Rumah Ekspor Solo Dukung Industri Batik Ke Pasar Global

JATENGONLINE, SOLO – Rumah Ekspor Solo yang merupakan hasil sinergi dari tiga Lembaga yaitu Lembaga Pembiayaan Eskpor Indonesia (LPEI), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP), menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Komoditas Fashion Batik dengan tema “Industri Batik Menuju Pasar Dunia” bertempat di Rumah Ekspor Solo-Kantor Cabang LPEI Surakarta. Rabu (9/3/2022)

Acara ini diisi oleh narasumber dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Agung Budi Darmawan, Komisaris Batik Iwan Tirta, Ricky Sjariful Haq, dan Pelaku Usaha Ekspor Batik Pria Tampan, Muhammad Andri Setiawan. FGD yang diselenggarakan secara hybrid ini, bertujuan untuk mendukung peningkatan ekspor nasional khususnya produk batik di Provinsi Jawa Tengah yang pesertanya pelaku usaha UKM se Jawa Tengah yang bergerak pada industri fashion batik.

Agung Budi Darmawan menyampaikan bahwa Pemerintah Jawa Tengah telah membentuk Tim Percepatan Akselerasi Pengembangan Pemasaran Ekspor dan telah melakukan identifikasi terhadap UKM berpotensi ekspor sebanyak total 621 UKM. Dari jumlah tersebut, di wilayah Solo Raya terdapat 45 UMKM produk batik.

Agung menyampaikan beberapa kondisi dan kendala UMKM produk batik yang terjadi di lapangan saat ini yaitu rata-rata pengrajin batik masih berfokus pada produk kain, sedikitnya UKM yang mengembangkan produknya ke arah fashion, skill dan mindset terkait keterampilan untuk diversifikasi produk juga masih kurang, terbatasnya sarana dan prasarana, harga bahan baku yang relatif tinggi dan terbatasnya informasi serta jaringan pemasaran. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Jawa Tengah adalah melakukan peningkatan kualitas dan diversifikasi produk serta pengembangan akses ke pasar.

 

Ricky Sjariful Haq, Komisaris Batik Iwan Tirta menyampaikan bahwa yang terpenting adalah belajar dari yang paling dasar, kemudian berinovasi. Sebagai UMKM tiga aspek yang perlu dimiliki, yaitu production aspect, salah satunya yaitu membuat standardisasi, technical aspect, seperti memahami produk mana yang sukses dan yang terakhir yaitu market aspect. Ricky juga menekankan bahwa batik itu spesifik dan memiliki tantangannya sendiri untuk dijual di pasar ekspor sehingga kita harus kreatif dan kolaboratif. Ricky juga berharap RES dan Pemerintah Daerah bisa membantu pelaku usaha dari aspek produksi dan market.

Muhammad Andri Setiawan dari Batik Pria Tampan menyampaikan pengalaman dalam berbisnisnya, modal awal dalam berbisnis bagi Batik Pria Tampan adalah akhlak, yaitu bagaimana berkomunikasi dengan orang, berteman, dan besosialisasi untuk mendapatkan pembeli. Andri juga menyampaikan bagaimana cara berhubungan dengan pembeli, memahami apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mengartikan bahasa yang disampaikan pembeli, lalu membuat standarisasi dalam usaha dan melihat keadaan negara tujuan.

Dengan adanya FGD ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dasar kepada para pelaku usaha apa yang harus dilakukan dan apa saja kebutuhan dan fasilitas yang bisa didapatkan dari pemerintah.

“Kami berharap melalui Rumah Ekspor Solo, para pelaku usaha dapat melakukan ekspor dengan standar produk dan ukuran berskala internasional. Dan juga kami berharap bahwa mereka bisa memasarkan produk mereka baik secara nasional dan internasional”, tambah Nirwala, Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa, DJBC yang juga hadir sebagai Keynote Speaker. (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.