Kemendag Pacu Ekspor Produk Berbahan Kayu Ringan Kalteng

JATENGONLINE, PALANGKARAYA – Indonesia merupakan salah satu lumbung kayu ringan terbesar di dunia yang saat ini mulai populer digunakan untuk berbagai keperluan seperti furnitur bahkan sebagai bahan bangunan tinggi dan industri transportasi.

Masyarakat Eropa sejak beberapa tahun lalu mengalihkan perhatian dari kayu tropis (umumnya kayu keras) sebagai akibat keperdulian terhadap kelestarian lingkungan.

Alasan utama adalah waktu panen kayu ringan untuk diameter yang sama jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi kayu keras sehingga pasokannya dapat bersumber dari kayu budidaya. Sifatnya yang fleksibel, ringan, relatif tahan api dan anti rayap merupakan bahan yang ekonomis untuk berbagai aplikasi.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Marolop Nainggolan mengatakan, pihaknya berharap kegiatan ini dapat menstimulasi gairah industri kayu ringan dalam negeri untuk lebih berkarya dan mendapatkan inspirasi akan contoh pengaplikasian kayu ringan yang lebih modern dan futuristik di pasar global, seperti contoh aplikasi kayu ringan sebagai material bangunan 24 lantai HoHo Tower Vienna yang tahun ini akan dinobatkan menjadi World’s Tallest Wooden Skycraper.

“Selama ini kayu ringan, sering dikategorikan kayu sembarang atau kayu murah, hanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan panel bare core atau pengisi block board bernilai tambah rendah. Dengan memanfaatkan teknologi dan menyasar pasar yang tepat, kayu jenis ini akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda,” demikian dijelaskan Marolop Nainggolan.

Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan secara konsisten memacu kinerja ekspor Indonesia salah satunya melalui produk perkayuan.

“Sektor kayu telah menjadi fokus utama kami selama beberapa tahun terakhir ini karena Indonesia merupakan salah satu eksportir utama dunia dan sektor ini sejalan dengan hasil rakor Menko Perekonomian,” ujar Marolop Nainggolan.

“Kami fokus mengembangkan jenis kayu ringan khususnya sengon karena jenis kayu ini sebagian besar tumbuh di lahan masyarakat bukan di hutan alam, sehingga selain dapat menambah nilai ekonomis jenis kayu ini juga terhindar dari illegal logging” tambah Marolop.

Sehubungan dengan hal tersebut, Ditjen PEN melalui kegiatan forum “Pengembangan Potensi Ekspor Kayu Ringan Melalui Kerja Sama Dengan SIPPO, IPD Jerman, Fairventures dan Pemerintah Daerah”, pada tanggal 20 Agustus 2019 memfasilitasi para pelaku usaha kayu ringan di Provinsi Kalimantan Tengah guna memberikan informasi potensi peluang dan pengembangan kayu ringan di pasar dunia, khususnya Eropa.

Selain itu untuk mendapatkan masukan dan informasi langsung dari para NGO, Pemda dan pelaku usaha khususnya di provinsi Kalimantan Tengah. Pemilihan lokasi dengan alasan karena Pulau Kalimantan memiliki sumber daya yang kaya akan kayu dengan jenis beragam termasuk berbagai jenis kayu ringan.

Pemilihan pohon/ kayu jenis sengon karena adalah salah satu tanaman legum yang mampu menyerap emisi CO2 dan menyuburkan tanah dengan menambah nitrogen ke dalam tanah.

“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk tetap menjadi pemain ekspor utama di produk kayu, namun perlu mengembangkan produk inovatif melalui jenis kayu yang lebih ramah lingkungan antara lain jenis sengon yang hanya dapat tumbuh dengan baik di Indonesia”, ujar Marolop Nainggolan, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor.

“Saat ini produk yang dihasilkan sebagian besar adalah plywood dan barecore, namun ke depan kami akan mendorong inovasi produk lain dapat dihasilkan termasuk produk di sektor konstruksi dan furniture”, tegas Marolop.

Sementara Kepala Dinas Kehutanan, Sri Suwanto mewakili Sekda Prov. Kalteng dalam pembukaan menyatakan bahwa, potensi kayu ringan dari hutan alam pun di Kalimantan Tengah cukup besar, terutama berasal dari 57 unit HPH.

“Pemerintah daerah akan menyiapkan lahan untuk penanaman kayu sengon jika dibutuhkan,” pungkas Sri. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *