Ching Bing, Tradisi Mengenang Leluhur

Bagi Masyarakat Tionghoa

JO, Solo – Setiap tanggal 5 April atau setengah bulan sebelum tanggal 5 April maupun setengah bulan setelah tanggal 5 April, warga Tionghoa maupun umat Khonghucu selalu menyelenggarakan upacara sembahyangan Ching Bing. Di Kota Solo upacara yang konon sudah ada sejak sebelum Nabi Khongcu lahir ini digelar pada hari Minggu (12/4/2015).

Upacara Ching Bing yang oleh warga Solo, juga disebut dengan istilah Cembengan ataupun Sembahyang Sadranan, karena mengingat pada saat upacara, warga Tionghoa ataupun Umat Khonghucu selalu berziarah ke makam leluhur. Sedangkan istilah Cembengan muncul lantaran dahulu banyak pemakanan warga Tionghoa yang terletak disebelah perkebunan tebu, kemudian disaat upacara ini digelar selalu bersamaan dengan panen tebu.

“Saat itu para mandor tebu, selalu menyebut upacara ini dengan istilah Ching Bing-an dan selanjutnya berubah menjadi Cembengan. Di Solo sendiri di dekat Rumah Duka Tiong Ting atau tepatnya ujung jalan Kol. Sutarto ada sebuah tugu tepat ditengah perempatan yang dikenal dengan sebutan tugu Cembengan. Di daerah ini dahulu menjadi pemakaman warga Tionghia dan banyak terdapat perkebunan tebu,” ujar Haksu (ulama Khonghucu) yang memimpin upacara tersebut, Adjie Chandra.

Untuk di Kota Solo, upacara Ching Bing selain diadakan dirumah dan di makam leluhur masing-masing, juga digelar di halaman Thiong Ting, Jebres. Upacara Ching Bing di areal rumah duka warga Tionghoa ini sudah berlangsung puluhan tahun lamanya, hal ini dilatarbelakangi banyaknya makam warga Tionghoa di sekitaran Thiong Ting yang tidak terawat. “Upacara Ching Bing dilakukan didepan Kelenteng Hok Tek Cing Sien (Dewa Bumi) yang ada di halaman Thiong Ting,” katanya.

Pada upacara ini, disiapkan tiga altar. Untuk altar yang pertama yaitu altar Thi Kong (Tuhan YME), kemudian altar yang kedua adalah altar dengan sesajian vegetarian, dan altar yang ketiga adalah altar dengan sesajian umum. Pada sesajian yang dipersembahkan diatas altar vegetarian dan altar umum diatasnya ditancapkan kertas warna-warni yang bertuliskan nama leluhur yang akan disembahyangi. “Adanya yang sekarang, karena adanya yang terdahulu. Ini adalah bakti kepada orang tua dan leluhur,” jelasnya.

Upacara ini sendiri diawali dengan sembahyang di Kelenteng Hok Tek Cing Sien (Dewa Bumi). Sembahyang ini sebagai simbolis meminta izin kepada Dewa Bumi yang dianggap sebagai utusan Tuhan yang mengatur, merawat dan memelihara kehidupan alam semesta. Selanjutnya adalah penyalaan dua batang dupa oleh setiap warga Tionghoa atau umat Khonghucu. Untuk Haksu akan menyalakan lima dupa besar.

Lima dupa besar ini berarti manusia harus mengembangkan Ngo Siang (lima kebajikan), yaitu Jien (cinta kasih), Gie (kebenaran), Lie (susila), Ti (bijaksana), dan terakhir Sin (dapat dipercaya). Lima dupa ini kemudian ditancapkan di Hio Lo (tempat abu dupa) umum, Hio Lo Vegetarian, dan Hio Lo lainnya. – tyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *