Perayaan Emas Pernikahan Berbingkai Kesetiaan

JATENGONLINE – Beberapa waktu lalu, saya mengikuti acara resepsi syukuran atas ulang tahun perkawinan yang ke-50 dari salah sebuah keluarga lansia. Acaranya sangat meriah karena semua anak, menantu, dan cucu dari pasangan tersebut hadir. Masing-masing mereka mengungkapan rasa cinta kepada mempelai ini dengan caranya yang unik: ada yang menyanyikan lagu-lagu lawas/tembang kenangan, ada yang memberikan sekuntum mawar, ada cucu yang menyanyikan sebuah lagu tentang kesetiaan, ada yang mengungkapkannya via puisi. Kusaksikan mata kedua mempelai lansia sembab sambil berpelukan, tetapi di bibir mereka tersungging senyuman ceria tanpa kepalsuan menikmati semua persembahan hati dari anak-anak, menantu, dan cucu-cucu mereka.

Yang menarik adalah kata-kata kedua mempelai ketika memberikan kesan dan pesan dari pesta emas perkawinan mereka. Sang suami menuturkan bahwa sejak mereka berdua pacaran, mereka telah sepakat bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan tanpa pesta. Sebulan menjelang hari pernikahan, keluarga kedua belah pihak berkumpul bersama untuk membicarakan kepanitiaan dan anggaran pesta/resepsi pernikahan. Masing-masing pihak menyampaikan pendapatnya bahwa karena pernikahan mereka adalah pernikahan “sulung” (yang pertama) dari kedua belah pihak, maka pestanya harus diselenggarakan secara besar-besaran. Apalagi kedua keluarga besar adalah keluarga berpengaruh di kampung masing-masing.

Setelah masing-masing perwakilan orang tua kedua calon mempelai berbicara, tibalah saatnya calon mempelai pria menyampaikan pendapat yang mewakili mereka berdua. Dia menyampaikan bahwa mereka berdua telah sepakat bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan tanpa pesta. Karena menurut mereka berdua, cukuplah terjadi pernikahan di gereja di depan pastor, disaksikan oleh umat, dan kembali ke rumah dan melakukan aktivitas harian seperti biasa, tanpa resepsi. Kontan saja, keluarga kedua belah pihak marah besar. Namun bagi kedua calon mempelai ini, pesta dan resepsi yang mewah tidak menentukan “langgeng tidaknya perkawinan” tetapi dukungan doa dari seluruh keluarga besar. Dia menjelaskan juga bahwa mereka akan merayakan pesta secara besar-besaran jika telah memasuki 25 dan 50 tahun perkawinan.

Tidak semua keluarga sepakat dengan pendapat mereka. Bahkan paman-paman dari kedua belah pihak mengatakan bahwa jika seperti itu yang mereka inginkan, maka jangan pernah berharap bahwa mereka akan hadir di hari pernikahannya nanti. Namun mereka tetap berpegang teguh pada prinsip mereka dan hari pernikahan mereka 50 tahun yang lalu sungguh-sungguh terjadi tanpa pesta dan resepsi, bahkan sebagian besar anggota keluarga pun tidak hadir.

Adapun yang menjadi dasar pertimbangan mereka adalah: mereka tidak mau memulai hari pernikahan mereka dengan utang; mereka tidak ingin merayakan pernikahan mereka di usia dewasa dengan menggunakan uang keluarga besar kedua belah pihak, mereka ingin merayakan pesta pernikahan mereka bersama anak dan cucunya sendiri; mereka tidak mampu meminta maaf kepada ribuan orang yang menghadiri resepsi pernikahan mereka apabila di kemudian hari ternyata mereka memutuskan untuk berpisah. Dan ternyata semuanya menjadi kenyataan. Mereka berdua bisa merayakannya bersama-sama dengan anak dan cucu mereka, menggunakan hasil karya murni mereka sendiri dan tidak harus berutang untuk pesta.

Mendengar penuturan mempelai pria, semua hadiran yang hadir semalam tertawa dan memberikan tepukan tangan.

Satu hal yang membuat mereka bertahan selama 50 tahun perkawinan mereka adalah dengan menjadikan janji suci/ikrar setia di hadapan Tuhan di depan altar suci sebagai refrein lagu di dalam kesadaran mereka: “Ku-setia untukmu dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat maupun sakit.” Dan janji suci ini dibaharui setiap malam dalam doa bersama menjelang tidur.

Bagi saya pengalaman kedua mempelai ini sangat mengesankan. Karena pada umumnya semua insan berharap keluarga yang dibangun itu langgeng selamanya. Namun kalau kita melihat fakta dan kenyataan berapakah yang sampai pada pesta emas pernikahan? Dua hal yang sering menghambat suami dan isteri untuk sampai kepada jenjang yang diimpikan itu ialah perpisahan, alias perceraian dan juga kematian. Benar bahwa tujuan utama perkawinan bukan untuk mencapai keberhasilan dari segi lamanya tetapi kwalitasnya. Bahasa sederhana yang dikejar ialah kebahagiaan dan bukan pesta ulang tahunnya. Apa apalah artinya pesta 25 tahun bahkan pesta emas perkawinan kalau untuk sampai ke sana kamu merasa bagai dalam “api.” Atau karena terpaksa maka bertahan dan bukan karena cinta dan kesetiaan.

Itulah yang terbersit dalam pikiranku ketika melihat pasangan pasutri malam itu. Selama acara resepsi berlangsung mataku selalu melekat pada wajah keduanya yang sudah sangat mirip sudah sangat mirip ini. Aku tidak salah di usia mereka yang renta itu mengatakan mereka bagaikan pasangan Romeo dan Juliet.

Para sahabatku, dua sejoli yang sudah merangkak tua itu adalah manusia biasa sama dengan kita. Mereka juga kerap melewati terjalnya jalan hidup perkawinan. Bahtera mereka juga sering dihempaskan badai dan topan hidup. Mereka berhasil melewati itu semua karena mereka bersatu dalam suka dan semakin bersatu dalam duka. Mereka tetap bersama dalam untung dan semakin bersama dalam situasi malang.

Tidak ada yang kurang ketika pasangan saling berbagi rasa dalam suka dan duka. Semua rasanya lengkap ketika suami setia di sisi isterinya saat ia membutuhkan dan sebaliknya isteri tetap mendukung saat suami punya masalah. Sekali lagi bukan terutama untuk mencapai pesta 25 tahun atau pesta emas perkawinan tetapi demi sebuah impian kebahagiaan dalam suka dan duka. Maka apa lagi yang anda pikirkan selain mau berjuang untuk itu walau jalan masih panjang, impian masih membayang namun harapan tetap ada.

Siapkah mendorong dan mendukung pasangan kalau problem dan masalah keluarga terjadi? Kuatkah anda tetap mencintai dan mengasihi “dia” yang Allah telah hadiahkan untukmu dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, untung dan malang? Siapkah anda saat kegersangan hidup perkawinan melanda, kamu berdua tetap mengedepankan kebersamaan, kesetiaan dan kesabaran?

Jangan bertanya kepada rumput bergoyang, atau gunung yang tinggi, atau batu yang kokoh. Tanyalah dirimu dan hatimu, di sanalah tersimpan jawabannya? (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.