Congwayndut Tampilkan “Nyudamala” Di Panggung Musik Budaya 2021

JATENGONLINE, SOLO – Panggung Musik Budaya 2021 merupakan acara yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Kebudayaan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia melalui kreativitas dan inovasi pada seni pertunjukan. Panggung Musik Budaya 2021 menampilkan Congwayndut pada Jumat, 12 November 2021 dan Bengawan Symphony Orchestra pada Sabtu, 13 November 2021.

Acara ini dapat disaksikan secara langsung oleh penonton terbatas di Rumah Kabudayan nDalem Djojokoesoeman, Solo dan secara daring melalui kanal YouTube Dinas Kebudayaan Surakarta mulai pukul 19.30 WIB sampai selesai.

“Dinas Kebudayaan menggelar Panggung Musik Budaya 2021 sebagai salah satu upaya melestarikan kebudayaan Indonesia melalui kreativitas dan inovasi para penampil.” kata Agus Santoso Kepala Dinas Kebudayaan Kota Surakarta.

Pada Panggung Musik Budaya 2021, Congwayndut menampilkan “Nyudamala” dengan sutradara Gendut Dalang Berijasah dan komposer Sri Eko Widodo, M.Sn. Karya ini dilatarbelakangi lakon wayang purwa dari Serat Mahabarata yang menceritakan bencana di Negeri Hastinapura. “Nyudamala” dimaknai sebagai upaya manusia menjaga diri sendiri untuk mengurangi dan menghindari wabah penyakit dan bencana.

Mas Gendut, nama sapaan dalang Congwayndut menambahkan, “Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi akan bergerak. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melakukannya.” Congwayndut berprinsip menyatukan semangat berkarya dengan berinovasi untuk diterima generasi muda.

Congwayndut merupakan pertunjukan wayang alternatif dengan balutan musik keroncong yang dikemas secara kekinian untuk melestarikan wayang dan keroncong kepada generasi muda. Sanggar seni yang berdiri sejak 2010 ini, menampilkan karya-karya kreasi era modern yang berpijak pada pakem tradisi wayang purwo.

Beragam prestasi telah diraih Congwayndut, antara lain pentas kolaborasi dengan artis pop Melayu di Malay Institute Singapura; Konser Shaddow of Karmapala; dan kolaborasi Suprapto Suryodarmo, Wayang Urban, Sahita, dan Tan Going German (2017). (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *