Peran Generasi Milenial Membendung Radikalisme Di Kalangan Anak Muda

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Pada periode tahun 2020-2038 penduduk yang digolongkan sebagai generasi milenial lebih mayoritas bila dibandingkan kategori yang lain, sehingga berperan menjadikan apa wajah negeri ini.

Generasi milenial adalah kunci keadaan negeri ini, oleh karena itu sangat krusial memahami mereka bagi kepentingan kemaslahatan bangsa dan negara. Secara sederhana generasi milenial dipahami sebagai mereka yang lahir pada tahun 1980-2000,” papar Pdt. Abednego Utomo Prasetyo, S.Th. Gembala Gereja Injili Di Tanah Jawa Pati Jateng, saat dialog kebangsaan dengan tema : “Peran Generasi Milenial Membendung Radikalisme Di Kalangan Anak Muda” yang bakal digelar di RM Bu Marni Gatak Sukoharjo, Jumat (26/7/2019)

Dilanjutkannya, generasi milenial berpikir kritis, terbuka, melek informasi, berkomunikasi tanpa batas dan menggali informasi dari internet. Artinya karakter milenial rentan dengan paparan paham radikalisme, sebab kelompok ini sangat memanfaatkan dunia maya menyebarkan fahamnya.

“Jadi generasi milenial diarea tertentuadalah sasaran perang, pemaparan apa saja juga radikalisme negatif,” imbuhnya.

Sementara peran generasi milenial dalam membendung radikalisme di kalangan anak muda yang disampaikan oleh Mantep Riyanto,.S.H. selaku Ketua Forum Komunikasi Lintas Kultural menjelaskan, di Zaman Now peran generasi milenial sangatlah diharapkan, untuk menjadi agen perubahan atau Agent of Change, meskipun dalam perjalanannya banyak halangan.

“Dunia saat ini sudah move on memasuki era milenials, dimana tehnologi berkembang sedemikian pesatnya dan menjadi lifestyle mereka, sehingga perlu selektif dan kehati-hatian dengan pengaruh medsos yang bisa mengakibatkan perubahan perilaku,” jelas Riyanto.

Adapun paparan materi yang disampaikan oleh Sahid Mubarok,.S.H. Ketua PC GP Ansor Sukoharjo, tentang Milenial Melawan Radikalisme, pada era saat ini kaum muda sudah mengalami pergeseran dan perubahan yang begitu drastis, disebut generasi milenial adalah kelompok demografis setelah Generasi X, yang memiliki karakter berbeda dari generasi pendahulunya.

“Bagi generasi milenial, internet adalah segalanya. Tanpa adanya koneksi ke internet, generasi ini tidak bisa apa-apa. Seolah dunia generasi ini terkekang oleh suatu limitasi tertentu yaitu internet,” papar Sahid.

Bagi generasi ini, lanjutnya, sosial media menjadi sumber utama dan referensi untuk mengakses informasi hingga sebagai rujukan belajar. Pengetahuan bisa diakses dalam hitungan detik, situs-situs belajar dan video dari para ahli dapat menjadi rujukan untuk belajar secara efektif.

“Disitulah rentanterjadi keslahan berpikir, bahkan mudah terkena virus radikalisme dan fundamentalisme, dibuktikan dengan banyaknya anak muda yang terlibat dalam terorisme,” tegasnya.

Ketua Lembaga Kajian Keislaman Al Hijroh, Fadhel Moubharok IF mengatakan, bahwa salah satu yang menjadi perhatian bersama adalah, masifnya ujaran kebencian di dunia maya. Ujaran kebencian inilah yang kadang ditelan mentah-mentah oleh sebagian pihak.

“Generasi muda diharapkan menjadi generasi yang aktif, harus memberikan kontribusi positif bagi negeri ini. Jangan mau menjadi generasi pasif, yang bisa dipengaruhi oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan kedamaian di negeri ini.

Dialog Kebangsaan yang di selenggarakan oleh Lembaga Kajian Keislaman Al Hijroh yang dimoderatori Ki Janthit Sanakala selaku Ketua Forum Kebangsaan Solo Raya, berlangsung dengan lancar dan suasana cair, mengundang sedikitnya 150 peserta dari Perwakilan GP Ansor Sukoharjo, Banser Sukoharjo, Tokoh Masyarakat, Tokoh Lintas Agama, Ormas Keagamaan, Ormas Politik, Organisasi Kepemudaan, Mahasiswa dan Mahasantri, Pelajar dan Santri. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *