Bank Indonesia Pertahankan Kebijakan Suku Bunga Walaupun Inflasi Mulai Naik

JATENGONLINE, JAKARTA  – Bank Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan, berharap pada inflasi yang masih terkendali , Bank Indonesia mempertahankan kebijakan suku bunga dan pada saat yang sama memangkas perkiraan pertumbuhan; BI tetap optimistis terhadap inflasi, kendati adanya risiko; Harga komoditas tinggi merupakan hal positif sekaligus negatif; Implikasi atas perkiraan: DBS Group Research merevisi perkiraan inflasi 2022; Implikasi atas pasar: Kinerja perdagangan di atas rata-rata positif untuk mata uang. Bank Indonesia pertahankan kebijakan suku bunga

Keputusan

Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 7-day repo rate di angka 3,5%, selain menegaskan kembali sikap akomodatifnya. BI menurunkan ekspektasi pertumbuhan global mengikuti proyeksi lebih rendah oleh Bank Dunia (dan kemungkinan IMF) dalam beberapa pekan terakhir karena tantangan geopolitik, normalisasi kebijakan, dan strategi ketat zero-Covid Tiongkok menimbulkan risiko terhadap prospek. BI juga menurunkan kisaran perkiraan pertumbuhan Indonesia untuk 2022, walau tidak signifikan, untuk mencerminkan kehati-hatian atas lingkungan global tidak menguntungkan, dan peningkatan tidak terlalu berarti dalam permintaan domestik. Inflasi diperkirakan masih dalam kisaran target 2-4%, dengan ulasan kebijakan menyiratkan bahwa bank sentral kemungkinan tidak akan bertindak secara tergesa-gesa dan mencermati kemungkinan inflasi tinggi bertahan, terutama inflasi inti, sebelum membuat perubahan dalam arah kebijakan.

Taksiran ekonomi

Penurunan proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,5% (vs 3,8-4,2% dalam tinjauan Maret) diikuti oleh penurunan secara marjinal perkiraan pertumbuhan Indonesia menjadi 4,5-5,3% dari 4,7-5,5% sebelumnya. Perkiraan kami tetap di angka 4,8% secara tahunan. Bank sentral memilih untuk waspada terhadap prospek perdagangan, dan mengatakan bahwa volume ekspor berisiko turun karena konflik Rusia-Ukraina, menunjukkan bahwa bank sentral memilih untuk tetap berhati-hati terkait prospek perdagangan/pertumbuhan.

Meskipun demikian, kinerja kuat sejak awal tahun mendorong mereka untuk mengusulkan agar defisit transaksi berjalan diperkecil menjadi -0,5% hingga -1,3% dari -1,1% hingga -1,9% yang dibuat dalam tinjauan terakhir. Penilaian kami terhadap neraca eksternal lebih optimistis, dengan serangkaian surplus perdagangan kuat, termasuk pada Maret, yang diperkirakan akan menghasilkan surplus transaksi berjalan kecil untuk tahun kedua secara berturut-turut.

Perihal inflasi, Gubernur Warjiyo menegaskan bahwa mereka akan ‘sangat berhati-hati’ dalam menafsirkan inflasi dan fokus terhadap inflasi inti dan efek tidak langsung ketimbang kenaikan harga yang diatur. Terlepas dari penundaan perubahan kebijakan ini, kami memperkirakan para pembuat kebijakan memperhatikan tekanan harga, terutama kenaikan dalam angka inflasi inti. Inflasi domestik dikontrol saat paralel dengan Thailand dan Filipina, tetapi risiko kenaikan tidak dapat diabaikan mengingat beberapa penggeraknya, terutama potensi peningkatan varian bahan bakar yang umum digunakan dan tekanan eksternal yang tak kunjung reda.

Perkiraan

Tidak ada kebutuhan mendesak untuk mengambil tindakan segera karena risiko inflasi masih terkendali, menurut pandangan bank sentral. Selain itu, pembuat kebijakan yang lebih condong untuk menaikkan suku bunga acuan juga terkendali oleh selisih tingkat suku bunga riil positif dan kinerja relatif rupiah dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan, memberikan BI ruang memadai untuk memperpanjang bias akomodatifnya dalam waktu dekat. Namun, selisih tingkat suku bunga riil telah menyempit dibandingkan dengan tahun lalu (lihat grafik).

Berdasarkan atas ekspektasi kami bahwa inflasi inti akan meningkat secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang, bank sentral mungkin mempertimbangkan perubahan sikapnya menjelang akhir triwulan kedua dan menaikkan suku bunga acuan pada paruh kedua 2022. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah siklus pengetatan suku bunga Bank Sentral AS yang agresif, yang diperkirakan akan semakin menguat pada triwulan ini.

 

 

Inflasi adalah risiko

Inflasi kemungkinan akan menjadi perhatian utama bagi Indonesia, seperti juga di negara lain di kawasan ini. Inflasi IHK Maret meningkat menjadi 2,6% secara tahunan – kenaikan terbesar sejak 20 April dibandingkan dengan 2,1% pada Februari, dengan laju berurutan naik 0,7% dari laporan sama pada bulan sebelumnya. Inflasi inti juga naik menjadi 2,4% secara tahunan dari rata-rata 1,9% pada Januari dan Februari secara tahunan, karena tarif sewa rumah dan segmen logam mulia. Harga yang diatur naik 3,1% (versus 2,3% pada Februari) dan indeks energi meningkat 2,1% (vs 1,2%). Sub-komponen menunjukkan kenaikan secara umum, termasuk makanan, yang naik 3,6% secara tahunan versus 2,5% pada bulan sebelumnya, karena harga minyak goreng meningkat (setelah patokan harga tertinggi dinaikkan), seperti halnya cabai, protein, dll. Di antara segmen non-makanan, kontribusi terhadap inflasi umum meningkat dari pakaian & alas kaki, utilitas, kesehatan, transportasi, dan rekreasi.

 

 

Memasuki April-Mei, momentum inflasi kemungkinan akan semakin meningkat karena periode musiman Ramadan, dengan mudik juga diizinkan untuk pertama kali sejak wabah pandemi. Harga BBM beroktan tinggi juga telah dinaikkan, bersamaan dengan kenaikan tarif pajak pertambahan nilai. Secara bersamaan, penurunan jumlah kasus Covid juga telah meningkatkan mobilitas, perbaikan prospek pekerjaan (akibat pembukaan kembali dan pembukaan perbatasan internasional) dan peningkatan kepercayaan, menambah tekanan terhadap harga akibat kekurangan pasokan.

Ada beberapa risiko yang mungkin terjadi:

  • Kenaikan pajak pertambahan nilai sebesar 1% sejak April diperkirakan akan meningkatkan inflasi tahunan sebesar 0,5%

  • Penghapusan patokan harga tertinggi minyak goreng

  • Kenaikan harga Pertamax beroktan tinggi sepertiga menjadi Rp12.500/liter (seperenam dari kebutuhan BBM)

  • Harga varian bahan bakar Pertadex naik 23% pada Maret 2022 dari harga pada akhir 2021. Secara bersamaan, harga Elpiji (12kg) naik 15% selama periode tersebut, sementara kontrol harga membuat harga varian Elpiji lain tidak berubah

  • Ada kemungkinan harga Pertalite RON 90, bensin dan solar bersubsidi tinggi akan naik dalam beberapa minggu mendatang, kemungkinan setelah Idul Fitri. Harga minyak mentah Indonesia naik 55% pada Maret 2022 dibandingkan dengan akhir 2021. Asumsi harga minyak dalam belanja negara dipatok di $63pb vs harga minyak mentah Indonesia di $113pb pada Maret 2022. Kami akan memantau penyesuaian, karena varian yang umum digunakan mencakup empat perlima dari total konsumsi bahan bakar. Selain penyesuaian harga bahan bakar secara sebagian, prakarsa jangka menengah untuk mengganti bahan bakar rendah energi dengan bahan bakar beroktan tinggi dan lebih ramah lingkungan secara bertahap akan dilanjutkan.

  • Perusahaan atau produsen akan menaikkan harga setelah Lebaran

  • Indeks harga pangan global juga meningkat secara tajam, termasuk minyak goreng dan gandum (Indonesia mendapatkan seperlima pasokannya dari Ukraina), dan kemungkinan akan menaikkan biaya impor untuk mempertahankan keuntungan dan tercermin pada industri hilir, seperti, sereal/roti, produk makanan berbasis biji-bijian, selain kedelai, minyak goreng, harga pupuk.

Arah inflasi tahun ini sebagian besar bergantung pada berapa lama kontrol harga dan subsidi bertahan. Melalui peningkatan harga ritel domestik secara sebagian serta efek tidak langsung dan normalisasi permintaan setelah pandemi mereda, mendorong kami untuk merevisi perkiraan inflasi kami untuk 2022 menjadi 3,6% secara tahunan dari 3,0% saat ini dan mempertahankan perkiraan untuk 2023 di angka 2,5%.

Keuntungan dari Surplus Neraca Perdagangan

Dampak negatif material dari invasi Rusia ke Ukraina terlihat pada harga komoditas global. Bagi Indonesia, ini merupakan hikmah campuran, positif bagi perdagangan dan neraca eksternal namun negatif bagi inflasi. Kami membahas ini untuk Indonesia dalam Bank Indonesia tetap bersabar, mencermati inflasi dan blok ASEAN-6 yang lebih besar di ASEAN-6: Menakar dampak minyak dan geopolitik.

Bahkan sekalipun Indonesia adalah negara pengimpor bersih minyak, defisit ini diatasi oleh keuntungan kuat di sektor non-migas, terutama batu bara, minyak sawit, nikel, logam dasar, dll, melalui manfaat persyaratan perdagangan positif keseluruhan. Bahkan sebelum lonjakan harga komoditas terbaru, tren positif sudah mulai tahun lalu di mana harga bahan bakar mineral naik lebih dari 70% secara tahunan, diikuti kenaikan barang-barang manufaktur (termasuk minyak sawit) sebesar 53% dan batu bara sebesar 90%, antara lain. Kenaikan ini berlanjut hingga tahun ini.

Angka perdagangan Maret 2022 menyajikan paduan bagus, dengan pertumbuhan ekspor mencapai 44,4% secara tahunan, rekor tertinggi hingga saat ini, disertai dengan kenaikan impor sebesar 30,9%, yang menghasilkan surplus perdagangan sebesar $4,5 miliar vs $3,8 miliar, tertinggi dalam lima bulan terakhir. Defisit perdagangan migas lebih besar diimbangi dengan peningkatan surplus nonmigas lebih tinggi. Pengiriman migas naik 54,8% secara tahunan, tetapi impor naik 53% tahun ini, mengakibatkan defisit perdagangan melebar menjadi $2,1 miliar vs $1,9 miliar pada bulan sebelumnya. Defisit perdagangan Januari hingga Maret 2022 naik dua kali lipat menjadi $5,3 miliar vs $2,5 miliar tahun lalu. Surplus nonmigas naik menjadi $6,6 miliar vs $5,7 miliar karena pengiriman komoditas non-minyak lebih tinggi. Ekspor – pertambangan (dan lain-lain) naik 144% secara tahunan, manufaktur 30%, pertanian 7,7% pada Maret. Ekspor batubara naik 150% secara nilai dan 22% secara volume. Pada bulan tersebut, pengiriman batubara melonjak 41% karena pembelian lebih banyak oleh Tiongkok, India, Filipina, dan Eropa. Nikel melonjak tiga digit, sementara minyak sawit turun sedikit, kemungkinan karena pembatasan.

Di kolom impor, pelonggaran pembatasan memungkinkan barang-barang konsumsi naik 26% secara tahunan, bahan baku 31,5% dan barang modal naik 30% secara tahunan, kemungkinan juga didorong oleh permintaan yang dipicu oleh Hari Raya Idul Fitri. Indonesia mendapat manfaat dari peningkatan harga komoditas yang sedang berlangsung, diuntungkan oleh dampak persyaratan perdagangan positifnya. Serangkaian surplus perdagangan kuat, termasuk pada Maret, akan meningkatkan keseimbangan eksternal dan mengakibatkan surplus transaksi berjalan selama dua tahun berturut-turut bagi Indonesia. Rupiah yang relatif stabil dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan ini juga mencerminkan perbaikan pada posisi eksternalnya.

Peningkatan ekspor tetap akan diselingi oleh perubahan kebijakan dalam negeri, misalnya, langkah-langkah sementara untuk memastikan kecukupan stok komoditas utama dalam negeri termasuk batu bara dan minyak sawit atau pajak ekspor, di tengah lonjakan harga internasional. Secara keseluruhan, persyaratan perdagangan akan meningkatkan neraca perdagangan serta transaksi berjalan, menyiratkan bahwa transaksi berjalan 2022 mungkin mencetak surplus moderat untuk tahun kedua berturut-turut sebesar 0,4% dari PDB vs perkiraan kami sebelumnya, yaitu defisit sekitar -0,4-0,5%. (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.