Daya Beli Menurun, Properti Solo Raya Terpuruk

JATENGONLINE,  SOLO – Sektor properti di Solo Raya mengalami keterpurukan berimbas dari penurunan daya beli masyarakat. Bahkan dalam kurun waktu 6 bulan terakhir banyak developer yang tidak mampu melakukan penjualan satu unit rumah pun.

Khusus untuk rumah tinggal komersial mengalami penurunan penjualan yang sangat signifikan. Ini disebabkan karena penurunan daya beli masyarakat Solo Raya akhir-akhir ini yang mengalami penurunan.

Sektor properti di Solo Raya mengalami stagnasi. Padahal dari sisi regulasi, saat ini semuanya sudah cukup longgar. Mulai kebijakan LTV yang diturunkan hingga suku bunga murah.

“Kebijakan Bank Sentral Indonesia tidak memberikan efek untuk mendorong minat masyarakat dalam membeli rumah, penjualan perumahan tidak mengalami kenaikan.” ucap Susanto, Founder Keller Williams Solo Jogja. Minggu (6/8/2017).

Di wilayah Solo Raya, daya beli erat korelasinya dengan harga komoditas. Dan, optimisme masyarakat untuk memiliki rumah menurun saat ini. Berbeda dengan saat dimana harga komoditas mengalami kenaikan di akhir tahun kemarin.

Stagnasi pada harga komoditas saat ini dinilai akan membuat banyak masyarakat kembali mempertimbangkan untuk membeli rumah. Terlebih saat ini adalah bulan dimana orang tua fokus memenuhi kebutuhan anak sekolah setelah sebelumnya kebutuhan lebaran.

“Dimana ada banyak masyarakat yang membutuhkan likuiditas guna memenuhi kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri, kenaikan kelas, mencari sekolah ke jenjang lebih tinggi,” ujar Susanto

Bisa dipastikan permintaan rumah komersial tidak akan naik hingga semester ini. Penjualan perumahan komersial akan terus melambat jika daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Meskipun tidak semua tipe rumah mengalam penurunan yang tajam.

Sedangkan untuk tipe rumah 36 subsidi pemerintah (FLPP), justru masih mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan yang sangat bagus. Hal ini ditopang oleh banyaknya bantuan yang diberikan pemerintah untuk memiliki rumah subsidi tersebut. Termasuk keringanan bunganya yang hanya 5% per tahun

“Hanya saja rumah subsidi ini kan tidak tersedia di kota. Letaknya di luar kota. Jadi memang masyarakat harus mencari alternatif yang pas untuk mencari rumah tersebut,” tutupnya. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.