Bank Klaten Siapkan Kepemimpinan Unggul Berbasis Coaching

Direktur Amalia Consulting, Suharno, memandu workshop “Membangun Pribadi Unggul Berbasis Coaching” yang digelar PD BPR Bank Klaten, Sabtu (2/2/2019), di Kantor Pusat Bank Klaten.

JATENGONLINE, KLATEN – Mengelola usaha di era disrupsi seperti saat ini, organisasi bisnis harus merespon cepat dan tepat. Salah satu kunci penentu keberhasilan bisa bertahan dan berkembang adalah Sumber Daya Manusia (SDM).

“SDM harus memiliki kepribadian unggul. Mampu memikirkan, merancang dan mewujudkan visi personal dan organisasi,” ungkap Direktur Amalia Consulting, Suharno, saat menjadi fasilitator workshop “Membangun Pribadi Unggul Berbasis Coaching” yang digelar PD BPR Bank Klaten, Sabtu (2/2/2019), di Kantor Pusat Bank Klaten.

Lebih lanjut, Suharno, dihadapan 31 pimpinan Bank Klaten menyatakan, salah satu metode yang tepat menghadapi era disrupsi yang juga bertepatan dengan era milenial dengan menerapkan kepemimpinan berbasis coaching.

“Gaya kepemimpinan konvensional dengan cara menasihati, mendikte dan memerintah anak buah maupum rekan kerja, sudah tidak cocok lagi diterapkan,” papar Suharno yang juga dosen akuntansi dan MM Unisri.

Dalam coaching. Kedudukan pimpinan dan anak buah setara. Pimpinan harus bisa memberdayakan potensi personal dan profesional secara kreatif. Melalui proses mendengarkan dan mengajukan pertanyaan yang tepat.

Direksi PD BPR Bank Klaten, Dewi Eko Sari, saat menutup workshop mengatakan workshop sengaja diadakan awal tahun agar bisa mengukur efektivitas kegiatan.

Situasi simulasi coaching “Membangun Pribadi Unggul Berbasis Coaching” yang digelar PD BPR Bank Klaten, Sabtu (2/2/2019), di Kantor Pusat Bank Klaten.

“Indikator keberhasilan workshop hari ini, salah satunya diukur dari pencapaian target Rencana Bisnis Bank (RBB) 2019. Target RBB 2019 harus tercapai, syukur bisa di atas target,” harapnya.

Selanjutnya, Dewi Eko Sari juga menyampaikan workshop juga untuk mempersiapkan alih generasi Bank Klaten. Dari generasi X yang sebagian telah memasuki masa pensiun, ke generasi Y atau melenial.

“Dalam masa transisi ini gaya dan model kepemimpinan juga harus berubah. Kami sependapat dengan fasilitator bahwa gaya dan model kepemimpinan yang tepat adalah berbasis coaching,” pungkasnya (arn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *