Peluang dan Potensi Pengembangan Kayu Ringan di Pasar Eropa

JATENGONLINE, PALANGKARAYA – Indonesia merupakan salah satu lumbung kayu ringan terbesar di dunia yang saat ini mulai populer digunakan untuk berbagai keperluan seperti furnitur bahkan sebagai bahan bangunan tinggi dan industri transportasi.

Masyarakat Eropa sejak beberapa tahun lalu mengalihkan perhatian dari kayu tropis (umumnya kayu keras) sebagai akibat keperdulian terhadap kelestarian lingkungan. Alasan utama adalah waktu panen kayu ringan untuk diameter yang sama jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi kayu keras sehingga pasokannya dapat bersumber dari kayu budidaya.

Sifatnya yang fleksibel, ringan, relatif tahan api dan anti rayap merupakan bahan yang ekonomis untuk berbagai aplikasi.

SIPPO (The Swiss Import Promotion Programme), IPD (The Import Promotion Desk) Jerman dan Fairventures merupakan NGO mitra kerja sama Kementerian Perdagangan dalam rangka meningkatkan ekspor produk kayu ringan ke seluruh dunia.

Lembaga-lembaga Non Pemerintah ini merupakan lembaga non profit yang memiliki program guna pengembangan produk, serta mengefektifkan rantai nilai antara pihak pemerintah, swasta, designer, produsen dan konsumen. Selain itu juga, mendekatkan rantai nilai tersebut agar bekerja sama dalam keberlanjutan dan kelestarian kayu ringan di Indonesia.

Peluang dan potensi pengembangan kayu ringan di pasar Eropa disampaikan langsung ke peserta diskusi melalui video conference oleh Frank Maul yang berada di Jerman, Frank merupakan tenaga ahli tren Market dan Sourcing dan dari IPD Jerman.

Disampaikan bahwa potensi penggunaan bahan baku kayu di Eropa semakin meningkat pesat, saat ini aplikasi produk kayu di Eropa khususnya Jerman sudah dipakai pada pembangunan gedung, hall dan jembatan. Di sektor otomotif kayu ringan juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan caravan.

Kebutuhan akan penggunaan kayu di dunia semakin meningkat khususnya jenis kayu yang ramah lingkungan. Sektor konstruksi mulai melirik jenis kayu ini karena lebih inovatif dan ekonomis. Diharapkan jenis kayu ini dapat lebih dipromosikan melalui aplikasi konstruksi seperti untuk pembangunan gedung dan jembatan. Pada forum diskusi tersebut juga dibahas mengenai potensi pemanfaatan produk kayu ini untuk pembangunan ibu kota baru yang akan dibangun di pulau Kalimantan.

Kementerian Perdagangan melalui Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional akan terus mengembangkan potensi kayu ringan ini antara lain melalui kegiatan buyers mission, konferensi internasional melalui ILCF (Indonesia Lightwood Cooperation Forum) yang akan mendatangkan buyer potensial dari Jepang, Korea, Australia dan Jerman pada tanggal 10-15 Oktober 2019 di Yogyakarta, Magelang dan Solo.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan menampilkan pula keunggulan kayu ringan di Indonesian Lightwood Pavillion pada tanggal 16-20 Oktober 2019. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *