Pamitan Haji Warnai Silaturahim Syawalan dan Halal Bihalal Riyadi Palace Hotel Solo

JATENGONLINE, SOLO Hari kemenangan dimana para umat Islam semua menunggu setelah berjuang menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Dalam sebulan kita diajarkan untuk selalu menjaga diri dari nafsu, menahan lapar dan haus serta menjaga tali silaturahmi kepada sesama.

Bulan yang dianjurkan untuk melakukan sebanyak – banyaknya kebaikan dan bulan yang penuh ampunan. Dalam sebulan penuh berkah kita mendekatkan diri dengan Allah SWT dan meminta ampunan-Nya, datangnya hari kemenangan atau idulfitri digunakan untuk saling memaafkan kepada sesama. Sehingga semua kembali dalam keadaan bersih dan suci dari dosa yang telah dilakukan.

Dalam rangka Idul Fitri 1443 H, Pimpinan dan Karyawan Riyadi Palace Hotel (RPH) Solo menyelenggarakan acara Silaturahim Syawalan dan Pamitan Haji, Selasa (24/5/2022), bertempat di Ballroom hotelcsetempat.

Dalam acara ini dihadiri juga perwakilan manajemen hotel, karyawan di berbagai bagian unit kerja.

Pada kesempatan ini General Manager Riyadi Palace Hotel, M. Tito Adrianto menyampaikan, pentingnya saling memaafkan untuk instropeksi, sebagai penyemangat dan tetap eksis di industri hospitality, meskipun sebagai hotel lama di kota Solo.

“Banyaknya agenda nasional dan internasional yang digelar di kota Solo, menjadi momen yang tepat untuk selalu berinovasi dan kreatif menarik mereka menggunakan Riyadi Palace Hotel sebagai pilihan akomodasinya,” papar Tito.

Endang Dwi Lestari, Manager Marketing barisan belakang kedua dari kanan

Ucapan selamat dan mendoakan kepada Endang Dwi Lestari, Manager Marketing sebagai calon jamaah haji yang akan berangkat pada bulan Juni mendatang agar menjadi haji yang mabrur.

Serta menyampaikan kepada segenap keluarga besar RPH untuk terus meningkatkan ukhuwah dan mendukung terselenggaranya semua program yang ada. Pada kesempatan terakhir ditutup tausyiah oleh H. Marjuki sekaligus berdoa bersama lalu dilanjutkan dengan acara halal bihalal..

“Dengan semangat Idulfitri, mari kita kembali ke fitrah. Kita jadikan amal usaha ini sebagai ladang ibadah. Motifnya macam-macam, mengaktualisasikan diri dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya,” ujarnya.

H. Marjuki, saat menyampaikan tausyiah

Halal bihalal merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang dilakukan sesudah hari lebaran baik di kalangan instansi pemerintah, perusahaan dan dunia pendidikan. Kegiatan ini, lanjut Marjuki, menjadi tradisi tahunan yang unik dan tetap dipertahankan serta dilestarikan. “Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling berbagi kasih sayang pasca lebaran,” ungkapnya.

Dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia selalu tidak bisa luput dari dosa. Dosa yang paling sering dilakukan adalah kesalahan terhadap sesamanya, seperti iri hati, permusuhan dan saling menyakiti.

Di akhir sesi,disimpulkan bahwa membangun kultur Idulfitri tidak hanya sebatas dari sisi syariah, tetapi juga fenomena budaya. Melalui tradisi halalbihalal yang merupakan bagian dari kreativitas budaya menjadi warna tersendiri bagi masyarakat muslim Indonesia. (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.