Pengusaha Didorong Tanggap Bencana

JO, Solo -Para pengusaha harus tanggap bencana, khususnya di wilayah di mana perusahaan itu beroprasi. Sebab, jika terjadi bencana maka akan merugikan pengusaha tersebut baik langsung maupun tidak langsung.

Hal itu dikatakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surakarta Gatot Sutanto ketika menjadi pembicara dalam Koordinasi CSR untuk Reduksi Bencana di Jawa Tengah (Jateng) yang digelar BPBD Jateng bekerja sama dengan Hipmi Peduli Jateng di Solo, Rabu (25/11).

Gatot mencontohkan, jika dalam suatu wilayah terkena bencana maka daya beli masyarakat akan berkurang. “Makanya pengusaha harus menjadikan masyarakat sekitar tangguh agar daya belinya tinnggi,” kata dia.

Menurut Gatot, sebenarnya kepedulian para pengusaha terhadap bencana sudah cukup tinggi melalui program corporate social responsibility (CSR) yang disalurkan. Baik sebelum bencana, saat bencana, dan sesudah bencana. Hanya saja, bantuan CSR itu lebih banyak promotif dan tidak terkoordinasi dengan baik, sehingga bantuan itu tumpang tindih satu sama lain.

“Contohnya, bantuan bencana dari para pengusaha mengumpul di satu wilayah sampai berlebihan, sementara di wilayah bencana lainnya masih kekurangan bantuan,” kata dia.

Hal senada dikatakan Eko Setyowati Redjeki dari Hipmi Peduli Jateng yang tampil sebagai pembicara di sesi kedua. Pihaknya mendorong pada para pengusaha, khususnya pengusaha muda dalam penanggulangan bencana terlebih di wilayah sekitar.

“Sebaiknya dana CSR yang digelontorkan pengusaha untuk mitigasi atau pencegahan bencana yang bisa dikoordinasikan dengan pemerintah setempat atau BPBD. Bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati,” kata dia.

Lebih lanjut Eko mengatakan, kepedulian para pelaku usaha dalam penanggulangan bencana sudah diatur dalam UU No 24/2007 terutama pasal 28 yang berbunyi : Lembaga usaha mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik secara tersendiri maupun bersama dengan pihak lain.

“Bentuk kepedulian dalam siaga bencana itu antara lain dengan melakukan sosialisasi, pelatihan, bantuan sarana dan saranan seperti rumah, tempat ibadah, dan gedung sekolah. Bisa saja dalam bentuk peningkatan kesehatan masyarakat seperti pembuatan jamban, sumur, dan air bersih,” kata dia. – lan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *