Morning Tea – Rembug Pariwisata Penuh Keakraban

Stake holder pariwista di kota Solo foro bareng, usai mengikuti Morning Tea Asita Solo, di Arum Dalu Room, Riyadi Palace Hotel. Sabtu (19/3/2016)

JO, Solo – Untuk mengelola ataupun me-maintenance pariwisata sesungguhnya bukan hanya menjadi tugas dan kewajiban pemerintah melalui dinas terkaitnya. Namun, keberadaan dan peran dari stake holder pariwisata mutlak diperlukan. Di antaranya Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Tour dan Travel Pariwisata (Asita), sejarawan, seniman, kluster batik, Event Organizer (EO), pusat oleh-oleh atau suvenir, dan sebagainya.

Peranan para stake holder, pelaku pariwisata untuk bersama-sama menumbuhkan iklim dan situasi yang kondusif bagi wisatawan, terlihat melalui kegiatan Morning Tea yakni sebuah kegiatan rutin membahas segala sesuatu tentang pariwisata dan isu-isu yang sedang berkembang dikota Solo.

Melalui Morning Tea yang digelar setiap bulan sekali tersebut, biasanya para stake holder pariwisata Solo akan berkumpul bersama di suatu tempat. Tempat ini secara sukarela diupayakan bersama oleh para anggota stake holder secara bergiliran.

“Morning Tea rutin dan ada sejak 2009 lalu. Untuk setiap kali pelaksanannya ada sekitar 70 orang dari berbagai perkumpulan yang diwakilinya,” terang Daryono, Ketua Asita, usai pelaksanaan Morning Tea di Riyadi Palace Hotel. Sabtu (19/3/2016)

Namun demikian diakui Daryono, bahwa kesadaran tentang pentingnya Morning Tea masih rendah, sehingga kadang yang datang tidak maksimal. Apalagi ini juga bukan keharusan.

“Kami mengundang mereka melalui telepon, SMS atau juga faks,” tambah sekretaris Asita, NHS Dewojono yang juga konseptor Morning Tea.

Belum banyak disadari bahwa kegiatan ini banyak manfaat yang bisa diperoleh. Karena seluruh stake holder pariwisata Solo berkumpul. Dimana sejumlah ide, harapan, target, kendala dan hambatan terkait dengan pariwisata di Solo ini akan muncul dari sharing penuh keakraban. Selain menyikapi tentang kebijakan pemerintah kota.

AsitaBProgram Asita Solo Fair menjadi topik bahasan dibulan ini. Namun sebetulnya sejauh ini sejumlah isu dan permasalahan pernah dibahas diforum ini, di antaranya mengenai perang tarif hotel, perkembangan parwisata secara global di eks-Karesidenan Surakarta, badan promosi pariwisata, pemetaan objek wisata.

“Selain menampung sejumlah ide dan membahas isu, dalam Morning Tea selalu menghadirkan pula keynote speaker, praktisi dan para ahli di bidangnya. Kedepan untuk lebih greget, kami gandeng relawan Solo yang tergabung dalam #kotasolo, biar tidak monoton,” tutup Daryono.

Industri pariwisata Solo kini semakin geliat, pasalnya pemerintah Kota Solo begitu gencar mempromosikan daerahnya. Tentunya melalui sejumlah gelaran event yang momentuman atau menjadi agenda rutin. Sebut saja di antaranya Solo Culinary Festival, Java Expo dan  Solo Batik Carnival, kini menjadi event yang dimaksimalkan kemasannya agar bisa mendatangkan wisatawan nusantara maupun mancanegara lebih banyak lagi.- eno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *