Alfamart Tawarkan Kemitraan dengan Pelaku UMKM

Mengembangkan Wirausaha dan Upgrade Toko Tradisional menjadi Lebih Modern

Peresmian TMA Sukabumi – Corporate Affairs Director Alfamart, Solihin berfoto bersama Sekretaris Daerah Kota Sukabumi, Adjo Sardjono dan Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Sukabumi, Asep Japar, serta Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pemandu Wirausaha Indonesia (APWI), Yuyus Suryana di pelataran Koperasi Mart Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Sukabumi, Rabu (3/6/2015).

JO – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (pengelola Alfamart) mengembangkan kemitraan dengan pelaku UMKM melalui kerja sama Toko Mitra Alfamart (TMA) yang bertujuan membantu pelaku UMKM agar dapat memiliki bisnis ritel dengan pengelolaan modern, melalui sistem kemitraan dengan modal investasi yang terjangkau.

Corporate Affairs Director Alfamart Solihin mengatakan, TMA merupakan upaya perusahaan dalam mengembangkan potensi UMKM di Indonesia.

“Target yang kami sasar adalah wirausahawan baru dan pemilik toko tradisional yang ingin memiliki usaha dengan format minimarket, namun terkendala dengan modal usaha dan tidak mengerti manajemen ritel modern,” katanya di sela peluncuran TMA di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Sukabumi, Rabu (3/6/2015).

Keberadaan TMA di Sukabumi ini merupakan yang kedua setelah TMA di Cimahi yang lebih dulu beroperasi 28 Mei 2015 silam.

Bentuk kemitraan semacam ini sangat dibutuhkan bagi UMKM yang baru akan memiliki usaha atau pemilik toko tradisional yang selama ini kesulitan dalam pengelolaan toko secara modern. Dengan bergabung menjadi TMA, para wirausahawan atau pemilik toko tradisional dibantu dalam pasokan barang, pelatihan, pendampingan dan sistem.

“Untuk bermitra dalam TMA atau melakukan upgrade toko tradisional menjadi format minimarket, modal yang butuhkan berkisar Rp 55 – 75 juta,” imbuhnya.

Modal yang diperlukan tergantung dari luas toko atau tipe toko. Untuk tipe A (dengan luas 12 meter persegi) sebesar Rp 55 juta. Untuk tipe B (luas toko 15 meter persegi) investasinya Rp 65 juta. Untuk tipe C (dengan luas toko 24 meter persegi) investasinya sekitar Rp 75 juta.

“Syarat UMKM yang ingin bergabung menjadi TMA yakni telah memiliki lokasi milik sendiri atau sewa minimal tiga tahun dengan bangunan permanen dan lokasi tidak melanggar perda setempat,” imbuhnya.

Perusahaan kemudian akan melakukan survei dan membuat studi kelayakan atas lokasi yang diajukan. “Jika disetujui, tim akan membuat proposal berikut Rencana Anggaran Biaya (RAB) sehingga diketahui modal usaha yang perlu disiapkan,” jelasnya

Setelah proposal dan RAB disetujui pihak UMKM, perusahaan akan mengubah penampilan tokonya dengan format seperti minimarket termasuk display barang dan sistem komputerisasinya menggunakan software POS (Point of Sales) untuk kasir di toko.

Pemilik TMA akan mendapatkan pasokan barang dagangan dengan harga khusus yang akan dikirim oleh Member Relations Officer (MRO) melalui Toko Alfamart terdekat.

Jumlah barang yang dijual berkisar 500 item dengan komposisi 60 persen merupakan produk yang cepat terjual atau fast moving item. Harga jual barang di toko TMA juga akan lebih kompetitif karena mengikuti standar marjin yang disarankan perusahaan.

“Selama kemitraan terjalin, kami akan melakukan pendampingan secara rutin. Tak hanya itu, kami juga memberikan pelatihan operasional TMA serta mengajari mitra membuat laporan penjualan laba/rugi secara rutin melalui program yang sudah tersedia,” pungkasnya.

Setelah Cimahi dan Sukabumi, TMA juga akan hadir di kota-kota yang memiliki jaringan Alfamart.

Fasilitas Kredit Mikro

Bagi para pelaku UMKM yang memiliki keterbatasan modal, bisa mengajukan pembiayaan ke bank-bank yang telah bekerja sama dengan Alfamart terkait pembiayaan bisnis waralaba. Misalnya BRI dan BCA melalui kredit mikro UMKM dengan bunga kompetitif. – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *