Amkri Solo-PUM Benahi Industri Mebel

JO, Solo – Pengusaha mebel Indonesia akan mudah memenuhi kebutuhan mebel orang-orang Eropa. Pasalnya, mereka, khususnya orang Belanda, tidak “neko-neko” dalam memilih mebel, baik bentuk maupun desain.
“Orang Belanda kalau membeli mebel itu seperlunya, bentuknya minimalis, dan back to nature,” Gijs Boelaars, dari Netherland Senior Expert (PUM).

Kehadiran Gijs Boelaars atas kerja sama PUM dengan Asosiasi Mebel dan Kerajinan Kayu Indonesia (Amkri) Surakarta. Di Kota Bengawan, dia dan tim dari PUM diminta memperbaiki performa/kinerja sejumlah perusahaan mebel. Selain memberi workshop, ahli desain mebel dan manajemen itu juga meninjau langsung beberapa perusahaan mebel.

Menurut dia, kondisi perusahaan mebel di Surakarta berbeda-beda. Ada yang desainnya bagus tapi manajemennya perlu perbaikan. Begitu sebaliknya, ada yang manajemennya dan jaringannya luas tapi desain dan modelnya kurang bagus. Ada pula kedua-duanya, baik manajemen maupun desainnya kurang bagus.
Dalam pendampingan dan workshop, kata Biyp Mukhsen Ketua Bidang Kayu Solid Amkri Solo, Gijs Boelaars hanya memberi tips dan arahan dalam bentuk matriks.

Pemilik perusahaan diminta menyelesaikan permasalahan sendiri. Sebab, kondisi masing-masing perusahaan berbeda-beda. Menurut Mukhsen, PUM tidak hanya memberi pendampingan, tapi juga membuka akses pasar ekspor mebel, khususnya ke Belanda. Tapi AS masih menjadi primadona ekspor mebel, meski belakangan banyak muncul permintaan dari negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea.

“Yang perlu diwaspadai adalah mebel Vietnam. Dengan desain dan kualitas yang sama, harganya jauh lebih murah,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Amkri Solo Rining Nur Farida mengatakan, para pengusaha mebel dan kerajinan di Solora sepakat membentuk forum komunikasi. Anggota forum tidak hanya pengusaha mebel dari Asmindo dan Amkri, tapi juga asosiasi lainnya. Seperti Asephi, Asos, dan Bengkor. – tyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *