Om Jo: Tak Pernah Ikut Pesta Demokrasi, Tapi ‘Ribut Politik’ di Media Sosial

Sebuah Pelajaran Dalam Merawat Kebersamaan Di Tengah Perbedaan

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Politik pada dasarnya adalah sistem sosial yang dipergunakan untuk memecahkan masalah sosial dengan membuat keputusan dan menyelesaikan konflik dalam masyarakat atau komunitas tertentu.

Alasannya, lantaran tampak nyata dalam pengalaman di kehidupan sehari-hari dengan kecenderungan unsur budaya untuk fokus pada solusi yang didasarkan pada siapa yang memegang kekuasaan berbasis kekuatan (power based) atau siapa yang benar di mata hukum berbasis hak (rights based).

Namun, kadang politik juga bisa memicu terjadinya konflik. Konflik perpolitikan dalam kajian sosiologi politik biasanya terjadinya dalam diantara para elit politik dalam tipe lembaga sosial pemerintahan.

Konflik politik ini bisa menjalar kemana-mana, dan siap membikin setiap inci dari lini kehidupan kita terpecah belah menjadi musuh-musuh yang saling berhadap-hadapan setiap saat. Dari situ, kita akan menghadapi fakta hilangnya soliditas dan keutuhan dalam organisasi kita, dalam lembaga pendidikan kita, dalam duniasosial-kemasyarakatan kita, dan lain sebagainya.

Omah Ijo (Om Jo) Jaringan Lintas Kultural (JLK) yang merupakan komunitas dari Lembaga Kajian Lintas Kultural (LKLK) dalam melihat kondisi bangsa Indonesia dan secara spesifik di Soloraya dirasa terjadi disharmoni. Seakan bangsa ini telah kehilangan pegangan dan kendali.

Koordinator Ideologi & Politik Om Jo Jaringan Lintas Kultural
Ahmad Yazid Fauzan mengatakan, banyaknya disharmoni, kekerasan dan ujaran kebencian yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa sebagaimana Pancasila serta agama yang diyakini. Berencana mengadakan kegiatan yang dikemas dalam Dialog Publik dan Temu Tokoh.

“RibutPolitik Di Medsos Tapi Tak Pernah Ikut Pesta Demokrasi” – Mengambil Sebuah Pelajaran Dalam Merawat Kebersamaan Di Tengah Perbedaan, tema dialog publik dan temu tokoh yang bakal dihelat Sabtu, 25 Juni 2022.

“Bertujuan demi terbendungnya ujaran kebencian dan kekerasan di media sosial yang dapat menjadi pemicu kekerasan fisik dimasyarakat sehingga merusak tatanan bangsa Indonesia yang nasionalis dan religius,” terang Ahmad Yazid Fauzan, yang juga Ketua Panitia, Rabu (22/6/2022).

Dan, lanjutnya,tergugahnya kembali semangat toleransi dan kebersamaandiatara sesama tokoh serta masyarakat yang mulai luntur

“Terbangunya sikap saling pengertian dan lapang dada terhadap perbedaan politik, sosial, budaya dan agama yang dianut masing-masing,” pungkasnya, ditemui di sekretariat Om Jo, jalan Sultan Agung No. 11 RT 05 RW III Soko Madegondo Grogol Sukoharjo. (*/ian)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.