Sadranan, Tradisi Jawa Sarat Makna

JATENGONLINE, KLATEN – Tradisi sadranan (nyadran) tentunya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat yang masih nguri-uri tradisi leluhur yang turun temurun ini, bahkan sangat melekat di telinga orang Jawa, khususnya di daerah Klaten, Jawa Tengah dan sekitarnya.

Nyadran biasanya dilaksanakan saat menjelang bulan Ramadan, lebih tepatnya pada tanggal 15 Ruwah (Sya’ban) hingga akhir bulan, sebagai salah satu wujud persiapan diri secara lahir dan batin dalam menghadapi bulan suci Ramadan.

Pada acara Sadranan ini setidaknya ada beberapa hal penting yang di perhatikan, yakni mulai dari Ziarah Kubur, Silaturahmi dan Shodaqoh.

Masyarakat saat ziarah kubur leluhurnya di kompleks makam Ki Ageng Barat Ketigo, Desa Sidokerso, Ceper, Klaten. Minggu (21/4/2019)

Ziarah Kubur ke makam para leluhur dan keluarga, dan sadranan sebagai wahana untuk melestarikan ziarah kubur. Dimaksudkan melalui pelaksanaan ziarah tersebut bukan bertujuan menyembah para arwah atau mengkultuskannya. Tetapi untuk mendo’akan para leluhur yang telah mendahului serta untuk mengingat akan kematian, sehingga salah satu hikmahnya adalah untuk mengikis rasa kesombongan yang akan menyadarkan kita bahwa hidup di dunia hanya bersifat sementara.

Ziarah kubur mengingatkan pada kehidupan yang hakiki nan abadi yaitu akhirat. Ziarah kubur juga mengingatkan kita kepada apa yang telah nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam laksanakan.

Hadits Abu Hurairah ra :
Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah Saw menziarahi kuburan ibunya, kemudian menangis, dan tangisan itu membuat menangis orang-orang yang ada di sekitarnya, lalu bersabda, “Aku mohon izin (kepada) Tuhanku untuk memohonkan ampun untuknya, namun Dia tidak mengizinkan. Kemudian aku memohon izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya, maka aku dizinkan. (Oleh karena itu) berziarah kuburlah, karena ia bisa mengingatkan kepada kematian.” (HR Muslim [1622], Nasa’i [2007], Abu Dawud [2815], Ibnu Majah [1558/1561], Ahmad [9311]).

Hadits Abu Hurairah ra :
“Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah Saw berziarah ke kubur seraya berdoa: “Semoga keselamatan bagi kalian, penghuni rumah kaum mukmin, dan insya Allah kami akan menyusulmu kemudian.” (HR Muslim [367], Bukhari [2367], Nasa’i [150], Abu Dawud [ 2818], Ibnu Majah [3296], Ahmad [7652/8523/8924], Malik [53]).

Maka dari itu ziarah kubur harus selalu dilestarikan, salah satunya melalui acara sadranan.

Warga Masyarakat di Lemah Ireng, Ceper, Klaten saat berkumpul bersama di joglo pertemuan warga, untuk berdoa bersama dalam acara sadranan. Minggu (21/4/2019)

Silaturahim
Dalam Sadranan adalah sebagai wahana untuk menjalin hubungan silaturahim baik dengan keluarga atau warga setempat. Saat sadranan para kerabat bisa berkumpul menjadi satu, dan juga ada interaksi dengan masyarakat setempat. Maka hilanglah semua sekat yang ada. Di sini sadranan merupakan salah satu wahana untuk mempererat tali silaturahim dan saling memaafkan, untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah.

Masyarakat Nggebang, Lemah Ireng, Ceper sedang mengatar sedekah ke Joglo Pertemuan warga, selanjutnya akan di doakan kemudian dibagikan kembali ke warga masyarakat. Minggu (21/4/2019)

Sedekah
Sadranan adalah juga sebagai wahana untuk saling berbagi atau shadaqah-an (Jawa: Selametan). Dalam acara tersebut, setiap keluarga atau Kepala Keluarga (KK) dianjurkan untuk membawa nasi beserta lauknya dengan tidak ada batasan tertentu. Jadi sesuai kemampuan masing-masing, itu pun tidak wajib. Kemudian ditukar dengan yang lain setelah acara inti.

