Reorientasi Gerakan Mahasiswa Untuk Kemakmuran Rakyat

JO, Solo – Pasca Reformasi 1998, gerakan mahasiswa mengalami disorientasi. Berbagai hal yang dulu pernah diperjuangkan justru menyerang balik mereka. Wacana kebebasan pers, demokratisasi, hak asasi manusia, sampai kebebasan berpendapat justru membuat posisi mahasiswa terdesak.

Gerakan mahasiswa kini tidak lagi menjadi satu-satunya saluran aspirasi kepentingan masyarakat, cenderung menjadi menara gading kampus. Aksi-aksi yang dilakukan bahkan membuat mahasiswa berhadapan dengan rakyat.

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (IPPNU) Surakarta dan Sukoharjo berencana mengadakan Dialog Publik Dalam Rangka Refleksi Hari Kebangkitan Nasional dengan tema “Reorientasi Gerakan Mahasiswa Untuk Kemakmuran Rakyat” Jumat 15 Mei 2015 di di RM. Dapur Ndeso Nogiri Mbak Yun Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo 42 Mangkubumen Banjarsari.

Ketua Penyelenggara Dialog Publik, Atsani Imam Ghazali mengatakan bahwa disorientasi ini membuat mahasiswa mudah terjebak dalam wilayah politik praktis.

“Indikasinya, organisasi gerakan mahasiswa ekstrakampus yang sering kali mendominasi lembaga intrakampus memperlihatkan afiliasi yang bisa dirasakan terhadap parpol tertentu. Afiliasi tersebut bahkan seperti tidak bisa disangkal ketika mahasiswa hanya menyibukkan diri untuk merespons isu-isu elite,” terang Atsani.

Reorientasi
Hal terpenting adalah gerakan mahasiswa mempunyai tujuan bersama menumbangkan ketidakadilan dan segala macam bentuk diskriminasi. Sekalipun demikian, logika tersebut perlu dipertanyakan. Jika gerakan mahasiswa yang penting antipemerintah, ini melupakan masyarakat sebagai entitas yang diperjuangkan. Bahkan bisa cenderung terjebak pada isu elitis.

Padahal, aksi-aksi mahasiswa pada dasarnya ditujukan untuk membela rakyat, bukan dirinya sendiri. Sebuah tonggak diperlukan untuk membuat mahasiswa kembali memahami peran dan posisinya. – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *