IHGMA Datangi Kadisporapar Provinsi Jawa Tengah, Keberatan Sertifikasi CHSE Dibebankan Hotel!

JATENGONLINE, SEMARANG – Situasi Pandemi telah menjadi pukulan telak bagi industri pariwisata dan perhotelan di seluruh Indonesia. Hal ini berdampak terhadap banyaknya tenaga kerja di bidang perhotelan yang pada akhirnya harus di rumahkan untuk sementara waktu atau bahkan mengalami PHK.

Sementara hotel dengan managemen yang ada berupaya keras untuk bisa bertahan, minimal bisa menghidupi karyawan dan memenuhi kewajiban tetap atau fixed cost yang tidak bisa dihindari dalam operasional. Sementara itu pemerintah bersama dengan Kemenparekraf sudah berhasil menginisiasi gerakan CHSE untuk seluruh hotel dan restaurant juga tempat-tempat wisata di Indonesia.

Hal ini bertujuan untuk menjadikan hotel dan tempat wisata lainnya sebagai tempat yang aman, bersihdan diharapkan bisa menjauhkan pengunjung dari virus dan penyakit lainnya. Akan tetapi pada kenyataannya di lapangan, CHSE yang sudah digaungkan sejak awal pandemic dan sudah di implementasikan oleh hotel–hotel yang sadar dengan fungsinya, tidak sepenuhnya mendatangkan impact positif bagi hotel. Terutama setelah kebijakan pemerintah yang bertubi-tubi dalam pembatasan kegiatan masyarakat membuat hotel semakin terpuruk.

Beberapa pengurus dan anggota IHGMA ditemui Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Drs. Sinoeng Noegroho Rahmadi, MM. Kamis (21/10/2021)

Sekretaris Jenderal IHGMA DPD Jawa Tengah Wening Damayanti menegaskan, dengan begitu pun fungsi CHSE yang sudah diikuti oleh ratusan hotel demi menyelamatkan eksistensi dan operasional nya seperti tidak ada artinya.

“Setelah CHSE sudah berlangsung dan dilaksanakan ditahun pertama, tahun kedua di masa Pandemi CHSE kembali di isyaratkan untuk menjadi tolok ukur keamanan dalam penyelenggaraan acara dan tempat wisata untuk kembali beroperasional. Akan tetapi untuk kali ini sertifikasi CHSE ini tidak lagi di fasilitasi pemerintah, sehingga masing -masing tempat harus mengupayakan secara mandiri dan berbiaya,” kata Wening.

Hal ini tentu saja menjadi sebuah beban tersendiri bagi hotel dan managemennya, lanjutnya, terlebih saat ini bidang usaha perhotelan sedang berusaha untuk bangkit dan segera pulih kembali.

Menanggapi berbagai polemik dan keluhan para pelaku bisnis pariwisata dan perhotelan, IHGMA DPD Jawa Tengah ingin menyuarakan aspirasi kepada pemerintah untuk melihat kembali fungsi CHSE dan implementasi nya di lapangan, serta kelonggaran untuk bidang perhotelan supaya bisa mendapatkan kembali sertifikat CHSE tanpa dibebani biaya.

Kamis 21 Oktober 2021 beberapa pengurus dan anggota IHGMA mendatangi kantor Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Drs. Sinoeng Noegroho Rahmadi, MM. untuk beraudiensi dan berdiskusi mengenai hal tersebut.

Hotel adalah salah satu tempat yang sangat peduli dengan standard protokol kesehatan, dan selalu melakukan pengontrolan yang sangat ketat terhadap karyawan sampai kepada service yang sampai ke tamu hotel. Apalagi dalam situasi Pandemi ini screening terhadap karyawan yang bertugas, tamu yang datang, kebersihan area sampai fasilitas yang di sediakan semuanya dimonitor sangat ketat untuk menjaga terjadinya penularan Covid 19 di area hotel.

Akan tetapi walaupun demikian, tetap saja pada saat di sampaikannnya kebijakan publik oleh pemerintah, pihak hotel menjadi salah satu pihak yang terdampak paling berat. Hal ini karena adanya larangan untuk mengadakan acara di hotel, pembatasan – pembatasan kegiatan dan tamu yang menginap di hotel.

“Tentu saja hal tersebut harus disuarakan supaya mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah, bahwa hotel adalah tempat yang aman untuk menyelenggarakan acara dengan standard prokes yang ketat terutama karena sudah melaksanakan protokol yang sesuai dengan yang di syaratkan dan menjadi bahan audit dalam CHSE,” terangnya.

IHGMA DPD Jawa Tengah berharap dengan adanya penyampaian aspirasi ini, para pelaku industri pariwisata khususnya Perhotelan akan mendapatkan perhatian dan solusi untuk tetap bisa menjalankan operasional secara terukur dan termonitor, demi menyelamatkan kelangsungan hidup para Hotelier yang telah sangat terdampak selama masa Pandemi. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *