Sikapi Pro Kontra Perppu 2/2017 Tak Perlu Anarkis !

Bincang Santai Kebangsaan-Beda Tapi Satu Jaringan Lintas Kultural digelar di RM Wong Ndeso Mbak Yun, Banjarsari Solo. Jumat (18/72017)

JATENGONLINE, SOLO – Pro-Kontra Perppu No. 2 Tahun 2017, Pemerintah RI telah membubarkan enam ormas yang dipandang telah melanggar spirit dan nilai-nilai Pancasila dan Konstitusi UUD 1945.

Sejak dikeluarkannya Peratuan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Republik Indonesia No. 2 Tahun 2017 tentang perubahan Undang-Undang No. 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan telah memantik pro-kontra di kalangan masyarakat, baik masyarakat elit, termasuk anggota parlemen, pemimpin ormas, tokoh agama, akademisi, maupun masyarakat bawah atau akar rumput.

Kelompok yang kontra berpandangan atau berargumen bahwa Perppu tersebut (1) menunjukkan watak otoriter pemerintah Joko Widodo yang bisa membahayakan bagi otonomi masyarakat dan masa depan bangsa dan negara, (2) telah memberangus kebebasan berekspresi dan berserikat masyarakat yang juga digaransi oleh Konstitusi UUD 1945, (3) bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi yang menjadi “ruh” Bangsa dan Negara Indonesia, dan (4) berpotensi untuk disalahgunakan oleh rezim penguasa baik sekarang maupun di masa datang guna melarang ormas-ormas yang dipandang oleh pemerintah telah bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Sementara itu kelompok yang pro (baik elite maupun masyarakat bawah) berpendapat bahwa Perppu tersebut dibuat karena dilatari oleh spirit untuk, antara lain, merawat kebhinekaan dan kebangsaan serta menjaga toleransi dan hak-hak sipil masyarakat yang selama ini dirusak oleh sejumlah kelompok radikal-intoleran.

Mereka juga berargumen bahwa kebebasan dan demokrasi itu ada batasnya, tidak bisa dibiarkan berkembang liar yang justru akan menodai dan merusak spirit kebebasan dan nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Sementara pro kontra menyuarakannya lewat demo dengan turun ke jalan, namun Jaringan Lintas Kultural (JLK) duduk bersama dalam “Bincang Santai Kebangsaan” – Berbeda Tapi Satu, sebagai upaya membendung gerakan disintegrasi bangsa akibat terbitnya Perppu 2/2017 itu, karena diyakini dapat diselesaikan dengan sikap yang dewasa tanpa merusak tatanan bangsa Indonesia yang nasionalis dan religius.

Koordinator JLK, Sofwan Faisal Sifyan menjelaskan, sikap pro dan kontra Perppu ormas tersebut sudah terjadi di tengah masyarakat. Bahkan sekelompok masyarakat di kota Surakarta menyampaikan keberatan atas diterbitkannya Perppu tersebut. Merasa kondisi yang dari hari ke hari sedemikian pelik, sehingga diperlukan cara untuk mengembalikan kondisi ketenteraman di masyarakat.

“Dengan mengajak duduk bersama, berdialog untuk mengetahui secara jelas bagaimana dan langkah apa yang baiknya diambil. Karena kalau berlarut-larut bisa mencederai bhineka tunggal ika yang sudah solid,” ungkap Faisal, disela acara yang diselenggarakan di RM Dapur Ndeso Mbak Yun Mangkubumen Solo, Jumat (28/7/2017).

Kebhinekaan adalah takdir kita sebagai bangsa Indonesia yang harus disyukuri dan dipelihara untuk kelangsungan bernegara. Jangan sampai dengan munculnya masalah ini bisa menggoyahkan nilai pancasila. Mari lupakan perbedaan, kita terus maju jangan tercerai berai karena beda pendapat soal Perppu, prolog Faisal mengawali acara.

Sementara komitmen untuk tetap menjaga persatuan dalam bingkai ‘Beda Tapi Satu’ disampaikan oleh para narasumber yang hadir dalam perbincangan itu sesuai dengan pandangan masing-masing.
Sholahuddin Aly. SH (PW Ansor Jateng)
“Apabila rasa persaudaraan sudah tertanam dalam hati pribadi setiap muslim maka otomatis akan timbul rasa kasih sayang dan saling membantu satu sama lainnya tatkala mendapat kesulitan dan kesusahan”

Suprapto, S.Th.I, M.P.I (Ketua Div. Pendidikan MTA)
“Indahnya kebersamaan, itulah kata yang pantas untuk umat Islam. Karena dengan kebersamaan, akan terbentuk persatuan dan lahirlah sebuah kekuatan. Terjalinnya rasa persaudaraan sesama muslim adalah sesuatu yang agung dan mampu menciptakan suasana yang harmonis serta selaras”

Pendeta Rut Ratika Dewi S. Pd. K (GPdI Kemah Daud – Sukoharjo)
“Semua agama mengajarkan perdamaian, semua masyarakat harus saling menghargai, tidak perlu saling bermusuhan jika harus berbeda pendapat, Bhineka Tunggal Ika jangan hanya jadi slogan semata, namun perlu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari”

Haryani Saptaningtyas, SP.MSc (Persemaian Cinta Kemanusiaan – Salatiga)
“Islam itu indah, seindah dan semulia pribadi-pribadi muslim yang selalu siap membantu saudaranya. Kebersamaan dan silaurahmi (ukhuwah Islamiyah) di dunia yang hanya sementara ini akan berubah menjadi kebersamaan yang abadi kelak di akhirat dalam naungan safa’at dan ridho-Nya jika kita menjalankan roda kehidupan ini sejalan dengan ajaran Allah SWT dan Rasulnya”

Ratusan delegasi Lintas Kultural diantaranya dari Perwakilan Tokoh Lintas Agama, Ormas Kepemudaan, Mahasiswa dan Mahasantri, Pelajar dan Santri hadir dalam “Bincang Santai Kebangsaan” tersebut. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *