan dan Diskusi Batik di Ruang Seminar kampus setempat, Sabtu (2/10/2021).

Acara tersebut menghadirkan Ketua STIE WIMA Dr. Sri Isfantin Puji Lestari, S.E., M.M, selain melaksanakan protokol kesehatan ketat, pesertanya pun terbatas dari kalangan dosen dan staf, mengingat masih pandemi.

Pada paparannya Sri Isfantin menyampaikan, memang tidak berlebihan sebutan bahwa kita negara super power di bidang kebudayaan salah satunya adalah Batik. Karena, bukankah sejak dalam kandungan proses kebudayaan telah ditata untuk kita. Ngapati atau Mitoni, Memperingatai empat bulan dan tujuh bulan usia kandungan.

“Dalam Ngapati atau Mitoni tersebut, salah satu properti yang biasa dikenakan calon ibu jabang bayi adalah motif cuwiri. Yang tetap dikenakan bayi sampai menginjak masa untuk mengenakan batik motif parangkusumo di masa remaja, dengan harapan berlaku teguh, dibukakan pintu-pintu rizki dan kelak bakal memperoleh kemuliaan,” lanjutnya.

Andreas dari Staf TU, mendapatkan doorprise usai menyebut motif batik dan filosofinya

Kemudian ketika dewasa dan meniti pernikahan, maka dikenakanlah batik Sidomukti, Semen Rante sebagai simbolisasi harapan meraih kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga, hingga tiba masanya mengenakan batik Satrio Manah agar bisa noto manah, menata hati saat melepas anak yang telah dirawat sekian lama, dipinang orang.

“Rasa-rasanya hampir seluruh sendi kehidupan kita termanifestasi dalam batik dengan segala filosofis motifnya. Dari sebelum lahir hingga diberi penghormatan terakhir dengan batik motif Parang Slobog. Sebuah pengharapan di tengah-tengah kematian,” imbuhnya.

Jika biasanya motif-motif tersebut hadir untuk simbolisasi harapan personal, ada satu motif batik yang diciptakan sebagai simbolisasi persatuan Nusantara, yaitu Batik Motif Sawunggaling. Hal ini membuktikan bahwa salah satu warisan nenek moyang dan merupakan simbol persatuan yang harus selalu dilestarikan.

Sukamdiani dari Dosen, mendapatkan doorprise usai menyebut motif batik dan filosofinya

“Jika bukan kita maka siapa lagi ? itulah pertanyaan sekaligus pernyataan yang sering sekali muncul tetapi benar adanya. Marilah kita berbangga diri karena setiap motif yang kita kenakan hari ini tercipta maksud yang tersirat dan penuh dengan keindahan,” kata Ketua STIE WIMA mengakhiri paparannya.

Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Pada tanggal ini, beragam lapisan masyarakat dari pejabat pemerintah dan pegawai BUMN hingga pelajar disarankan untuk mengenakan batik.

Pemilihan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober berdasarkan keputusan UNESCO yaitu Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, yang secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

“Selain filosofi dan makna, hal yang membedakan batik Indonesia dengan batin negara lain terletak pada proses pembuatannya,” terang Isfantin.

Dimana proses pembuatan batik dilakukan secara tradisional, yakni menggunakan canting tungku kecil (anglo) yang masih dipertahankan hingga sekarang. Dan penggunaan pewarna alami sudah dimulai sejak berabad-abad yang lalu.

Seluruh dosen dan staff STIE Wijaya Mulya peserta diskusi berfoto bersama usai acara

Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan batik adalah menumbuhkan kesadaran akan keunggulan batik, menumbuhkan minat, kesetiaan, lalu bertindak dengan mengajak pihak lain untuk melestarikan batik.

“Sebagai anak bangsa hendaknya kita paham tentang peringatan hari batik nasional. Karena batik merupakan warisan budaya yang perlu kita jaga dan lestarikan,” imbuh Ketua STIE WIMA usai menyerahkan doorprize kepada peserta sarasehan yang bisa menyebutkan motif batik berikut filosofinya.

STIE WIMA berharap kepada generasi muda yang menjadi generasi penerus bangsa untuk menjunjung tinggi dan menghargai Batik sebagai kebanggan dan budaya bangsa Indonesia.

Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia. Dalam situs resminya UNESCO tersebut juga menjelaskan bahwa Batik Indonesia mempunyai banyak makna serta simbol yang bertautan dengan kebudayaan lokal, status sosial, alam serta sejarah batik itu sendiri. (ian)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *