Keberhasilan Siswa Merupakan Keberhasilan Orang Tua

Siswa merupakan salah satu komponen yang terdapat dalam dunia pendidikan, selain guru, dan orang tua siswa sendiri. Sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya siswa.

Bahkan bisa dikatakan kalau sekolah tidak ada siswanya, maka dengan sendirinya sekolah akan ditutup. Itu artinya bahwa siswa adalah komponen yang pertama kali harus ada di sekolah. Selain itu orang tua juga harus mendukung dengan adanya anak disekolahkan di tempat yang diinginkan.

Tidak ada orang tua yang meninginkan anaknya menjadi anak yang nakal, tidak punya sopan santun atau unggah-ungguh dalam lingkungan keluarga. Bahkan tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya bodoh dan tidak mempunyai keahlian apapun. Doa orang tua tidak ada hentinya sampai kapanpun untuk anaknya. Bahkan orang tua mengharapkan anaknya lebih pandai dan lebih sukses dalam kehidupan yang akan datang. Orang tua tidak rela anaknya sakit, bahkan mereka rela menggantikan sakit anaknya berpindah kepadanya. Itulah orang tua yang sebenarnya, sangat mempedulikan anaknya.

Tetapi ada sebagian orang tua yang tidak peduli dengan anaknya. Mereka sebagai orang tua hanya menyerahkan anaknya dididik oleh gurunya di sekolah. Mereka mengganggap bahwa sekolah harus bertanggung jawab dengan pendidikan anaknya sekaligus perilaku anaknya.

Bahkan mereka sebagai orang tua mengharapkan anaknya mempunyai karakter yang baik tanpa orang tua ikut berperan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Siswa akan berhasil kalau ada dukungan dari orang tua dan ada peran aktif dari orang tua masing-masing.

Tidak mungkin anak hanya diserahkan kepada guru atau sekolah saja. Dukungan orang tua justru sangat bermanfaat bagi anak didik / siswa itu sendiri. Percuma guru mengajarkan kepada siswa agar mempunyai karakter yang baik sedangakan orang tua tidak mejadi contoh di saat siswa itu berada di rumah.

Kalau anak sudah dibiasakan di rumah itu mempunyai karakter yang baik maka sudah otomatis perilaku itu akan terbawa sampai di sekolah. Tetapi sebaliknya kalau anak di rumah tidak dibiasakan melakukan kebaikan dalam arti perilaku sebagai seorang pelajar maka tidak aneh kalau anak tersebut juga akan menjadi penghalang terlambatnya proses pembelajaran.

Sebagai contoh satu kelas yang berjumlah 32 siswa, kemudian ada satu saja anak yang nakal atau berulah terus di dalam kelas, maka kelas akan menjadi terganggu. Tidak mungkin sebagai guru hanya akan diam saja mendapati anak yang nakal atau berulah di dalam kelas. Paling tidak tetap diberi peringatan untuk tidak berbuat nakal atau diberi sanksi untuk mengerjakan tugas khusus.

Dengan tujuan anak tersebut menjadi jera dan tidak mengulangi perilaku yang kurang baik dan mengganggu kelancaran dalam proses belajar mengajar.

Biasanya kalau memang anak tersebut melakukan hal-hal di luar kewajaran sebagai seorang pelajar misalnya ; berbicara kasar atau kotor, menantang teman atau bahkan guru, dll. Maka guru tidak segan-segan untuk menyuruh siswa tersebut membuat surat pernyataan yang intinya telah melakukan kesalahan / kekeliruan dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi diketahui oleh orang tua.

Menurut pengamatan kami sebagai guru, hal ini kadangkala orang tua ada yang merasa legawa, ikhlas untuk langsung menanyakan anaknya dan memberitahu agar tidak diulangi lagi. Tetapi kadangkala ada orang tua yang tidak legawa/ tidak mau menerima kalau anaknya itu nakal/ berulah. Mereka beranggapan bahwa kalau di rumah anak tersebut pendiam, tidak suka dolan bahkan memegang hapepun tidak pernah.

Karena alasan itulah akhirnya orang tua tersebut langsung ke sekolah untuk menanyakan yang sebenarnya. Ketika sudah dibuktikan bersama saksi dari temannya yang menyatakan kebenarannya, barulah orang tua tersebut menerima dengan lapang dada. Itulah bukti bahwa orang tua juga harus mendukung keberadaan anaknya dalam mencari ilmu.

Saat- saat Penilaian Akhir Semester melihat anak-anak / siswa yang santai dalam mengerjakan soal mestinya juga harus ada perhatian dari orang tua. Pada saat PAS anak-anak dihimbau untuk selalu memohon maaf kepada orang tua atau yang lebih tua, kemudian memohon doa agar supaya dalam mengerjakan soal bisa lancar dan benar, tentu saja dilakukan dengan jujur artinya tidak menyontek teman.

Hal ini agar orang tua bisa memahami kalau PAS itu memang harus diperlakukan dengan berbeda. Misalnya yang biasanya diminta untuk membantu tugas yang banyak, maka di waktu PAS pekerjaan membantu bisa sedikit dikurangi. Juga untuk masalah yang lain, misalnya waktu dolan, main hape, nonton TV atau yang lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran, tidak dilakukan lagi.

Di sinilah peran orang tua yang harus dilakukan agar anaknya bisa mengerjakan tugas dengan maksimal, sehingga kalau sudah maksimal nilai akan baik dan orang tua akan merasa bangga dengan keberhasilan anaknya.

Mustahil kalau orang tua tidak akan memperlakukan anak dengan kondisi yang berbeda di saat pelajaran biasa dan PTS / PAS. Karena dalam waktu satu minggu anak-anak khusus hanya mengerjakan soal-soal saja dan langsung dijawab tanpa membuka buku materi apalagi bertanya temannya.

Dalam hal ini anak-anak harus bertanggungjawab dengan hasilnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak sedikit anak yang kelabakan dalam mengerjakan soal-soal, bingung menunggu jawaban dari temannya bahkan ada yang hanya santai semau gue saja.

Semua orang tua sangat mengharapkan anaknya bisa berhasil sesuai yang diharapkan, tetapi kadangkala orang tua lupa kalau anaknya itu juga bersosialisasi dengan teman-teman yang nota bene dari kalangan yang berbeda. Ada teman yang bisa mengajak ke jalan yang benar tetapi ada juga teman-teman yang mengajak dalam kesesatan. Dari sini orang tua juga dituntut harus memahami dengan lingkungan masyarakat, terutama lingkungan anaknya sendiri.

Tidak semua orang tua mendidik anaknya dengan baik dan benar. Karena banyak orang tua yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Rasa capek, rasa lelah muncul ketika sudah berada di rumah. Dengan kondisi seperti inilah biasanya orang tua tidak ada kesempatan untuk mengetahui kondisi anaknya. Yang mereka ketahui kalau anaknya sudah diam itu artinya tidak terjadi apa-apa. Itu sebagian pendapat orang tua jaman sekarang.

Anak-anak yang terlihat diam di rumah, belum tentu tidak mempunyai masalah. Justru sebaliknya, anak-anak diam di rumah takut kalau akan menyampaikan sesuatu kepada orang tuanya. Takut mengganggu orang tuanya, takut salah, takut dimarahi dan perasaan takut yang lainnya. Melihat orang tua yang sudah capek bekerja mencari uang, merasa terganggu.

Kalau jujur kepada orang tuanya saja sudah takut, maka tidak aneh kalau anak akan lari ke orang lain untuk mencurahkan isi hatinya. Akan menjadi lebih baik kalau yang diajak bicara itu orang baik-baik, tetapi bagaimana kalau yang diajak bicara itu bukan orang yang baik?

Perlu diketahui bagi orang tua masa kini, bahwa anak-anak merasa tidak dipedulikan lagi oleh orang tuanya. Orang tua lebih bahagia dan tenang kalau sudah memegang hape. Ini cerita jujur dari anak-anak jaman sekarang. Anak-anak merasa jarang dibelai, dielus seperti dulu lagi. Padahal mereka sebagai anak-anak masih banyak sekali yang membutuhkan belai dan kasih sayang dari orang tuanya.

Kalau belaian dan elusan kasih sayang dari orang tua sudah tidak ada sama sekali, maka anak-anak mencari belaian dan kasih sayang dari orang lain. Bahkan anak-anak sudah tidak peduli dengan siapa mereka mendapatkan kasih sayang itu, yang penting mereka bisa tenang dan nyaman di luar pantauan dari orang tuanya.

Bahkan yang sangat memprihatinkan lagi, anak-anak merasa kebutuhannya bisa dikalahkan dengan keinginan orang tua. Misalnya kebutuhan anak sekolah dikesampingkan dan lebih mengutamakan pulsa untuk sekedar hoby orang tua dalam bersosial media. Inilah salah satu tantangan bagi orang tua. Perhatian terhadap anaknya sudah berkurang karena adanya hape.

Kepedulian kepada anaknya juga sudah tidak ada lagi. Orang tua sudah tidak mengetahui isi tas anaknya. Mereka tidak tahu barang-barang yang dibawa anaknya ke sekolah. Saya yakin orang tua tidak tahu kalau isi tas anak perempuannya yang menginjak remaja itu berupa make up lengkap. Untuk apakah benda-benda seperti itu bagi anak usia menginjak remaja dibawa ke sekolah?

Dengan penjelasan seperti tersebut di atas, alangkah hebatnya orang tua jaman sekarang bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Saya yakin tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya bermoral bejat, tidak mempunyai karakter / kebiasaan yang baik. Bukankah orang tua mengharapkan anaknya untuk mikul dhuwur mendhem jero ( menjunjung tinggi derajat orang tua / menjaga nama baik orang tua ). Bagaimana menurut anda sebagai orang tua???.

Ditulis : Sri Suprapti. Guru SMP Negeri 8 Surakarta, No. HP. 081329405977

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *