Property Outlook 2016 Challenges & Opportunities

JO, Solo – Keller Williams Solo, Solo Baru dan Jogja East menyelenggarakan Seminar Property Outlook 2016 Challenges and Opportunities bersama Ir. Panangian Simanungkalit, M.Sc, Pakar Properti Indonesia di Ruang Sidoluhur Ballroom Aston Solo Hotel, Jalan Brigjen Slamet Riyadi 373 Solo. Jumat 29 Januari 2016. Mulai pukul 18.00 sampai selesai.

Potensi pasar properti pada tahun 2016 akan berada pada angka yang sama dengan tahun 2015 yakni sebesar 20%. Adapun optimisme Susanto Prinsipal KW Solo, Solo Baru dan Jogja East, mengatakan demikian, antara lain disebabkan karena penguasaan knowledge pasar dan strategi bisnis brand lokal dalam membidik pasar, lebih kuat dibandingkan brand asing.

“Kepercayaan developer nasional terhadap broker lokal masih tinggi. Hanya saja, yang masih menjadi kendala adalah persoalan Sumber Daya Manusia (SDM). Seminar menghadirkan pakar properti Indonesia selain sebagai updating kemampuan membaca peluang dan pasar, juga siap menghadapi MEA,” terang Susanto.

Ditambahkannya, peserta masih diberikan kesempatan untuk memperoleh Early Bird seharga Rp. 250.000 hingga tanggal 18 Januari 2016 dari harga tiket normal Rp. 500.000. Pendaftaran bisa dilakukan di kantor KW Solo, Solo Baru dan Jogja East atau melalui SMS ke 0812 3333 4554 / 0851 0301 0168 / 0813 3415 3153 dan 0822 2533 8887

Panangian-SimanungkalitPanagian Simanungkalit
Dikenal sebagai ahli properti, nama Panangian Simanungkalit rasanya sudah banyak didengar oleh banyak kalangan pebisnis. Bagaimana tidak, pria yang akrab disapa Panangian ini adalah pakar properti nasional sekaligus direktur PT Panangian Simanungkalit & Associates (PSA), sebuah perusahaan jaringan jasa konsultasi properti terpadu pertama di Indonesia yang bertujuan untuk menjawab kebutuhan jasa sektor properti di tengah kompleksnya masalah yang menyelimuti dunia bisnis properti.

Menjadi pebisnis properti, Panangian berbagi keberhasilan berinvestasi di sektor properti adalah mengenai pemilihan lokasi. Penyebutan area yang memiliki potensi cerah selama lima tahun ke depan pada satu kawasan disebut dengan sunrise area. Potensi tersebut ditandai dengan tingkat pertumbuhan di atas rata-rata kenaikan tanah pada umumnya. Tak hanya itu, Panangian menambahkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan pasar perumahan di setiap negara memiliki siklus berbeda, tak terkecuali Indonesia di mana siklus pasar perumahan selalu mengikuti siklus tingkat suku bunga. Siklus-siklus ini meliputi siklus pasar penjual (seller’s market), pasar lembut (soft market), pasar pembeli (buyer’s market) dan pasar lemah (weak market). Gelombang siklus pasar perumahan ini bisa berulang seperti siklus tingkat suku bunga.

Sedangkan melihat pertumbuhan bisnis properti yang selalu meroket setiap tahunnya, Panangian menyarankan agar di tahun ini sebaiknya difokuskan pada pembelian karena pergerakan bunga kredit perbankan telah memicu peningkatan permintaan dari masyarakat sekaligus menambah pasokan oleh pengembang, khususnya landed house.

Namun, di sisi lain, Panangian justru mengkhawatirkan kondisi di mana akan terjadi peningkatan harga baja dan semen semakin berpengaruh terhadap sektor properti. Dampaknya semakin jelas, yaitu melonjaknya harga-harga properti di dalam negeri.

Sehingga, menurutnya, pemerintah harus menjaga kestabilan harga bahan material untuk mempertahankan pertumbuhan sektor properti. Lebih lanjut ia menjelaskan, sektor perbankan diharapkan memperhatikan prinsip kehati-hatian agar kredit pemilikan rumah (KPR) diberikan memang bagi mereka yang layak untuk menerima pinjaman. – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *