Mengapa Ada Peringatan Hari Kartini?

Raden Adjeng Kartini ( 21 April 1879 – 17 September 1904 ) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia.Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan Pribumi-Nusantara ( Wikipedia – Ensiklopedia Bebas ).

Peringatan hari Kartini ini didasari untuk selalu mengingat besarnya jasa dari Kartini kepada bangsa Indonesia terutama untuk kaum Wanita. Bahkan Pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Semua orang tahu bahwa Raden Ajeng Kartini atau biasa dikenal dengan nama popular R.A. Kartini ini merupakan sesosok wanita yang sangat tangguh untuk mendasari adanya emansipasi wanita di Indonesia. Lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Yang mana Kartini waktu masih kecil merasa tidak bebas untuk menentukan pilihannya dan juga merasa diperlakukan berbeda dengan saudara ataupun teman-teman prianya. Karena beliau merasa terlahir sebagai seorang wanita, merasa kurang adil dengan kebebasan teman-teman wanitanya yang berada di luar negeri khususnya dengan para wanita Belanda.

Dengan latar belakang yang demikian itulah di hati Kartini tumbuh keinginan dan tekad di dalam hati untuk menjadikan para wanita Indonesia juga mempunyai persamaan derajat yang sama dengan laki-laki, bahwa setiap wanita juga memunyai hak untuk memperoleh pendidikan. Demi mewujudkan keinginan tersebut, maka Kartini mendirikan sekolah gratis untuk gadis Jepara dan Rembang.

Dengan adanya sekolah gratis tersebut, para wanita diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Dengan berjalannya waktu, kemudian Sekolah Gratis itu diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan “Sekolah Kartini” di berbagai tempat, seperti Semarang, Yogyakarta, Cirebon, Surabaya, Malang, dan Madiun. Sebenarnya perjuangan dan tekad Kartini untuk menyamakan derajat kaum wanita dengan kaum pria telah membuahkan hasil, yaitu dengan dibuktikan telah berkembangnya sekolah-sekolah untuk wanita, namun kenyataannya tidak seindah dengan hasil yang telah dicapai. Karena Kartini sakit-sakitan dan wafat setelah melahirkan putra pertamanya yaitu pada usia 25 tahun tanggal 17 September 1904.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Kartini sering menulis surat-surat yang ditujukan kepada para sahabatnya di Belanda, yang berisi tentang keinginan Kartini untuk melepaskan kaum wanita di Indonesia dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. Kumpulan surat-surat itu, kemudian dijadikan buku yang berjudul Door Duistermis tox Licht, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Beberapa kutipan yang berasal dari buku tersebut yaitu: “Tahukah engkau semboyanku? “Aku mau!” Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”. ” Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. kehidupan manusia serupa alam” (Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang).

Berdasarkan kutipan surat di atas , maka dapat disimpulkan bahwa di dalam hidup di dunia ini kita harus selalu berpikir positif, membuat sugesti kepada diri sendiri bahwa diri kita mampu untuk mengalahkan susah, berat, dan takut yang berada di dalam diri kita sendiri. Yakinkan bahwa kita bisa. Pada setiap hal yang baik ataupun buruk pada dasarnya semua akan segera berlalu, di setiap ada kesusahan pasti aka nada kemudahan. Oleh karena itu sebagai manusia yang beriman, janganlah berputus asa dalam menggapai cita-cita. Meskipun terkadang kita berkata untuk menyerah, namun harapan kita selalu berkata untuk mencobanya lagi.

Setiap mengahadapi kesusahan, janganlah terlalu bersedih.Selalu ingat dengan Buku yang Berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Penulis sendiri sudah membuktikannya ( bukan curhat lho ). Pemikiran Kartini yang lugas menentang budaya turun temurun tentang peran perempuan yang lazimnya hanya menjalani kehidupan sebagai isteri, ibu dan dianggap tak mampu melakoni peran laki-laki. Hal inilah yang perlu diketahui oleh laki-laki, untuk tidak meremehkan perempuan. Sudah banyak terbukti bahwa perempuan jaman sekarang tidak seperti dulu lagi. Tidak jamannya lagi membanding-bandingkan antara istri dan perempuan lainnya!.

Peringatan hari Kartini, apabila mau merenungkan dengan sungguh-sungguh ini sekaligus memperingatkan kepada laki-laki untuk tidak memperlakukan perempuan dengan seenaknya saja. Perlu diketahui dengan memperingati hari RA Kartini ini, perempuan-perempuan akan terus memperjuangkan cita-cita dengan cara-cara yang positif, salah satunya dengan mengup-grade diri menjadi pribadi yang berpendidikan dan berkelas baik dalam lingkup keseharian ataupun lingkup sosial.

Peran perempuan dianggap tak setara dengan laki-laki. RA Kartini ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya “konco wingking”. Perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam bidang pendidikan. “Perempuan juga bisa menentukan pilihan hidup, tak harus atas paksaan orantua dan perempuan juga bisa sekolah setinggi-tingginya.

Jasa-jasa RA Kartini, mendirikan sekolah untuk perempuan sehingga perempuan yang tidak berasal dari golongan bangsawan mendapatkan kesempatan untuk bersekolah. Mencetuskan dan mengembangkan gerakan emansipasi wanita dari tulisan dan pemikiran-pemikirannya sehingga wanita memiliki kedudukan yang sejajar dengan pria dan tidak dianggap rendah.

Cita-cita luhur dari RA Kartini ini adalah ingin melihat perempuan pribumi menuntut ilmu dan belajar Gagasan baru mengenai emansipasi atau persamaan hak wanita pribumi oleh RA Kartini dianggap sebagai hal baru yang dapat merubah pandangan masyarakat. Setiap hari Kartini itu diperingati tidak hanya sebatas diperingati dengan hanya memakai pakaian kebaya. Itulah sebabnya, mengapa harus ada peringatan hari Kartini?. (*)

*) Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 8 Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.