Gaya Kepemimpinan di BPR Harus Berubah Bila Ingin Tetap Survive di Era Digital

Direktur Amalia Consulting berinteraksi dengan peserta workshop Empowering Leadership

JATENGONLINE, JOGJA – Pada era digital saat ini Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan profesional merupakan aset terpenting untuk mendukung keberlangsungan perusahaan, tidak terkecuali Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Apabila pengembangan kompetensi dan profesionalisme dipandang sebelah mata, maka perusahaan akan tersingkir dan tersungkur dalam persaingan bisnis yang sangat kompetitif.

Demikian pernyataan yang disampaikan Direktur Amalia Consulting, Suharno, saat menjadi fasilitator workshop Empowering Leadership Berbasis Kearifan Lokal dan Spiritual yang diselenggarakan PT BPR Subang Gemi Nasititi (Perseroda) di Patra Malioboro Hotel Yogyakarta, Jumat (17/6/2022).

Workshop diikuti 18 peserta dari jajaran komisaris, direksi, dan para kepala cabang. Nampak hadir Direktur Utama, H. Anton Abdul Rosyid, S. Sos, MM, Direktur Bisnis, Kandar Permana, S.Sos, Direktur Kepatuhan, Drs. H. Idris, Komisaris Utama Drs. H. Tarwan dan para kepala cabang.

Kegiatan berlangsung dua hari, materi hari pertama, Kamis (16/6/2022) membahas aspek hukum kegiatan usaha BPR disampaikan praktisi perbankan, Kotot Tamtaman, SH, KN.

Lebih lanjut, Suharno, yang juga dosen program studi Akuntansi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, memaparkan permasalahan yang dihadapi perusahaan di era digital saat ini, selain perubahan tehnologi informasi (TI) yang sangat cepat dan pesat, adalah alih generasi dan perubahan perilaku konsumen yang mengutamakan kecepatan dalam pelayanan.

“Diprediksi pada tahun 2025, karyawan dan pimpinan perusahaan 75 persen akan didominasi generasi milenial. Alih generasi X ke generasi Y ini tentu akan merubah pola dan gaya kepemimpinan,” tandasnya.

Memimpin generasi Y (milenial) akan lebih efektif bila menerapkan Empowering Leadership yaitu gaya kepemimpinan pemberdayaan.

“Generasi rebahan, tidak suka bila diperintah, dinasihati maupun diceramahi, maka gaya kepemimpinan harus kita sesuaikan salah satunya menggunakan empowering leadership dan dalam berinteraksi menerapkan pendekatan coaching,” tambahnya.

Dengan menerapkan prinsip coaching akan mampu memberdayakan potensi individu dan profesional tanpa harus menggurui, bawahan merasa lebih nyaman, sehingga akan membangun suasana kerja yang fun dan produktif.

Workshop berlangsung interaktif, antusias, dan fun, selain paparan materi juga dilakukan diskusi dan simulasi coaching, ditutup oleh Komisaris Utama BPR Subang, Drs. H. Tarwan, yang berharap setelah mengikuti workshop untuk menerapkan materi yang sudah dipelajari dalam pelaksanaan tugas keseharian. (*/arn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.