Paguyuban PMHK Selenggarakan Pengajian Isra’ Mi’raj

JATENGONLINE, SOLO – Umat Islam dalam kehidupan sehari-hari dalam waktu setahun banyak memperingati hari-hari besar Islam. Peringatan tahun baru hijriyah, peringatan Maulid Nabi saw, peringatan Nuzulul Qur’an dan di dalam bulan Rajab, memperingati pula hari besar Islam yaitu Isra’ Mi’raj. Yang semuanya itu merupakan kegiatan rutin yang setiap saat diselenggarakan.

“Yang perlu kita renungkan apakah makna dari peringatan-peringatan yang kita laksanakan tersebut. Apakah ada pengaruhnya terhadap kehidupan kemanusiaan?” tanya H. Yusuf Noor, Pengurus PMHK sie Da’wah mantan BKBN Kota Surakarta pada tausiahnya bertempat di Aula STIESurakarta. Sabtu (5/3/2022)


Dalil mengenai Isra’ yang dilakukan oleh junjungan kita Nabi besar Muhammad saw dalam al-Qur’an terdapat dalam Surat Al-Isra’ ayat 1 yang berbunyi:

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Sedang mengenai Mi’raj diungkapkan dalam Surat an-Najm ayat 1 sampai 18. Jadi tentang Mi’raj diungkapkan dalam al-Qur’an sehubungan dengan panggilan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menerima wahyu di dalam surat an-Najm.

Ayat surat 1-11 Surat an-Najm menggambarkan peristiwa turunnya wahyu yang pertama kali ketika Nabi Muhammad di Gua Hira, sedangkan ayat 15-18 menerangkan suasana ketika Nabi Muhammad SAW mi’raj berada di Sidratul Muntaha.

Sidratul Muntaha adalah batas antara alam atas dengan alam bawah. Bumi, bulan, matahari dan semua bintang-bintang dan planet-planet adalah alam bawah. Sedangkan alam di luar alam bintang dan planet dinamakan alam atas. Sidratul Muntaha, Baitul Makmur, Luhul Mahfuzh, Surga dan Arsy Tuhan terletak di alam atas.

“Isra’ artinya adalah perjalanan Rasulullah saw pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Mi’raj artinya naiknya Rasulullah saw ke langit sampai ke Sidratul Muntaha,” terang Yusuf.

Secara kontekstual Isra Mi’raj memiliki makna simbolis yang cukup luas pengertiannya, dimana tidak hanya sekadar melakukan perjalanan dan naik dari tempat ke tempat yang lain secara harfiah. Tetapi lebih dari itu di mana seluruh perilaku Nabi Muhammad saw merupakan pedoman hidup manusia yang sempurna.

Inti dari Isra Mi’raj yang dilakukan oleh junjungan kita Rasulullah Muhammad saw adalah diterimanya perintah shalat lima waktu dalam sehari semalam langsung dari Allah SWT.

Kalau Rasulullah saw dimi’rajkan langsung menghadap Allah, maka bagi umat Islam yang beriman dengan menegakkan shalat merupakan mi’rajnya orang beriman, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang berbunyi,

“Shalat itu mi’rajnya orang-orang yang beriman.” Shalat adalah mi’raj, yakni tangga. Dengan menggunakan tangga tersebut umat Islam dapat meningkat, bertambah kuat tenaga imannya dan bertambah tinggi rohaninya.

Dengan mendirikan shalat, maka umat Islam bertambah kebutuhannya yang menjadi penyempurna shalat. Sebelum shalat wajib, wudhu, bersih dari segala najis. Perintah ini mendorong umat Islam untuk selalu hidup besih, hidup sehat dengan meningkatkan kebersihan dan kesucian dirinya. Demikian pula tempat, pakaian dan waktu shalat.

“Dengan mendirikan shalat itu, hendaknya kita meningkatkan kepada derajat para salihin, karena shalat dapat menghilangkan sifat-sifat jelek, seperti kejam, bengis dan menimbulkan sifat-sifat yang baik serta halus. Dengan melaksanakan shalat hilang sifat bakhil, malas, sombong, ujub, riya’ dan takabur. Kemudian akan timbul sifat-sifat pemurah, pengasih, rajin, dan lain-lain,” lanjutnya

Acara pengajian rutin yang diselenggarakan oleh Paguyuban PMHK sebelum ditutup dengan doa, disampaikan sambutan dari ketua koordinator Paguyuban Pensiunan Balaikota Solo H. Samsudiat.

Dengan menyampaikan hadits tentang kesabaran melalui pelaksanaan ibadah puasa, terlebih mendekati datangnya bulan Ramadhan.

“Puasa adalah bagian kesabaran, dan kesabaran adalah bagian iman. Dibulan Ramadhan kita menikmati kesempatan yang diberikan Allah untuk mempraktekkan kesabaran selama satu bulan penuh. Dan memang, kesabaran harus dipraktekkan, dijalani. Selama bulan Ramadhan kita mendapat kehormatan dan berkah, jika kita menggunakannya untuk melatih kesabaran, karena itulah Ramadhan dikatakan sebagai bulan istimewa,” katanya. (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.