Lain desa lain pula modelnya dalam penyajian sedekahannya, di sinilah letak kekayaan budaya yang sangat beragam yang ada ditengah masyarakat kita.

Berkaitan dengan selametan, Gus Dur dalam bukunya “Menggerakkan Tradisi” telah menjelaskan: Bahwa “Dari sebuah teori yang ditemukan Clifford Geertz dalam tradisi orang Jawa di saat ketidakmampuan tanah untuk menyokong usaha-usaha peningkatan Hasil pertanian – tahapan yang oleh Geertz disebut sebagai taraf agricultural involution atau stagnasi – memerlukan adanya suatu bentuk pembagian produk pertanian, yang dihasilkan melalui cara-cara yang ekonomis dan sarana-sarana kultural. Pembagian ini tercermin lebih jauh dalam tradisi selametan, yaitu orang kaya memberikan makanan bagi para tetangganya beberapa kali dalam setahun, sesuai dengan siklus peristiwa-peristiwa yang telah terjadwal dan dihormati selama berabad-abad”.

Dalam teori Geertz sangat jelas bahwa bershadaqah dan saling berbagi (Jawa: selametan) akan bisa meningkatkan hasil pertanian. Dari sini bisa difahami bahwa pada hakikatnya bershadaqah bukannya mengurangi harta tapi sebaliknya harta akan semakin bertambah. Ini adalah selaras dengan ajaran Islam bahwa kita dianjurkan untuk selalu bershadaqah.

Sedekah yang dikeluarkan oleh masyarakat saat sadranan

Dalam tradisi selametan (sedekahan) perlu ditegaskan bahwa tidak ada makanan apa pun bentuknya yang dipersembahkan untuk para arwah, karena hal ini akan mengarah kepada kemusyrikan. Makanan, buah-buahan atau minuman yang dibawa ke acara sadranan adalah murni untuk saling berbagi dengan yang lain bukan untuk persembahan.

Itulah beberapa poin penting dalam acara tradisi sadranan. Sedangkan proses sadranan itu sendiri memiliki rangkaian acara yang berbeda-beda, sesuai desa atau daerah masing-masing.

Kalau tradisi Sadranan ini di Desa Sidokerso, Ceper, Klaten, Minggu (21/4/2019), yang dilaksanakan di Pemakaman Ki Ageng Barat Ketigo, yang sudah berjalan sejak nenek moyang. Dimana, pada hari Sadranan keluarga yang mempunyai leluhur yang dimakamkan di pemakaman ini, datang di makam dengan membawa makanan untuk dibagikan pada anak-anak dan mereka yang mengikuti prosesi yang ada dimakam. Yang sebelumnya diawali acara dzikir dan do’a bersama yang dipimpin oleh seorang modin.

Pada bulan Ruwah, hari-hari sebelum sadranan keluarga melakukan bersih-bersih di makam. Rerumputan yang tumbuh di sekitar batu nisan makam dibersihkan. Biasanya sesudah bersih-bersih makam kemudian kemudian ‘nyekar’ dengan bunga mawar yang ditaruh di atas batu nisan makam keluarganya.

Tradisi sadranan akan terus dilestarikan, karena sadranan merupakan tradisi atau budaya yang adi luhung. Ini merupakan rasa hormat pada leluhur yang telah meninggal. Kebiasaan atau tradisi ini merupakan hal positif yang mesti dilestarikan, dan diwariskan pada generasi muda.

Ragam acara melambangkan variasi tradisi, dan beda desa atau kecamatan, beda juga model acara penyajiannya. Yang pasti 3 hal di atas yaitu Ziarah makam, silaturahim dan sedekah ada dalam rangkaian acara sadranan di beberapa daerah di tanah air.

Ada juga yang malamnya disambung dengan acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Untuk melestarikan budaya wayang supaya tidak punah.

Itulah sekilas tentang acara sadranan beserta esensinya, khususnya di daerah Desa Sidukerso, semoga menjadikan kita kaya akan pengetahuan dan budaya. Serta kita berharap untuk bisa menjaga agar acara tradisi sadranan terbebas dari hal-hal yang bersifat negatif. Semoga ! (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *